jurnalistik.co.id – Kekalahan di semifinal Piala Dunia selalu meninggalkan rasa pahit, terutama setelah serangkaian “hampir” yang berulang dalam beberapa edisi. Namun, bagi Inggris, hasil tersebut juga tidak menutup rapat pintu untuk melihat sisi positif yang bisa menjadi modal di langkah berikutnya.
Dengan latar sejarah yang getir—kalah di final Eropa secara beruntun pada 2021 dan 2024, serta tersingkir di semifinal Piala Dunia pada 2018—semangat tetap diuji. Meski demikian, turnamen ini tetap memperlihatkan sejumlah hal yang patut membuat suporter tidak mudah tenggelam dalam kekecewaan.
Kekuatan mencetak gol: Kane dan Bellingham
Keberadaan dua penyerang yang tampil sebagai kandidat Golden Boot sekaligus merupakan bukti daya saing yang nyata. Harry Kane, yang masuk ke Piala Dunia 2026 setelah mencatat rata-rata satu gol setiap 66 menit bersama Bayern Munich musim ini, segera menunjukkan ketajamannya di awal turnamen.
Kane mengawali dengan dua gol saat Inggris menghadapi Kroasia, lalu menambah empat gol berikutnya saat tim terus melangkah. Pada akhirnya, keduanya—Kane dan Jude Bellingham—membukukan 12 gol di Piala Dunia 2026, dengan Kane mencatat enam gol dan Bellingham menyamai jumlah tersebut.
Bellingham mungkin datang dengan momentum yang lebih tenang, setelah musimnya bersama Real Madrid relatif sepi setelah pulih dari operasi bahu. Tetapi di turnamen ini, performanya kembali memuncak, hingga ia berada pada angka yang sama dengan Kane: enam gol masing-masing.
Menjelang laga perebutan tempat ketiga, Kane dan Bellingham sama-sama sejajar sebagai pencetak gol terbanyak bersama dengan total enam gol. Keduanya berada di bawah “pemimpin” sementara yang berasal dari Kylian Mbappé dan Lionel Messi dengan delapan gol. Pada fase ini, baik Kane maupun Bellingham masih punya peluang memperbaiki posisi, bergantung pada hasil laga perebutan tempat ketiga.
Relief terbesar untuk Inggris juga datang dari momen-momen penyelamat. Kane mencetak dua gol saat menghadapi DR Congo yang mencegah Inggris tersingkir lebih cepat dari yang seharusnya di babak 32 besar. Sementara itu, Bellingham menyumbang dua gol ketika menghadapi Norwegia, memastikan langkah Inggris mencapai semifinal.
Meskipun Kane belum mengunci komitmen untuk tampil di Piala Dunia 2030, setidaknya ada harapan satu kesempatan lagi untuk melihat duet gol kedua pemain itu bersama dalam gelaran Euro 2028.
Inkonsistensi “jauh dari puncak” mulai berubah
Menembus semifinal pada turnamen besar sudah bukan hal yang benar-benar asing bagi Inggris seperti pada periode sebelumnya. Meski kekalahan di semifinal tetap menyakitkan, capaian itu menjadi sinyal adanya kemajuan dalam perjalanan turnamen.
Sebelum semifinal Piala Dunia 2018, Inggris belum pernah melampaui perempat final sejak Italia 1990. Bahkan hingga momen mereka kalah di final Euro 2020 dari Italia, pencapaian terbaik Inggris masih berada di perempat final setelah kekalahan semifinal mereka dari Jerman pada 1996.
Meski trofi masih menjadi tanda tanya, fakta bahwa Inggris mencapai semifinal atau final dalam empat dari lima turnamen besar terakhir menunjukkan pergeseran yang signifikan dalam bentuk performa. Dengan kata lain, tim tidak hanya “bertahan”, tetapi mampu bersaing sampai fase yang menentukan.
Inggris tetap beradaptasi menghadapi kondisi sulit
Piala Dunia 2026 juga ditandai oleh faktor eksternal yang ikut menguji pemain dan penggemar: panas, kelembapan, petir, hingga hujan. Turnamen tidak sekadar soal kualitas bola, tetapi juga soal seberapa cepat tim menyesuaikan diri dengan situasi di lapangan.
Inggris memang mendapatkan keuntungan dari beberapa pertandingan yang berlangsung di stadion berpendingin udara dengan atap, seperti laga di Atlanta melawan DR Congo. Tetapi tidak semua pertandingan memberikan kemudahan yang sama.
Berita Terkait
Di babak perempat final melawan Norwegia, Inggris menghadapi kelembapan yang menyesakkan dan suhu yang tinggi di Miami. Lalu pada babak 16 besar melawan tuan rumah, Meksiko, Inggris harus berhadapan dengan isu yang banyak dibahas: ketinggian stadion Azteca.
Untuk melengkapi tantangan, faktor Meksiko tidak hanya terkait lingkungan stadion. Inggris juga harus menuntaskan laga saat menghadapi rekor kandang yang kuat dan atmosfer yang keras di lokasi pertandingan.
Meski begitu, Inggris dinilai mampu beradaptasi dan tidak tampak tergerus oleh faktor-faktor itu, setidaknya tidak lebih buruk dibanding lawan. Persiapan melalui pemusatan latihan sebelum turnamen juga disebut membantu penyesuaian kondisi.
Pada titik ini, kekuatan mental dan fisik pemain menjadi bagian dari penjelasan mengapa tim bisa bertahan dalam tekanan cuaca ekstrem—sebuah modal yang diharapkan relevan ketika menghadapi kondisi yang lebih familier pada Euro 2028.
Performa pemain yang tidak terlalu disorot
Keputusan Thomas Tuchel dalam pemilihan skuad pada bulan Mei sempat memicu pertanyaan. Sejumlah pemain yang biasa tampil dalam turnamen Piala Dunia bersama Inggris tidak masuk dalam rencana awal, termasuk Harry Maguire.
Selain itu, Cole Palmer juga tidak ada dalam pilihan itu, begitu pula Trent Alexander-Arnold yang bermain untuk klub-klub terbesar di dunia. Meski begitu, pada akhirnya, keputusan memasukkan Djed Spence justru memberi dampak yang bermanfaat.
Spence datang dari periode bersama Tottenham, klub yang sedang berjuang melawan ancaman degradasi. Di Piala Dunia 2026, ia termasuk nama yang mendapat perhatian khusus karena kontribusi defensifnya yang solid. Setelah kekalahan semifinal dari Argentina, Spence mendapat pujian dari fans maupun pengamat, terutama karena sejumlah tekel penting saat Inggris berusaha menahan arus serangan lawan.
Dalam sepak bola, apresiasi besar sering lebih mudah jatuh kepada pemain dengan statistik gol. Tetapi jika Inggris ingin meraih trofi lagi, kedalaman skuad yang bisa diandalkan melalui pemain seperti Spence menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
Bakat muda menunggu giliran
Kritik yang muncul pada skuad Inggris saat ini salah satunya terkait ketergantungan pada sosok seperti Harry Kane. Berusia 32 tahun, Kane tidak akan lama berada di puncak peran untuk menyelamatkan tim dari situasi sulit seperti yang mereka hadapi saat menghadapi DR Congo.
Dengan kemungkinan banyak pemain senior pada akhirnya tidak lagi menjadi bagian utama panggung internasional, muncul kekhawatiran bahwa pengalaman turnamen bisa menjadi kehilangan besar bagi skuad. Namun, dari sudut pandang yang sama, ketersediaan talenta muda dalam pengelolaan Tuchel bisa dibaca sebagai kesempatan untuk merombak arah dengan lebih terencana.
Sejumlah penggemar merasa Rio Ngumoha dari Liverpool sempat kurang beruntung tidak masuk skuad penuh. Alasannya berawal dari penampilan impresifnya di debut musim Premier League, lalu berlanjut saat ia dinobatkan sebagai pemain terbaik (man of the match) pada debutnya di usia 17 tahun dalam laga uji pemanasan turnamen melawan Selandia Baru.
Sementara itu, Max Dowman dari Arsenal juga menjadi sorotan karena capaian yang menggambarkan bakatnya sejak dini. Ia menjadi pencetak gol termuda dalam sejarah Premier League pada usia 16 tahun pada bulan Maret, dan namanya turut menguatkan gambaran bahwa regenerasi bisa terus berjalan.
Langkah setelah Piala Dunia juga membuka ruang pembelajaran. Setelahnya, Nations League akan dimulai pada 24 September, menjadi kesempatan lain bagi Tuchel dan skuad untuk memahami apa yang berjalan tidak ideal di Piala Dunia sekaligus menyusun kesinambungan dari sisi positif yang sudah tampak.
Lalu, perhatian akan mengarah ke Euro 2028 yang berlangsung di tanah Eropa dengan status tuan rumah bersama: Inggris, Skotlandia, Wales, dan Republik Irlandia. Banyak penggemar berani berharap pada kemungkinan final ketiga beruntun, namun kali ini dengan hasil yang berbeda.












