Bisnis & Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp18.128/Dolar AS, Investor Tetap Menyoroti Faktor Fiskal di Tengah Guncangan Global

×

Rupiah Melemah ke Rp18.128/Dolar AS, Investor Tetap Menyoroti Faktor Fiskal di Tengah Guncangan Global

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Tembus Rp18.128 per Dollar AS, Tekanan Global Dominan, Fiskal Tak Bisa Diabaikan

jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah melemah dan sempat menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS. Pada perdagangan Jumat (10/7/2026), rupiah dipotret berada di level Rp18.128 per dolar AS, memunculkan perhatian pasar terhadap arah perekonomian.

Pengamat Departemen Ekonomi Universitas Andalas Padang, Syafruddin Karimi, menilai pelemahan tersebut tidak bisa dipahami secara tunggal sebagai cerminan buruk kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, ada tekanan dari luar yang masih dominan memengaruhi pergerakan mata uang.

“Pelemahan rupiah ke kisaran Rp18.128 per dolar AS tidak bisa dibaca semata-mata sebagai vonis pasar terhadap APBN, karena tekanan eksternal tetap besar,” ujarnya kepada Kompas.com pada Jumat (10/7/2026).

Syafruddin menyebut beberapa dorongan eksternal yang masih kuat. Di antaranya penguatan dolar Amerika Serikat (AS), tingginya imbal hasil global (yield), ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, serta arus keluar modal dari pasar saham Indonesia.

Dalam penilaiannya, kombinasi faktor-faktor tersebut membuat rupiah lebih sensitif terhadap kondisi global. Ketika sentimen internasional memburuk atau arus dana keluar dari aset berisiko di kawasan berkembang meningkat, tekanan terhadap mata uang domestik cenderung ikut bertambah.

Meskipun demikian, Syafruddin tidak menutup kemungkinan bahwa aspek dalam negeri tetap menjadi pertimbangan investor. Ia mengingatkan bahwa kondisi fiskal masih diperhitungkan pelaku pasar ketika menilai stabilitas perekonomian Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa pelaku pasar akan mencermati apakah pelemahan nilai tukar berpotensi memperbesar beban anggaran. Hal itu terutama terkait subsidi energi, kompensasi, pembayaran bunga utang dalam valuta asing, hingga kebutuhan pembiayaan pemerintah.

Syafruddin menilai posisi rupiah yang telah berada di atas Rp18.000 per dolar AS juga dapat menciptakan deviasi terhadap asumsi dasar APBN 2026. Asumsi yang digunakan pemerintah sebelumnya disebut memakai kurs sekitar Rp16.500 per dolar AS.

Dengan demikian, perubahan kurs dari asumsi dasar berpotensi membawa konsekuensi pada perhitungan biaya dalam APBN. Perubahan tersebut dapat menekan ruang fiskal apabila tidak diimbangi dengan pengendalian yang konsisten.

Syafruddin juga menyinggung pernyataan pemerintah yang menyebut pelemahan kurs hingga di atas Rp18.000 per dolar AS masih berada dalam skenario perhitungan APBN. Namun, ia menilai klaim tersebut perlu dibuktikan melalui kebijakan yang dinilai kredibel.

“pernyataan itu hanya akan dipercaya jika disertai disiplin belanja, pembiayaan yang terukur, dan strategi penerimaan yang realistis,” jelasnya.

Baginya, kunci untuk menjaga keyakinan pasar terletak pada konsistensi pemerintah dalam menjalankan pengelolaan belanja negara. Selain itu, ia menekankan pentingnya memastikan pembiayaan tetap berada pada batas yang terukur.

Syafruddin menambahkan bahwa strategi penerimaan negara juga harus realistis. Ia memandang bahwa pasar akan menilai apakah rencana-rencana tersebut dapat berjalan sejalan dengan kondisi kurs dan perkembangan ekonomi global.

Dari sudut pandang tersebut, Syafruddin menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak didorong oleh tekanan eksternal. Di saat yang sama, ia juga mengaitkan pergerakan rupiah dengan sentimen terhadap negara berkembang (emerging market).

Namun, ia mengingatkan ada batas di mana kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dapat ikut memperbesar tekanan. Kekhawatiran itu muncul apabila pemerintah tidak menunjukkan pengendalian defisit APBN hingga akhir tahun.

“Jadi, pelemahan rupiah lebih banyak dipicu tekanan eksternal dan sentimen emerging market, tetapi kekhawatiran fiskal dapat memperbesar tekanan jika pemerintah gagal menunjukkan kendali atas defisit akhir tahun,” katanya.

Dengan kurs yang berada pada level sekitar Rp18.128 per dolar AS, pasar juga dapat menguji sejauh mana proyeksi APBN masih sesuai dengan dinamika aktual. Dalam konteks itu, rencana anggaran yang sensitif terhadap kurs akan menjadi pusat perhatian investor.

Syafruddin menempatkan pertanyaan utama pada daya tahan kebijakan fiskal terhadap perubahan kurs. Apabila disiplin belanja dan pengelolaan pembiayaan dapat dipertahankan, ia menilai keyakinan pasar berpeluang lebih terjaga.

Sebaliknya, bila biaya terkait faktor valuta asing atau kebutuhan pembiayaan meningkat lebih cepat dari yang diantisipasi, tekanan dapat merembet ke persepsi terhadap kredibilitas kebijakan. Kekhawatiran semacam itu, menurutnya, berpotensi memengaruhi sentimen terhadap rupiah.

Perkembangan rupiah yang masih dipengaruhi faktor eksternal membuat investor tetap melihat sinyal-sinyal global. Dalam penuturan Syafruddin, penguatan dolar AS, yield global yang tinggi, ketegangan geopolitik, dan kenaikan harga minyak menjadi bagian dari lanskap yang terus menentukan arah pergerakan nilai tukar.

Pada saat yang sama, kondisi domestik tidak sepenuhnya diabaikan. Investor tetap akan memeriksa bagaimana pelemahan kurs berpotensi menambah beban anggaran dan apakah pemerintah sanggup meresponsnya dengan strategi yang terukur.

Dengan alasan tersebut, Syafruddin memandang pelemahan rupiah perlu dibaca melalui dua lensa sekaligus. Tekanan eksternal memberi dorongan awal, tetapi kesiapan fiskal menjadi penentu berikutnya dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar ke depan.