jurnalistik.co.id – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menerima anugerah sebagai Warga Kehormatan Korps Marinir sekaligus Brevet Kehormatan Anti Teror Aspek Laut, Intai Para Amfibi, dan Komando Korps Marinir pada Rabu (5/8/2026).
Penganugerahan tersebut berlangsung ketika Sjafrie meninjau pelaksanaan Latihan Terintegrasi TNI 2026 di Dabo Singkep, Lingga, Kepulauan Riau.
Dalam dokumentasi yang diunggah Sjafrie, ia terlihat diangkat di atas pundak oleh sejumlah prajurit Korps Marinir setelah rangkaian kegiatan latihan selesai.
Penganugerahan dan pesan tanggung jawab
Sjafrie menyampaikan pandangannya terkait makna penganugerahan itu. Ia menegaskan bahwa kehormatan yang diterimanya tidak berhenti pada simbol semata.
“Penganugerahan ini bukan sekadar simbol kehormatan, tetapi menjadi ikatan moral dan tanggung jawab untuk terus mendukung penguatan Korps Marinir sebagai pasukan pendarat yang profesional, tangguh, modern dan senantiasa siap menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tulis Sjafrie, dikutip dari akun Instagram-nya, Kamis (6/8/2026).
Menurut pesan yang disampaikan Sjafrie tersebut, komitmen yang muncul setelah penganugerahan diarahkan pada penguatan Korps Marinir agar mampu menjalankan peran sebagai pasukan pendarat dengan kesiapan yang konsisten.
Latihan Terintegrasi TNI 2026 di Dabo Singkep
Di lokasi latihan, TNI menampilkan simulasi peperangan modern dalam Latihan Integrasi TNI 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau, pada Rabu (5/8/2026).
Latihan ini memperlihatkan skenario operasi gabungan yang melibatkan beberapa matra secara terpadu. Penekanan diarahkan pada cara menghadapi ancaman modern melalui kombinasi kekuatan darat, laut, udara, hingga peperangan siber.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bersama Panglima TNI dan para kepala staf angkatan.
Dalam rangkaian skenario, latihan diawali dengan serangan udara. Pesawat tempur Rafale dan F-16 membawa bom MK-82 untuk membuka rangkaian respons berikutnya.
Berita Terkait
Setelah itu, Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) melaksanakan operasi khusus untuk membuka jalan bagi serangan lanjutan sesuai alur skenario yang dimainkan.
Rangkaian operasi di laut
Sekitar tahapan berikutnya difokuskan pada operasi di laut. TNI AL mengerahkan Unmanned Surface Vehicle (USV) kamikaze yang diluncurkan dari KRI Soeharso-991 untuk menyerang sasaran musuh.
Komponen serangan laut kemudian berlanjut dengan pengerahan operasi ranjau laut. Bersamaan dengan itu, satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) melakukan infiltrasi yang mensimulasikan sabotase kabel bawah laut.
Dalam skenario yang sama, operasi tidak hanya terjadi di permukaan dan bawah permukaan laut. Ada juga bagian peperangan siber yang menggambarkan serangan untuk melumpuhkan sistem kelistrikan lawan.
Setelah sasaran dinyatakan lumpuh, rangkaian serangan bergerak ke fase penembakan dari unsur laut ke target di darat. KRI Sampari-628 menembakkan rudal C-705 ke target yang berada di daratan.
Selain itu, TNI AL juga mengerahkan Bantuan Tembakan Kapal dari KRI Prabu Siliwangi-321, KRI Sultan Iskandar Muda-367, dan KRI Raden Eddy Martadinata-331.
Integrasi kekuatan darat, laut, udara, dan siber
Gambaran besar latihan ini menekankan keterkaitan setiap matra dalam menghadapi ancaman modern. Alur yang dimainkan disusun agar pasukan dapat bergerak dari fase serangan udara menuju operasi darat, lalu berlanjut pada rangkaian di laut dan dukungan siber.
Melalui simulasi tersebut, latihan menunjukkan bagaimana operasi gabungan dirancang secara berlapis. Artinya, masing-masing unsur tidak berdiri sendiri, tetapi saling menguatkan sesuai skenario yang ditetapkan.
Pada saat yang sama, keberadaan Sjafrie Sjamsoeddin dalam peninjauan menempatkan penganugerahan yang diterimanya sebagai bagian dari rangkaian kegiatan di tengah fokus latihan.
Dengan demikian, penganugerahan Brevet Kehormatan Anti Teror Aspek Laut, Intai Para Amfibi, dan Komando Korps Marinir yang diberikan kepada Sjafrie bertemu dengan konteks latihan yang memperlihatkan kemampuan dan kesiapan pasukan dalam skenario peperangan modern.
Latihan Terintegrasi TNI 2026 yang berlangsung di Dabo Singkep itu menjadi panggung bagi simulasi operasi gabungan yang melibatkan Rafale dan F-16 dengan bom MK-82, operasi Kopasgat untuk membuka jalan serangan berikutnya, pengerahan USV kamikaze dari KRI Soeharso-991, operasi ranjau laut, infiltrasi Kopaska untuk sabotase kabel bawah laut, serangan siber yang melumpuhkan sistem kelistrikan, hingga penembakan rudal C-705 dari KRI Sampari-628 dan bantuan tembakan kapal dari KRI Prabu Siliwangi-321, KRI Sultan Iskandar Muda-367, serta KRI Raden Eddy Martadinata-331.












