Pendidikan

Saat Tidak Sarapan: Yang Terjadi pada Tubuh dan Pikiran

×

Saat Tidak Sarapan: Yang Terjadi pada Tubuh dan Pikiran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Apa yang Terjadi pada Tubuh Ketika Tidak Sarapan?

jurnalistik.co.id – Melewatkan sarapan sering terlihat sepele—cukup menunda jam makan sambil tetap beraktivitas. Namun, kebiasaan ini dapat memicu perubahan pada tubuh sejak pagi, termasuk berkurangnya energi dan perubahan suasana hati.

Sarapan kerap dianggap sebagai rutinitas yang bisa digeser oleh kebutuhan tidur tambahan, kebiasaan menggulir layar ponsel, atau pilihan menikmati secangkir kopi. Tetapi ketika perut tetap kosong, tubuh merespons dengan dampak yang tidak hanya berhenti pada rasa lapar biasa.

Dampak jangka pendek: fokus dan energi

Meghan Windham, MPH, RD, LD, ahli gizi, asisten profesor klinis, dan direktur untuk Didactic Program in Dietetics (DPD) di Texas A&M University, menyebut bahwa efek negatif dari melewatkan sarapan umumnya langsung terlihat dalam hitungan jam.

Ia menjelaskan, “Penelitian menunjukkan bahwa ketika melewatkan sarapan, peningkatan nafsu makan dan penurunan fokus bisa terjadi,” serta menambahkan bahwa otak sangat bergantung pada glukosa agar bisa berfungsi optimal.

Menurut penjelasan tersebut, kondisi dengan asupan energi yang buruk dapat mengorbankan memori dan perhatian. Dampaknya bisa membuat seseorang lebih sulit menjaga fokus saat harus menyelesaikan pekerjaan atau mengikuti tugas sekolah.

Jennifer Hillis, MS, RDN, ahli gizi dan diet, menambahkan bahwa seseorang kehilangan “bahan bakar” penting saat tidak sarapan. “Salah satu konsekuensi yang paling terasa dari melewatkan sarapan adalah merasa kekurangan energi,” tutur dia.

Kekurangan energi itu dapat terlihat sebagai rasa lesu. “Hal ini bisa terlihat seperti merasa lesu, dan tubuh mungkin terasa lebih lelah selama aktivitas fisik dan bahkan tugas sehari-hari yang sederhana,” tambah Hillis.

Suasana hati bisa berubah: fenomena hangry

Selain memengaruhi energi dan fokus, melewatkan sarapan juga disebut berhubungan dengan perubahan suasana hati. Rasa kesal atau cepat tersinggung ketika lapar dapat muncul pada sebagian orang.

Windham mengaitkan hal ini dengan istilah hangry—gabungan angry (marah) dan hungry (lapar). “Istilah hangry pada akhirnya mungkin memang memiliki dasar ilmiah,” ucap Windham.

Ia menyebut riset menemukan durasi puasa yang lama memicu kenaikan hormon terkait rasa lapar. Hormon ini sangat berkaitan kuat dengan meningkatnya sifat mudah marah dan agresif.

Dengan dasar tersebut, suasana hati yang tampak berubah saat pagi hari dapat terjadi ketika tubuh terlalu lama tidak menerima asupan.

“Jadi, alih-alih menganggap suasana hati burukmu di pagi hari sebagai bentuk ketidakberuntungan, sebaiknya segera santap sarapanmu.”

Ritme tubuh terganggu dan kesehatan jantung berisiko

Menyantap sarapan disebut berfungsi memutus puasa sekaligus mengisi gula darah untuk mendukung fungsi otak dan stamina. Jika sarapan diabaikan, jam internal tubuh disebut dapat menjadi kacau.

Dalam penjelasan yang sama, melewatkan sarapan disebut berhubungan dengan gangguan ritme sirkadian. Kebiasaan ini juga disebut mengancam kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Karena itu, melewatkan sarapan tidak hanya terkait dengan rasa tidak nyaman sesaat. Dampaknya mencakup energi, fokus, suasana hati, ritme tubuh, serta disebut pula berhubungan dengan risiko kesehatan jantung di masa berikutnya.

Jika sarapan sering terlewat demi tidur tambahan atau alasan lain, pertimbangkan kembali kebiasaan tersebut. Dengan begitu, dampak yang disebut dalam penjelasan—mulai dari penurunan fokus, perubahan suasana hati, hingga gangguan ritme tubuh—dapat diminimalkan dari awal hari.

Ketika pagi dimulai tanpa asupan, tubuh tetap bekerja, tetapi otak cenderung kekurangan dukungan glukosa. Akibatnya, tugas yang menuntut konsentrasi bisa terasa lebih berat dan mudah terdistraksi.

Pada sebagian orang, jeda makan yang panjang membuat sensasi lapar makin dominan, lalu memunculkan iritabilitas. Polanya tidak hanya berhenti pada rasa lapar, tetapi terkait dorongan hormon ketika tubuh lama berpuasa.

Karena sarapan disebut membantu memutus puasa dan menata ritme sirkadian, melewatkannya dapat membuat ritme tubuh lebih sulit stabil. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga disebut berkaitan dengan risiko kesehatan jantung.