Bisnis & Ekonomi

Rupiah Melemah, Wisman Bertambah saat Warga RI Menahan Liburan

0
×

Rupiah Melemah, Wisman Bertambah saat Warga RI Menahan Liburan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Lemah: Turis Berdatangan, Warga RI Tahan Liburan - Market

jurnalistik.co.id – Pelemahan rupiah yang terjadi pada awal kuartal II-2026 ikut terasa di sektor pariwisata dan perilaku konsumsi masyarakat Indonesia. Di tengah kondisi itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pola yang berlawanan antara arus wisatawan mancanegara dan pergerakan wisata warga negara Indonesia, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri.

Pada April 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman tercatat mencapai 1,25 juta kunjungan. Angka ini naik 14,75% dibandingkan Maret 2026 secara bulanan, sekaligus meningkat 7,22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu secara tahunan. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah pada periode itu ikut berkaitan dengan menguatnya daya tarik Indonesia di mata turis asing.

Di sisi lain, pergerakan wisatawan nusantara atau wisnus justru bergerak turun tajam. Wisnus, yakni Warga Negara Indonesia yang berpelesir di dalam negeri, tercatat 97,55 juta perjalanan pada April 2026. Jumlah itu turun 22,79% secara bulanan dan melemah 24,24% secara tahunan. Penurunan ini menandakan bahwa ruang gerak masyarakat untuk berwisata di dalam negeri pada bulan tersebut tidak sekuat bulan sebelumnya maupun periode yang sama setahun lalu.

Wisman naik, perjalanan domestik melemah

Pola yang sama juga terlihat pada wisatawan nasional atau wisnas, yaitu WNI yang melakukan perjalanan ke luar negeri. Dalam laporan BPS, jumlah perjalanan wisnas pada April 2026 turun dibandingkan bulan sebelumnya maupun tahun lalu. Kondisi rupiah yang melemah pada awal kuartal II-2026 menjadi latar yang memengaruhi keputusan masyarakat untuk menahan perjalanan, khususnya ke luar negeri yang umumnya lebih sensitif terhadap pelemahan mata uang domestik.

“Pada April 2026, jumlah perjalanan wisnas mencapai 643,66 ribu perjalanan, turun 18,85% dibandingkan dibandingkan Maret 2026, dan turun 30,54% dibandingkan April 2025,” sebut Laporan BPS. Dalam rangkaian data yang sama, BPS juga menyebut jumlah perjalanan wisatawan nasional tercatat turun 3,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut memperlihatkan tekanan yang dialami mobilitas warga Indonesia ke luar negeri pada bulan tersebut.

Jika dilihat secara keseluruhan, data April 2026 memperlihatkan kontras yang cukup tegas antara kedatangan wisman dan perjalanan masyarakat Indonesia. Wisman naik, sementara wisnus dan wisnas sama-sama turun. Dalam konteks ini, pelemahan rupiah pada awal kuartal II-2026 bukan hanya menjadi isu pasar keuangan, tetapi juga tercermin langsung pada arah perjalanan wisata, baik dari sisi kunjungan asing ke Indonesia maupun pilihan warga RI untuk berlibur di dalam dan luar negeri.

Pergerakan tersebut juga menegaskan bahwa sektor pariwisata sangat peka terhadap perubahan nilai tukar. Saat rupiah melemah, Indonesia bisa menjadi tujuan yang relatif lebih menarik bagi wisatawan asing. Namun bagi warga Indonesia sendiri, terutama yang mempertimbangkan biaya perjalanan, pelemahan mata uang cenderung membuat perjalanan ke luar negeri terasa lebih berat. Di saat yang sama, perjalanan domestik pun ikut tertekan, sehingga data April 2026 menunjukkan penyesuaian perilaku yang cukup luas di kalangan pelaku perjalanan.

Dengan komposisi seperti itu, April 2026 dapat dibaca sebagai bulan penyesuaian perilaku wisata yang cukup jelas. Kenaikan wisman menunjukkan adanya respons positif dari pasar luar negeri terhadap kondisi harga di Indonesia, sementara penurunan wisnus dan wisnas memperlihatkan bahwa masyarakat domestik lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bepergian. Perbedaan arah ini membuat sektor pariwisata bergerak tidak serempak, meski sama-sama berada dalam satu periode pengamatan.

Bagi pelaku industri, situasi tersebut mengisyaratkan bahwa dorongan permintaan tidak datang dari semua sisi secara bersamaan. Ketika perjalanan warga Indonesia menurun, pasar domestik menghadapi tantangan tersendiri, meskipun arus kunjungan asing tetap memberi penopang. Karena itu, pelemahan rupiah pada awal kuartal II-2026 bukan hanya tercermin pada angka statistik, tetapi juga pada keseimbangan antara pasar inbound dan outbound yang tampak bergeser pada bulan yang sama.