jurnalistik.co.id – CIMB Niaga melaporkan kinerja pada semester I 2026 yang ditopang oleh pertumbuhan kredit/pembiayaan serta penguatan dana murah. Dana murah tumbuh 6,9 persen secara tahunan, sejalan dengan pergeseran transaksi nasabah ke kanal digital yang telah melampaui 90 persen.
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatat pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar 6,6 persen secara tahunan menjadi Rp 247,2 triliun pada semester I 2026. Bank yang berdiri sejak 1955 itu juga menyampaikan bahwa transaksi nasabah semakin bergeser ke kanal digital dengan porsinya telah melampaui 90 persen.
Di sisi dana, bank mencatat kenaikan current account and savings account (CASA) sebesar 6,9 persen secara tahunan menjadi Rp 193,1 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut berjalan beriringan dengan penguatan dana murah yang menjadi bagian penting dalam struktur pendanaan.
Pada semester I 2026, laba sebelum pajak konsolidasian tercatat Rp 4,3 triliun. Laba per saham (earning per share) disebut mencapai Rp 136,67.
Pertumbuhan kredit dan dana murah disebut Lani Darmawan sebagai salah satu penopang kinerja sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Direktur dan CEO CIMB Niaga, Lani Darmawan, dalam keterangannya pada Jumat (14/8/2026).
“Kami bersyukur dapat meraih kinerja yang stabil pada semester pertama 2026, didukung pertumbuhan pada kredit/pembiayaan dan dana murah (CASA) yang berkelanjutan, serta implementasi strategi yang disiplin,” ujar Lani.
Menurut Lani, kinerja juga tercermin dari pergerakan pendapatan dan laba operasional. “Pendapatan operasional (revenue) dan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit) masing-masing tumbuh 6,8 persen Y-o-Y dan 6,5 persen Y-o-Y.”
Di tengah dinamika pendapatan bunga, bank menyatakan adanya peningkatan kontribusi pendapatan nonbunga. Langkah tersebut disebut membantu mengimbangi penurunan pendapatan bunga bersih.
Bank juga melaporkan perbaikan kualitas aset pada periode yang sama. Rasio kredit bermasalah bruto atau gross non-performing loan (NPL) membaik menjadi 1,83 persen.
CIMB Niaga menambahkan bahwa pihaknya memperkuat pencadangan untuk perusahaan multifinance sesuai ketentuan regulator. “Secara keseluruhan, hasil ini mencerminkan ketahanan fundamental bisnis kami, sekaligus komitmen untuk terus membangun bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Lani.
Kekuatan neraca dan struktur pendanaan
Dari sisi neraca, total aset konsolidasian CIMB Niaga mencapai Rp 382 triliun per 30 Juni 2026. Nilai tersebut naik 6,7 persen secara tahunan.
Dana pihak ketiga (DPK) dilaporkan meningkat 2,8 persen menjadi Rp 269,3 triliun. Pada saat yang sama, rasio CASA mencapai 71,7 persen.
Berita Terkait
Bank turut menyampaikan indikator permodalan dan likuiditas. Capital adequacy ratio (CAR) tercatat 23,5 persen, sedangkan loan to deposit ratio (LDR) berada pada 90,4 persen.
Perkembangan per segmen
Jika ditelusuri berdasarkan segmen, perbankan korporasi mencatat pertumbuhan kredit dan pembiayaan tertinggi. Pertumbuhan pada segmen ini mencapai 13,8 persen secara tahunan.
Perbankan komersial tumbuh 4,6 persen. Sementara itu, usaha kecil menengah (UKM) meningkat 2,9 persen, sedangkan perbankan konsumer hanya tumbuh 0,1 persen.
Pada kredit dan pembiayaan ritel, Kredit Pemilikan Mobil (KPM) meningkat 4,7 persen secara tahunan. Melalui Unit Usaha Syariah (UUS), CIMB Niaga Syariah mencatat total pembiayaan Rp 54 triliun dan DPK Rp 50,9 triliun per 30 Juni 2026.
Bank menyatakan pembiayaan ditopang pertumbuhan segmen ritel. Struktur pendanaan diperkuat melalui perluasan jaringan komunitas dan kontribusi dana murah.
Pembiayaan berkelanjutan dan agenda transisi
CIMB Niaga juga menyampaikan bahwa pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp 66 triliun. Angka tersebut setara dengan 26,7 persen dari total outstanding pembiayaan pada semester I 2026.
Portofolio pembiayaan tersebut mencakup pembiayaan pada sektor energi terbarukan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sustainability-linked financing. Bank juga menyebut menerapkan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan aktivitas pembiayaan berkelanjutan pada portofolio korporasi, UMKM, dan konsumer.
“Penanganan perubahan iklim memerlukan komitmen jangka panjang dan aksi kolektif yang konsisten. Di CIMB Niaga, kami terus mempercepat agenda dekarbonisasi melalui pengurangan jejak operasional serta perluasan pembiayaan berkelanjutan guna mendukung transisi yang inklusif dan berkeadilan menuju ekonomi rendah karbon,” ujar Lani.
“Sejalan dengan upaya tersebut, kami juga berkomitmen untuk terus berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan melalui berbagai inisiatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menciptakan nilai jangka panjang bagi generasi mendatang.”
Langkah ke depan dengan strategi Forward30
Ke depan, bank menjalankan strategi Forward30. Strategi ini menekankan pertumbuhan kredit berkualitas dan penghimpunan CASA sebagai fondasi utama, sekaligus mendorong diversifikasi sumber pendapatan.
Selain itu, CIMB Niaga juga menyebut fokus pada layanan wealth management, transaction banking, dan penguatan ekosistem digital. Dengan kerangka tersebut, bank menargetkan pertumbuhan yang terukur serta berkelanjutan pada periode setelah semester I 2026.












