jurnalistik.co.id – Pemakaman Dame Penelope Keith di Guildford Cathedral diwarnai suasana yang kontras: hadirnya tawa sekaligus air mata, yang menurut sejumlah orang terdekat terasa selaras dengan sosok aktris legendaris itu.
Praise dan kesan hangat datang dari teman-temannya, yang menggambarkan layanan tersebut sebagai momen “wonderful, beautiful and absolutely amazing”. Mereka menilai prosesi berjalan dengan cara yang menggabungkan duka dan rasa syukur, seolah merayakan perjalanan karier dan pribadi seorang figur besar.
Dame Penelope Keith, yang dikenal lewat perannya dalam serial “The Good Life” dan “To The Manor Born”, meninggal dunia pada 29 Juni di usia 86 tahun. Ia disebut wafat “died peacefully whilst living with cancer at her home”, ketika menjalani hidupnya dalam pengobatan kanker di rumah.
Sebelum ibadah di Guildford Cathedral, peti jenazah lebih dulu melintasi kota asalnya, Milford, di Surrey. Perjalanan itu disaksikan banyak orang yang berbaris untuk menyampaikan perpisahan terakhir.
Dalam komentarnya, Gyles Brandreth—seorang pembawa acara, penulis, sekaligus mantan politikus—menyampaikan bahwa pemakaman tersebut dipenuhi campuran kesedihan, tawa, dan rasa terima kasih. Ia mengatakan prosesi itu “filled with a mixture of sadness but laughter and gratitude as well because we were celebrating a great actress”.
Brandreth menambahkan bahwa layanan tersebut terasa sebagai cara yang tepat untuk mengingat seorang sosok yang luar biasa. Ia menyebut pemakaman itu “a wonderful way to remember a remarkable person”, sebagaimana yang disampaikannya kepada BBC Radio Surrey.
Melalui unggahan di X kemudian, Brandreth menegaskan kesan serupa. Ia menulis: “There was laughter and tears at Guildford Cathedral this morning – a truly beautiful and deeply moving funeral service for Dame Penelope Keith – what a lady and what a perfect service.” Dalam penjelasan lanjut, ia menilai pemakaman itu “It caught her completely. She was very special.”
Brandreth juga menggambarkan karakter Dame Penelope Keith dengan menekankan sifat-sifat yang ia anggap paling menonjol dari aktris tersebut. Ia menyebut Dame Penelope sebagai salah satu orang yang “nicest and kindest people”.
Berita Terkait
Menurut Brandreth, kecintaan Dame Penelope pada Surrey tampak dalam berbagai hal yang ia lakukan. “Her love of Surrey was in everything she did,” ujarnya, sekaligus menekankan bahwa rasa kebersamaan dan keterlibatannya untuk komunitas sangat kuat.
Ia menambahkan, “Her sense of community… belonging and working for the community was considerable.” Pernyataan ini menjadi salah satu benang merah yang, menurut mereka yang hadir, juga tersirat dalam cara orang-orang menyikapi prosesi pemakaman hari itu.
Sarah Cliff turut berbagi kesan pribadi dari hubungan masa kecilnya dengan Dame Penelope Keith. Cliff mengatakan Dame Penelope telah dikenal sejak lama dalam keluarganya, dengan sebutan “Auntie Penny”. Ia menyebut: “[She] was known to me as Auntie Penny”, dan menegaskan bahwa Dame Penelope “was great fun”.
Cliff—putri dari pasangan aktor Michael Robbins dan Hal Dyer—mengatakan layanan di cathedral itu juga terasa indah. “She added that the service was ‘beautiful’.” Ia menuturkan pengalaman pertama datang ke tempat tersebut, menggambarkan ruangannya “It’s airy, it’s light, it’s lovely”.
Kerabat lain, Doreen Walford, mengungkap bahwa keduanya memiliki kedekatan yang sudah berlangsung lama. Ia menyampaikan kepada BBC Radio Surrey bahwa mereka dulu tinggal tak jauh satu sama lain dan pernah bekerja bersama.
Walford menekankan kualitas komunikasi Dame Penelope Keith sebagai sesuatu yang membuat siapa pun merasa nyaman. “Everybody could talk to her,” katanya.
Ketika melihat rombongan prosesi, Walford mengatakan ia merasa sangat bersyukur telah datang. Ia menambahkan, “I am so glad I came. It was absolutely amazing.”
Keseluruhan kesaksian tersebut membentuk gambaran yang konsisten: pemakaman di Guildford Cathedral bukan hanya sebuah upacara perpisahan, melainkan juga ruang untuk merawat ingatan akan sosok Dame Penelope Keith melalui tawa, ungkapan, dan rasa terima kasih.
Di tengah duka yang nyata, sejumlah orang memilih menonjolkan sisi kehidupan yang ia tinggalkan—melalui kenangan personal, kedekatan komunitas, dan penghormatan yang terasa hangat. Itulah yang membuat, dalam kata-kata Brandreth, layanan tersebut “deeply moving” sekaligus menghadirkan rasa syukur atas sosok yang “very special.”












