Internasional

Gelombang panas memunculkan jejak situs arkeologi yang sempat hilang di Wales

×

Gelombang panas memunculkan jejak situs arkeologi yang sempat hilang di Wales

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Heatwave reveals lost archaeological sites across Wales

jurnalistik.co.id – Gelombang panas berkepanjangan di Wales memunculkan kembali jejak-jejak arkeologi yang selama puluhan tahun nyaris tidak terlihat jelas. Setelah kondisi yang jauh lebih panas dan kering, sejumlah situs yang sebelumnya hanya tersamar kini tampak menonjol di bentang lahan berupa padang rumput.

Menurut Royal Commission on the Ancient and Historical Monuments of Wales (RCAHMW), wilayah itu mengalami sekitar 5% dari rata-rata curah hujan untuk bulan Juli. Polanya dipicu rangkaian gelombang panas yang terjadi berurutan, disertai periode April hingga Juni yang lebih kering dari biasanya.

Di beberapa bagian Wales, kekeringan juga ikut memicu munculnya kondisi yang memungkinkan sisa-sisa peninggalan lama terlihat. Para ahli menyebut cuaca kering tersebut menyingkap berbagai temuan yang sebelumnya tersembunyi, termasuk bangunan era Romawi serta bekas parit latihan pada Perang Dunia Pertama.

Jejak-jejak itu sering kali tidak tampak bila hanya dilihat dari permukaan tanah. Banyak di antaranya baru nyata dari udara, berupa pola yang mengarah pada “crop marks” atau tanda bekas tumbuhan di lahan tanaman dan rumput.

Kenapa jejak itu muncul saat cuaca panas-kering

Tanda pada tanaman terbentuk ketika vegetasi memanfaatkan nutrisi dan suplai air yang tertahan pada parit atau struktur peninggalan pertahanan yang telah lama ditinggalkan. Akibatnya, bagian tertentu memunculkan pertumbuhan hijau yang lebih menonjol, sehingga pola bekas galian atau susunan bangunan dapat terlihat.

Namun, tanda tersebut tidak selalu bertahan lama. RCAHMW menjelaskan bahwa crop marks bisa menghilang dengan cepat setelah kondisi cuaca berubah, sehingga jendela pengamatan menjadi relatif singkat.

Ahli arkeologi Dr Toby Driver harus bergerak cepat untuk mendokumentasikan dan meneliti monumen-monumen yang muncul. Ia mengatakan, pada kondisi normal, pencarian jejak melalui pengamatan dari udara biasanya menunggu sekitar lima hingga tujuh tahun untuk mendapatkan “a record heatwave summer for aerial archaeology”. Tetapi kini momen seperti itu muncul “setiap tahun”.

RCAHMW juga menyampaikan bahwa bagian timur dan wilayah timur laut Wales sangat kering sejak pertengahan Mei. Sementara itu, banyak area di Wales bagian barat dan selatan cenderung tetap cukup lembap dan hijau, sehingga efek panas-kering tidak sama di seluruh wilayah.

Pada akhir Juni, rangkaian gelombang panas justru mengeringkan dan membuat sebagian padang rumput hangus di banyak lokasi. Dari sinilah, RCAHMW menyebut sejumlah monumen mulai terlihat, mencakup peninggalan dari masa prasejarah seperti long barrows dan benteng, hingga bangunan era Romawi, bahkan termasuk bekas parit latihan Perang Dunia Pertama.

Untuk memperbarui arsip temuan, pihak arsip lingkungan bersejarah nasional Wales merilis foto-foto hasil penemuan Driver setelah penerbangan pada bulan Juni dan Juli. Penerbangan dilakukan dari bandara Haverfordwest dan Caernarfon.

Driver menuturkan bahwa tahun ini kondisi angin di seluruh Wales cukup kencang. Akibatnya, beberapa perjalanan yang lebih panjang untuk merekam crop marks menjadi lebih menantang, meski pada saat tertentu tanda-tanda itu dapat terlihat sangat jelas ketika mereka mengorbit pesawat untuk memotret area.

Ia menambahkan bahwa di wilayah yang terlalu kering, crop marks bisa menjadi lebih redup dan sulit dikenali. Dalam situasi seperti itu, ia melakukan penyesuaian digital pada pita warna dalam gambar agar arkeologi tampak lebih “menonjol”, sehingga rincian yang sebelumnya tersamar bisa terlihat; gambar pada kondisi tersebut dapat tampak hitam-putih.

Di Powys, dekat Welshpool, crop marks berbentuk pola persegi panjang long barrow dari Neolitik dilaporkan telah terlihat. RCAHMW menyebut struktur tersebut diperkirakan berumur sekitar 5.000 tahun.

Di Conwy, pihak komisi mengumpulkan rincian baru terkait bangunan Romawi yang terkubur di sekitar benteng Caerhun. Sementara itu, di Deganwy, Conwy, tampak parchmarks yang dramatis dari bekas parit latihan Perang Dunia Pertama di bawah sebuah lapangan golf.

Temuan lain juga muncul di Ceredigion. Dekat Llandysul, wilayah selatan Ceredigion, crop marks yang matang mengungkap farmstead berganda parit ganda dari masa Iron Age atau era Romano-British yang sebelumnya belum tercatat.

RCAHMW juga menyebut adanya indikasi potensi kandang untuk ternak dari masa Iron Age yang berumur sekitar 2.000 tahun di lahan rumput kering dekat Lampeter. Dari keseluruhan temuan tersebut, para peneliti menekankan bahwa kemunculan jejak sangat bergantung pada kondisi cuaca yang memberi kontras bagi pola tanah dan vegetasi.

Dengan foto-foto terbaru dan dokumentasi udara dari periode panas-kering ini, RCAHMW berharap gambaran monumen yang selama ini tersamarkan dapat dipelajari lebih baik. Pada saat yang sama, mereka mengingatkan bahwa perubahan cuaca berikutnya dapat mengubah tingkat keterlihatan crop marks, sehingga upaya pencatatan tetap perlu dilakukan ketika kesempatan muncul.