Internasional

Sistem gelar kehormatan Inggris berubah untuk mengakui lebih banyak pahlawan kelas pekerja

×

Sistem gelar kehormatan Inggris berubah untuk mengakui lebih banyak pahlawan kelas pekerja

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Honours system is changing to recognise more working class heroes

jurnalistik.co.id – Sistem gelar kehormatan Inggris tengah mengalami perubahan untuk memberi ruang pada lebih banyak pahlawan dari kalangan kelas pekerja. Langkah ini menargetkan representasi yang lebih adil secara sosial serta pemerataan penerima di berbagai wilayah.

Clive Lawrence mengaku dulu memiliki keyakinan bahwa gelar kehormatan hanya akan diberikan kepada orang yang kaya atau terkenal. Ia lahir dan dibesarkan dari kondisi berbeda: pernah menikmati makan sekolah gratis dan tumbuh di sebuah perumahan dewan di Derbyshire.

Kini, mantan kepala sekolah itu menyandang gelar Officer of the British Empire (OBE). OBE yang diterimanya terkait dengan pekerjaannya di bidang pendidikan, khususnya fokus membantu anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Dalam wawancara, Lawrence menyebut perubahan yang tengah berlangsung bersifat perlahan namun nyata. Revolusi kecil itu diarahkan agar penghargaan tidak semakin eksklusif secara sosial, serta agar distribusi pemenang lebih berimbang di seluruh negeri.

Perubahan tersebut juga didorong temuan analisis BBC tahun lalu terhadap New Year Honours 2025. Analisis itu menunjukkan bahwa pada kategori gelar yang lebih tinggi, seperti Commanders of the British Empire (CBE), gelar kebangsawanan, dan gelar damehood, hanya 4% penerima yang tumbuh dari latar belakang kelas pekerja.

Namun data Cabinet Office untuk New Year Honours 2026 memperlihatkan lompatan yang besar. Untuk penghargaan tingkat lebih tinggi, proporsi tersebut kini naik menjadi 31%, yang disebut sebagai rekor.

Di seluruh level penghargaan pada New Year 2026, 38% penerima berasal dari latar belakang kelas pekerja. Angka itu juga disejajarkan dengan persentase nasional sebesar 37%, sekaligus menandai level tertinggi bagi orang-orang dari latar ekonomi yang kurang mampu.

Selain itu, kesenjangan antara London dan wilayah lain juga menyempit. Berdasarkan data Birthday honours yang dipublikasikan pekan lalu, porsi penghargaan yang diterima daerah di luar London bergerak mendekati kondisi demografi nasional.

Komite baru memperluas akses nominasi

Mekanisme perubahan dijalankan melalui Honours Diversity and Outreach Committee, sebuah komite yang dibentuk tahun lalu. Tugasnya memastikan daftar penghargaan lebih mencerminkan masyarakat Inggris secara menyeluruh.

Lawrence menjadi bagian dari komite baru tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa ada perwakilan dari komite keberagaman yang duduk di masing-masing komite lain yang menyaring nama-nama yang diajukan.

Menurutnya, kualitas penerima tetap harus dijaga pada standar tinggi. Tetapi, sistem juga perlu menunjukkan gambaran menyeluruh tentang representasi yang lebih merata di antara pemenang.

Lawrence menekankan bahwa penghargaan seharusnya ditujukan untuk “everyday people doing extraordinary things”. Ia menggambarkan bagaimana sebagian besar kerja yang dilakukan di level komunitas dapat memiliki dampak luar biasa meski tidak berasal dari latar yang dominan.

Ia menilai proses nominasi juga bisa diperluas lewat jaringan yang berbeda. Karena itu, pencarian kandidat tidak hanya mengandalkan kontak Lord Lieutenants sebagai perwakilan lokal Raja, melainkan juga memanfaatkan jejaring seperti media sosial dan LinkedIn.

Contoh penerima dari berbagai bidang

Walau pemberitaan kerap menyorot penerima yang terkenal, Lawrence mengatakan ia senang melihat sosok seperti Michael Akers. Akers mendapat MBE bulan lalu, dan digambarkan sebagai “young lad with a disability… who set up a charity advocating for other children”.

Akers memiliki disabilitas pada kemampuan berbicara. Ia juga memperjuangkan agar sekolah menyediakan akses kepada terapis wicara.

Lawrence turut menyinggung British Empire Medal (BEM) dalam Birthday honours untuk Ally Outten dari Llandudno di North Wales. Outten menjalankan proyek “lending prom dresses to families who couldn’t afford it”.

Ia mengungkap rasa harunya ketika menceritakan alasan penghargaan itu terasa personal baginya. Lawrence mengatakan, “I got really emotional about that because I remember as a child that came from a disadvantaged background, my mum struggled to buy me the shirt and tie,”.

Dalam gelar yang lebih baru, Lawrence melihat pergeseran dari tokoh yang memimpin bank-bank multinasional menuju orang-orang yang menjalankan layanan bantuan berbasis kebutuhan langsung. Ia mencontohkan perubahan tersebut lewat sosok Sali Hughes yang memperoleh MBE tahun ini.

Hughes dianugerahi karena membangun “beauty banks”, sebuah inisiatif yang berawal di Dundee, Skotlandia. Program ini bekerja untuk mengatasi kemiskinan higienitas dengan membantu orang di 100 wilayah paling tidak mampu di Inggris agar dapat mengakses produk seperti sampo, bubuk cuci, dan pasta gigi.

Ia juga menyebut Alexander Rigby dari Bootle yang menerima BEM bulan lalu. Rigby meraih penghargaan karena mengumpulkan dana untuk mendukung korban kekerasan dalam rumah tangga dengan berlari ultra-marathon di Merseyside.

Dorongan agar penghargaan lebih representatif, baik secara sosial maupun geografis, berasal dari Cabinet Office. Kebijakan ini diterapkan pada penghargaan yang diawasi pemerintah, yaitu New Year dan Birthday honours, yang menyasar sekitar 1.200 orang setiap kali.

Di antaranya termasuk knighthoods, damehoods, CBE, OBE, MBE, serta BEM. Adapun ketentuan ini tidak diterapkan pada penunjukan politik, seperti gelar bangsawan (peerages) yang diumumkan oleh Perdana Menteri yang akan meninggalkan jabatan pada hari Kamis, maupun pada daftar penghargaan militer dan internasional.

Pemerataan wilayah masih jadi tantangan

Perubahan juga diarahkan untuk memperluas sebaran wilayah penerima. Riset BBC pada tahun lalu menunjukkan bahwa pada New Year 2025, bagian Inggris utara hanya menyumbang 6% penerima penghargaan tingkat lebih tinggi meski populasinya mencapai 23%.

Bukti terbaru berdasarkan Birthday honours 2026 menunjukkan angka di Inggris utara telah lebih dari dua kali lipat menjadi 13%. Meski demikian, angka tersebut masih jauh di bawah porsi populasi, dan wilayah seperti Skotlandia, Irlandia Utara, Wales, serta sebagian besar kawasan di Inggris masih kurang terwakili.

Lawrence mengaitkan kondisi ini dengan dominasi London dan South East England. Pada penghargaan terbaru, wilayah tersebut menyumbang 56% penghargaan tingkat lebih tinggi, padahal mereka hanya memiliki 27% populasi Inggris.

Lawrence menuturkan bahwa penempatannya dalam komite juga dipengaruhi oleh fakta ia bukan berasal dari ibu kota maupun South East. Ia melihat hal itu sebagai bagian dari upaya memperlebar perspektif dalam seleksi.

Dalam New Year 2026, perempuan menerima 50% penghargaan tingkat lebih tinggi. Sebanyak 15% penerima memiliki disabilitas, 10% penerima berasal dari kelompok minoritas etnis, dan 5% penerima adalah bagian dari komunitas LGBTQ+.

Ia juga menyebut kebutuhan untuk menambah nominasi bagi orang-orang dengan disabilitas, karena proporsi penerimaan kehormatan saat ini masih jauh di bawah porsi mereka dalam populasi sebesar 22%.

Sepanjang tahun berjalan, beberapa area yang sebelumnya terabaikan juga mulai dibenahi. Cabang olahraga rugby league yang secara tradisional identik dengan kalangan kelas pekerja, misalnya, tidak pernah memiliki tokoh yang dianugerahi gelar kebangsawanan selama 130 tahun, memicu tuduhan bahwa sistem terlalu elitis.

Perubahan terjadi musim panas lalu melalui penganugerahan gelar kebangsawanan kepada Sir Billy Boston. Lawrence menegaskan bahwa ia berharap sistem kehormatan mampu menangkal persepsi negatif tentang siapa yang dianggap layak menerima penghargaan.

“When I got my honour I was absolutely thrown,” kata Lawrence, seraya menjelaskan bahwa ia merasa dirinya orang biasa. Ia menyebut masa kecilnya di perumahan dewan dan makan sekolah gratis membuatnya sama sekali tidak membayangkan seseorang sepertinya bisa menerima kehormatan.

Ia juga mengakui, penggunaan penghargaan dalam konteks politik—seperti pemberian peerages minggu ini—mungkin masih menantang rasa keadilan yang ingin dibangun. Ada pula pertanyaan apakah orang yang sama mendapat penghargaan berulang.

Lord Blunkett, melalui sebuah pertanyaan di parlemen, mengungkap bahwa 53 dari Birthday honours bulan lalu diberikan kepada penerima yang sebelumnya pernah menerima penghargaan. Meski demikian, Lawrence menyatakan bahwa sistem kehormatan yang mencerminkan spektrum latar belakang yang lebih luas dapat menjadi pesan kuat bahwa kontribusi yang benar-benar menentukan, bukan keadaan sejak awal.

Bridget Phillipson, Minister for Women and Equalities, mengatakan pihaknya “particularly pleased to see more people from all walks of life being recognised this year.” Ia menambahkan bahwa sistem kehormatan harus mencerminkan negara yang menempatkan “talent, contribution, and hard work” jauh lebih tinggi dibanding latar belakang sosial-ekonomi.