jurnalistik.co.id – Harga minyak dunia menguat tajam pada akhir pekan, menyusul meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan itu tercatat terjadi pada perdagangan Minggu (12/7/2026) malam waktu AS.
Kontrak berjangka minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), naik 4,1 persen menjadi 74,33 dollar AS per barrel. Pada saat yang sama, minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional menguat 3,88 persen ke level 78,96 dollar AS per barrel.
Penguatan harga terjadi ketika pasar kembali mencermati potensi gangguan pasokan minyak global akibat eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz. Ketegangan tersebut membuat pelaku industri dan investor menilai risiko logistik dan distribusi energi menjadi lebih tinggi.
Serangan baru dan rangkaian balasan
Komando Pusat Militer AS (Centcom) menyatakan pihaknya melancarkan gelombang serangan baru ke Iran pada Minggu. Centcom menyebut operasi itu dilakukan sehari setelah AS menyerang sekitar 140 target pada Sabtu.
Menurut Centcom, langkah tersebut merupakan respons terhadap serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap sebuah kapal kontainer yang melintasi Selat Hormuz. Setelah itu, Iran dikatakan membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman.
Informasi mengenai balasan tersebut disampaikan kantor berita pemerintah Iran, Tasnim. Di saat yang sama, media pemerintah Iran mengklaim Selat Hormuz ditutup hingga waktu yang belum ditentukan.
Klaim penutupan itu kemudian dibantah oleh pihak militer AS. Centcom menegaskan jalur pelayaran tetap terbuka bagi seluruh kapal yang melakukan pelayaran secara sah, tanpa penguasaan pihak tertentu atas selat tersebut.
Berita Terkait
- Tingkatkan Akses Reksa Dana, Bank INA Bersinergi dengan Setiabudi Investment Management
- IKEA Tutup Dua Gerai Konsep Plan & Order Point di AS pada 30 Agustus 2026, Ekspansi Lewat Layanan Digital Tetap Berjalan
- InJourney Airports Dorong Transformasi Bandara Soekarno-Hatta, Target Top 10 Dunia 2029 dari Peringkat ke-22
Centcom juga menyampaikan pernyataan yang menekankan langkah pengamanan pelayaran. “Pasukan AS telah ditempatkan dan siap memastikan kebebebasan bernavigasi tetap terjaga meskipun terdapat agresi, intimidasi, ancaman, dan pernyataan sepihak Iran yang tidak berdasar,” tulis Centcom melalui media sosial.
Dalam pernyataan lanjutan, Centcom menegaskan bahwa Iran tidak menguasai Selat Hormuz dan lalu lintas kapal masih berlangsung. Pernyataan tersebut sejalan dengan pesan yang disampaikan Presiden AS, Donald Trump, dalam wawancara program Meet the Press NBC News yang ditayangkan Minggu.
Pelayaran berjalan, namun dinilai sangat serius
Data pemantauan maritim juga menunjukkan adanya aktivitas pelayaran. Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat terdapat sembilan kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu.
Meski demikian, kondisi keamanan tetap dinilai mengandung risiko. Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center/JMIC), sebuah koalisi angkatan laut yang dipimpin AS dan berbasis di Bahrain, menyebut jalur pelayaran di sisi selatan melalui perairan Oman masih dapat digunakan untuk kapal yang masuk maupun keluar kawasan.
JMIC tetap menilai situasi di Selat Hormuz berada pada tingkat yang sangat serius. Penilaian itu memperhitungkan kondisi keamanan yang membuat operasi pelayaran berpotensi menghadapi hambatan, bahkan jika jalur masih terbuka bagi kapal yang bertindak sesuai aturan.
Eskalasi yang saling susul antara AS dan Iran—mulai dari serangan baru yang disebut Centcom, klaim penutupan dari pihak Iran, hingga bantahan pihak militer AS—mendorong kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan gangguan pasokan. Dalam konteks itu, kenaikan WTI dan Brent menjadi cerminan respons investor terhadap meningkatnya ketidakpastian di jalur strategis tersebut.
Dengan WTI naik 4,1 persen ke 74,33 dollar AS per barrel dan Brent menguat 3,88 persen ke 78,96 dollar AS per barrel, pasar memperlihatkan kecenderungan harga yang lebih tinggi pada momen ketegangan kembali memanas. Pergerakan ini terjadi saat lalu lintas masih berlangsung, tetapi risiko keamanan dinilai tetap berat oleh otoritas pemantau maritim.












