jurnalistik.co.id – Perkawinan yang melibatkan dua latar budaya di kota besar makin sering terjadi, dan perubahan itu turut mengubah pola komunikasi keluarga. Salah satu yang paling terasa adalah penyusutan pemakaian bahasa ibu di rumah.
Bahasa ibu tidak berhenti sebagai alat untuk menyampaikan pesan sehari-hari. Di dalam keluarga, bahasa ini juga menjadi ruang awal bagi anak mengenal kebiasaan, tata krama, dan identitas keluarganya.
Namun, dalam konteks kehidupan perkotaan yang semakin beragam, bahasa ibu perlahan kehilangan tempat di rumah-rumah keluarga perantau. Di Jakarta, pergeseran tersebut tampak seiring makin banyaknya anggota keluarga yang berinteraksi dengan lingkungan dari latar daerah yang berbeda.
Sosiolog Universitas Nasional Sigit Rochadi menilai, penggunaan bahasa ibu pada keluarga perantau erat kaitannya dengan upaya mempertahankan akar budaya di tengah perubahan masyarakat perkotaan. Menurutnya, pilihan bahasa di rumah sering kali dipengaruhi oleh kesamaan maupun perbedaan latar budaya antara pasangan.
Sigit mengatakan, keluarga perantau yang cenderung konsisten memakai bahasa ibu biasanya berasal dari pasangan yang memiliki latar budaya yang sama. Sementara itu, pada keluarga dengan pasangan dari dua daerah berbeda, bahasa Indonesia lebih sering dipilih sebagai bahasa komunikasi harian.
“Para pendatang yang mempertahankan bahasa ibu umumnya pasangan satu budaya. Sementara pasangan kawin campur cenderung menggunakan bahasa ketiga sebagai alat komunikasi sehari-hari,” kata Sigit saat dihubungi Kompas.com melalui WhatsApp, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa jumlah pasangan dengan latar budaya yang sama di kota-kota besar semakin berkurang. Lingkungan kota yang terbuka mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah sehingga pernikahan antarsuku menjadi semakin lazim.
Dalam situasi seperti itu, bahasa Indonesia kemudian menjadi pilihan yang dipahami seluruh anggota keluarga. Pada akhirnya, semakin sering bahasa Indonesia digunakan sebagai penghubung, semakin kecil pula porsi bahasa daerah di percakapan rumah.
Meski begitu, Sigit menegaskan bahwa keinginan mempertahankan bahasa ibu tidak semata-mata untuk menjaga kemampuan berbahasa daerah. Baginya, bahasa ibu adalah cara keluarga mempertahankan akar budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Berita Terkait
“Keluarga-keluarga ini percaya bahwa bahasa ibu dapat membentuk kepribadian anak yang berakar pada budaya, terutama tradisi dalam berbicara dan sopan santun,” ujar dia.
Ia juga memandang, setiap bahasa daerah membawa nilai budaya yang tidak selalu bisa diterjemahkan secara utuh ke bahasa lain. Cara memilih kata, menyampaikan pendapat, hingga praktik menghormati orang yang lebih tua merupakan bagian dari budaya yang dipelajari anak lewat bahasa ibu.
Pada masyarakat yang memiliki tingkatan bahasa, penggunaan bahasa ibu bahkan menyediakan ruang agar seseorang bisa menempatkan diri sesuai lawan bicara. Dengan kata lain, bahasa ibu turut mengatur hubungan sosial melalui pilihan tutur yang dianggap tepat.
Sigit mencontohkan masyarakat Jawa yang mengenal tata bahasa berdasarkan hubungan sosial. Dalam pandangannya, ketidaktepatan pemilihan kata bisa dibaca sebagai bentuk kurang sopan.
“Penggunaan kata ‘kamu’ sangat kasar dalam masyarakat Jawa sehingga perlu diganti dengan bahasa ibu yang lebih sesuai untuk menyampaikan perasaan dan menghormati lawan bicara,” kata dia.
Berdasarkan penilaian itu, hilangnya bahasa ibu tidak hanya berarti berkurangnya kemampuan seseorang menggunakan bahasa daerah. Lebih jauh, bahasa yang makin jarang dipakai akan membuat nilai-nilai budaya yang hidup melalui tuturan tersebut turut meredup.
Selain fungsi kultural, Sigit menilai bahasa ibu juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Orang yang berbicara menggunakan bahasa daerah yang sama cenderung lebih mudah membangun kedekatan dengan pihak lain yang memiliki latar budaya serupa.
Melalui kesamaan bahasa, berbagai tradisi, kebiasaan, hingga cara pandang terhadap kehidupan dapat terus diwariskan. Ketika bahasa ibu dipertahankan di rumah, proses penanaman nilai itu berjalan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga masuk ke cara berinteraksi dalam keseharian anak.
Karena itu, pergeseran bahasa di keluarga perantau berkaitan langsung dengan cara budaya dipelihara. Di tengah kota yang makin majemuk, keputusan memilih bahasa di rumah menjadi salah satu penentu seberapa jauh akar budaya tetap hidup dalam percakapan generasi berikutnya.









