jurnalistik.co.id – Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, menyampaikan pesan penuh emosi kepada skuadnya setelah kekalahan getir di semifinal melawan Argentina. Dalam kesempatan itu, ia mengajak para pemain untuk segera menutup Piala Dunia 2026 dengan penampilan yang kuat di laga berikutnya.
Usai pertandingan pada Rabu, para pemain kembali ke basis mereka di Kansas City. Mereka kemudian menjalani dua sesi latihan terakhir sebelum laga perebutan medali perunggu, yang berlangsung Sabtu di Miami melawan Prancis.
Menurut informasi yang disampaikan BBC Sport, Tuchel secara kolektif mendorong tim untuk meletakkan kekecewaan di belakang dan menyelesaikan turnamen dengan capaian terbaik. Ia menekankan bahwa hasil di pertandingan perebutan peringkat tiga akan menentukan cara mereka menutup perjalanan.
Jika Inggris mampu mengalahkan Prancis di Miami untuk merebut posisi ketiga, itu akan menjadi torehan terbaik mereka di Piala Dunia putra sejak menjuarai kompetisi pada 1966. Bagi Tuchel, laga ini menjadi momentum untuk mengubah rasa frustrasi menjadi energi baru.
Dalam pidato tersebut, Tuchel juga menegaskan rasa bangga atas usaha yang mereka tunjukkan sepanjang musim dan perjalanan di Amerika Utara. Perjalanan itu membuat “Three Lions” hanya mencapai semifinal Piala Dunia untuk keempat kalinya dalam sejarah mereka.
Namun, hubungan Tuchel dengan para pemain muncul sebagai isu yang mendapat sorotan setelah Argentina menang 2-1 pada laga semifinal. Kemenangan itu terjadi lewat dua gol yang datang di akhir pertandingan, mengunci Inggris dari peluang melangkah ke partai puncak.
BBC Sport melaporkan pada Kamis bahwa sejumlah pemain kunci merasa kecewa terkait instruksi yang diberikan tim saat pertandingan berlangsung. Inggris sempat memimpin lebih dulu lewat gol Anthony Gordon, tetapi akhirnya situasi berbalik ketika pertandingan memasuki fase penentuan.
Berita Terkait
Tuchel kemudian kembali menggunakan formasi bertahan dengan memasang back-five. Di saat yang sama, ia melakukan beberapa pergantian yang bernuansa defensif pada bagian akhir laga, menyusul kebangkitan Argentina yang dipimpin Lionel Messi.
Messi tampil sebagai pemantik perubahan, termasuk melalui kontribusi assist yang membuka peluang bagi Enzo Fernandez. Setelah itu, Lautaro Martinez menjadi penentu lewat gol pada menit ke-92, yang memastikan kemenangan Argentina dan merampas mimpi Inggris untuk tampil di final.
Meski demikian, Tuchel kemudian terlihat menolak gagasan bahwa mundur dan perubahan pendekatan defensif adalah hasil dari arahan yang ia berikan kepada tim. Ia menyampaikan kepada media-media Inggris bahwa tidak ada rencana untuk turun lebih dalam, dengan kutipan, “it’s maybe not in our DNA…to control the game and ball”.
Menjelang laga melawan Prancis, Tuchel kemungkinan akan kembali mendapat pertanyaan mengenai pendekatan taktis timnya. Konferensi pers pra pertandingan untuk laga perebutan perunggu dijadwalkan berlangsung pada pukul 0030 BST di hari Sabtu.
Sebelum fokus ke laga berikutnya, masa depan Tuchel juga berada dalam sorotan. Ia terpantau memperpanjang kontraknya selama dua tahun pada Februari, setelah sebelumnya ditunjuk pada Januari 2025 dengan tugas awal selama 18 bulan untuk membawa Inggris meraih gelar Piala Dunia 2026.
Selanjutnya, Tuchel dipahami masih mendapat dukungan dari Football Association. Ia juga diperkirakan akan memimpin tim pada fase berikutnya menuju Piala Eropa 2028, yang diselenggarakan di Inggris, Wales, Skotlandia, dan Republik Irlandia.
Dengan jarak yang tersisa tidak lama lagi menuju laga di Miami, pesan Tuchel kepada skuad kini menjadi bagian penting dari rencana jangka pendek. Setelah tersingkir dari jalan menuju final, Inggris berpeluang membuktikan bahwa mereka mampu menutup turnamen dengan kepala tegak—sebagaimana yang diminta Tuchel dalam pidato emosionalnya di Kansas City.












