jurnalistik.co.id – Sabtu (27/6/2026) malam, Stasiun MRT Dukuh Atas terlihat jauh lebih padat dari biasanya menyusul puncak perayaan HUT ke-499 DKI Jakarta di Bundaran HI. Berdasarkan pantauan pada pukul 22.25 WIB, area stasiun dipenuhi penumpang yang hendak naik maupun turun.
Kepadatan paling terasa pada arus penumpang yang melakukan perpindahan antarmoda. Sebagian besar penumpang yang turun memanfaatkan tarif Rp 1 untuk transit dari MRT Bundaran HI, lalu melanjutkan perjalanan dengan berganti ke MRT Dukuh Atas sebelum berpindah lagi ke KRL Commuter Line di Stasiun Sudirman.
Lonjakan penumpang itu berdampak langsung pada antrean di tap out MRT Dukuh Atas. Antrean mengular hingga sekitar 100 meter dan pada salah satu gerbang tercatat mencapai sekitar 40 orang.
Setelah melewati gerbang, beberapa penumpang terlihat berlari untuk mengejar waktu keberangkatan KRL di Stasiun Sudirman. Kondisi ini menunjukkan bahwa kepadatan bukan hanya terkonsentrasi di area masuk-keluar, tetapi juga terbawa ke alur perpindahan menuju jaringan KRL.
Di luar antrean, area tangga dan eskalator naik juga dipenuhi penumpang yang berdesakan. Di salah satu sisi, penumpang bergerak mengikuti eskalator dengan rapat, memperlihatkan tekanan arus yang terjadi bersamaan di beberapa titik pergerakan.
Kepadatan juga terlihat di dalam gerbong MRT yang mengarah ke Stasiun Lebak Bulus. Para penumpang tampak saling merapat agar dapat naik dan masuk ke ruang gerbong, terutama saat kereta yang tersedia menarik arus penumpang ke satu tujuan.
Meski begitu, antrean di luar gerbong tidak tampak serapat ketika dibandingkan dengan kepadatan di tap out. Ini antara lain karena jarak antar keberangkatan dipercepat sekitar 10 menit per rangkaian kereta, sehingga penumpang tidak terlalu lama menunggu di titik antrian.
Di tengah situasi tersebut, terdapat penyesuaian layanan. Salah satu petugas MRT Dukuh Atas menyampaikan, “Sementara kita tutup dulu, karena padat jadi semua diprioritaskan untuk bubaran dari (Bundaran) HI ke arah Lebak Bulus.”
Pernyataan itu menggambarkan mengapa penumpang tidak selalu bisa mengikuti rute perjalanan normal. Bagi penumpang yang semestinya menuju Stasiun MRT Bundaran HI, mereka harus turun terlebih dahulu di Dukuh Atas, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menggunakan ojek online menuju kawasan Bundaran HI.
Penyesuaian rute ini membuat sebagian penumpang mencari alternatif yang lebih praktis untuk tetap mengikuti jadwal setelah acara. Salah satunya Vivi (27) yang mengaku sengaja menggunakan MRT sebagai penghubung agar tidak perlu berjalan kaki dari lokasi acara menuju Stasiun KRL Sudirman Baru.
Vivi mengatakan, “Naik dari Bundaran HI mau lanjut ke Stasiun Sudirman, karena kan cuma Rp 1 juga jadi kayak gratis, enggak capek jalan, lumayan 1 km soalnya.” Ia juga menyebut bersyukur bahwa Stasiun MRT Bundaran HI tidak mengalami kepadatan sama sekali, sehingga perjalanan yang ia rencanakan tidak ikut terganggu di titik awal.
Secara keseluruhan, puncak HUT ke-499 DKI Jakarta yang berlangsung di Bundaran HI malam itu berimbas pada perubahan ritme mobilitas di sekitar Dukuh Atas. Kepadatan sepanjang 100 meter di tap out, konsentrasi penumpang di tangga dan eskalator, hingga kondisi berdesakan di gerbong ke Lebak Bulus menjadi gambaran bagaimana arus acara besar langsung memengaruhi perpindahan penumpang antar-sistem transportasi.
Perubahan arus itu membuat sejumlah penumpang menyesuaikan cara berpindah meski tujuan akhir yang mereka kejar tetap sama. Alur yang semula dipakai untuk keluar masuk secara rutin berubah menjadi lebih “terarah”, mengikuti arahan agar konsentrasi penumpang cepat mereda dari area Dukuh Atas.
Tak hanya soal antrean, perpindahan menuju jaringan KRL juga terlihat lebih cepat dipicu oleh kebutuhan mengejar keberangkatan. Karena itu, sebagian penumpang memilih bergerak lebih agresif di sekitar titik koneksi, sementara yang lain menunggu dengan jarak lebih rapat agar tidak ketinggalan momen saat jadwal bergulir.
Dalam konteks perayaan yang sedang berlangsung, kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana satu titik aktivitas besar dapat memengaruhi beberapa segmen sekaligus: dari kepadatan tap out, keterisian di tangga dan eskalator, hingga suasana di dalam gerbong saat kereta mengalir ke Lebak Bulus.












