jurnalistik.co.id – Rencana penawaran umum perdana (IPO) Anthropic PBC yang dinilai bakal sangat sukses oleh banyak pihak justru memunculkan sikap hati-hati dari sejumlah CIO dan kepala investasi di Australia. Di balik optimisme terhadap prospek kecerdasan buatan, mereka menyoroti pertanyaan mendasar soal apakah peluang tersebut akan berbanding lurus dengan imbal hasil yang “fantastis”.
Dalam diskusi panel di Konferensi Investasi CFA Australia di Melbourne pada Kamis, John Pearce—kepala investasi dana pensiun Australia UniSuper—menyampaikan pandangannya dengan nada yang tidak sepenuhnya optimistis. Ia mengakui keunggulan perusahaan, namun tetap mempertanyakan apakah valuasi dan harga yang ditawarkan akan sesuai dengan cerita besar yang sedang dibangun.
“Ini adalah perusahaan yang luar biasa, namun, apakah hal itu akan berujung pada investasi yang fantastis, itu masalah lain,” ujar Pearce dalam forum tersebut. Kalimat itu menggambarkan dilema umum yang sering muncul menjelang momentum IPO, ketika kualitas bisnis dipandang kuat, tetapi ekspektasi pasar juga cenderung melonjak.
Kesediaan Anthropic untuk melangkah ke pasar modal Australia menjadi pembahasan penting karena dampaknya tidak hanya menyangkut satu emiten. Rangkaian penawaran saham dalam IPO ini disebut akan membuka akses bagi para pembuat chatbot Claude ke ekosistem pensiun Australia yang nilainya mencapai A$4,8 trilliun atau US$3,4 trilliun (setara Rp61,6 kuadriliun). Nilainya juga mencakup basis perdagangan ritel, sehingga jangkauan produk berbasis AI perusahaan berpotensi semakin luas.
Menurut pengajuan yang disampaikan pada Senin kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), Anthropic akan menawarkan saham secara langsung kepada investor Australia setelah menyerahkan prospektus kepada otoritas pengawas sekuritas negara tersebut. Dengan kata lain, proses IPO diposisikan sebagai jembatan yang mempertemukan perusahaan dengan pembeli saham dari Australia, bukan sekadar peristiwa pencatatan di pasar AS saja.
Dalam konteks inilah para investor institusional memandang peluang sekaligus risiko. Dari sisi bisnis, antusiasme terhadap AI sering kali datang lebih cepat dibanding disiplin harga dan penilaian. Sementara itu, bagi pengelola dana pensiun, pertanyaan “berapa mahal” menjadi penentu utama sebelum memutuskan porsi investasi.
Di atas panggung, Anthropic juga membawa sinyal kinerja yang menjadi penopang cerita pertumbuhan menjelang IPO. Pendapatan perusahaan disebut melonjak menjadi $16,8 miliar pada kuartal sebelum pencatatan, menempatkannya sebagai entitas AI yang sedang bergerak dari fase pembuktian menuju skala komersial yang lebih mapan. Angka tersebut biasanya ikut membentuk ekspektasi pasar—baik dari sisi permintaan produk, maupun dari sisi proyeksi pertumbuhan.
Berita Terkait
Namun, kehati-hatian yang disuarakan CIO seperti Pearce menunjukkan adanya ruang evaluasi yang lebih ketat. Mereka tidak semata-mata menilai kemampuan teknologi, melainkan juga menimbang bagaimana pasar akan menghargai perusahaan pada saat IPO berlangsung. Pada fase ini, valuasi yang terlalu agresif dapat membuat potensi kenaikan terbatas, meski bisnisnya tetap menarik.
Lebih jauh, pembahasan para investor juga tidak lepas dari konteks dinamika pencatatan saham di Australia. Disebutkan bahwa keyakinan pasar terhadap IPO sempat diuji oleh gagalnya IPO Firmus Grid Ltd., yang seharusnya masuk dalam jajaran pencatatan terbesar sepanjang sejarah negara tersebut. Peristiwa seperti itu kerap menjadi pengingat bahwa momentum IPO tidak selalu berjalan mulus, dan sentimen investor dapat berubah cepat ketika menghadapi ketidakpastian.
Dengan latar tersebut, rencana Anthropic menjadi semacam ujian ulang bagi pasar modal yang mengincar peluang AI. Jika IPO benar-benar memberikan akses yang lebih besar bagi investor Australia, maka pertanyaannya bukan hanya apakah minat pada AI tinggi, tetapi juga apakah harga yang muncul di pasar mencerminkan risiko, siklus permintaan, dan kemungkinan variasi performa setelah fase debut.
Dalam forum yang sama, pembicaraan yang menonjol adalah perbedaan antara “mengagumi” perusahaan dan “bersedia membayar” berdasarkan ekspektasi yang terbentuk menjelang pencatatan. Secara praktik investasi, dua hal itu sering kali dipisahkan oleh margin penilaian. Investor bisa yakin pada kualitas produk, namun tetap menunggu valuasi berada pada level yang dianggap rasional untuk jangka menengah.
Rencana IPO juga menempatkan Anthropic pada posisi untuk memperluas persebaran teknologi melalui para pembuat chatbot Claude. Akses ke industri pensiun Australia yang mencapai A$4,8 triliun memperlihatkan betapa besar skala dana yang potensial menjadi basis dukungan, sekaligus pasar yang bisa memengaruhi arah harga saat pencatatan berlangsung.
Meski demikian, sikap skeptis dari sejumlah CIO menunjukkan bahwa peluang menjanjikan tidak otomatis berarti investasi akan berjalan “fantastis.” Penilaian akhir tetap bergantung pada keselarasan antara kinerja yang telah terlihat, prospek setelah IPO, serta harga yang dibentuk ketika saham pertama kali diperdagangkan oleh pasar.
Dengan demikian, IPO Anthropic di hadapan investor Australia bukan hanya soal masuknya satu emiten baru ke bursa, melainkan juga soal pembacaan ulang terhadap cara pasar menetapkan valuasi untuk bisnis AI. Di tengah pendapatan yang disebut melonjak hingga $16,8 miliar pada kuartal sebelum pencatatan, kehati-hatian para pengelola dana menjadi sinyal bahwa disiplin harga masih menjadi variabel kunci menjelang momen debut.












