jurnalistik.co.id – Ramainya warga yang memadati puncak perayaan HUT Ke-499 DKI Jakarta di Bundaran HI membuat arus kunjungan ikut memuncak, termasuk soal tempat parkir. Di sekitar kawasan tersebut, ruang kantong parkir mulai penuh, dari kendaraan yang parkir di area yang semestinya hingga yang memanfaatkan lokasi lain di sekitar lokasi acara.
Sabtu (27/6/2026) malam, pengunjung mengeluhkan sulitnya menemukan slot parkir yang kosong. Kondisi ini membuat sebagian orang pada akhirnya memilih cara lain agar tetap bisa menghadiri rangkaian kegiatan, meski harus berjalan kaki dari titik yang tersedia.
Salah satunya dialami Resti (26), warga yang datang bersama teman-temannya. Ia memutuskan memarkir motornya di area Monas karena datang lebih telat dan mencari pilihan yang dianggap paling memungkinkan untuk ditinggalkan.
“Kita parkirnya di Monas karena datangnya telat, nyari yang gampang aja dan enggak macet di Monas juga tadi pas datang, pas pulang juga lebih aman,” kata Resti kepada Kompas.com di lokasi, Sabtu malam.
Resti mengatakan jarak yang harus ditempuh dari Monas menuju Bundaran HI sekitar 1,5 kilometer. Ia menyebut pilihan tersebut membantu agar ia tetap bisa sampai ke titik acara tanpa terjebak masalah mobilitas di sekitar lokasi.
Ia juga membandingkan pengalamannya pada acara serupa sebelumnya, yaitu saat konser malam di Bundaran HI menjelang Tahun Baru 2026. Saat itu, ia mengaku kesulitan mencari tempat parkir hingga harus menunggu 30 menit ketika hendak pulang karena motornya tertutup kendaraan lain.
Karena pengalaman tersebut, Resti memilih strategi yang berbeda pada perayaan kali ini. Ia menilai perjalanan kaki yang ia jalani masih bisa diterima, apalagi dilakukan dalam situasi keramaian.
“Jalan kaki 20 menitan kali ya, enggak sampai setengah jam, lumayan berasa lagi CFD. Tapi kan rame-rame yang jalan juga banyak, jadi nyantai aja, sambil jajan juga,” ucap Resti.
Sebagian pengunjung lain juga menghadapi kendala serupa, terutama yang datang dengan mobil. Sofyan (47), warga asal Cideng, Jakarta Pusat, menceritakan bahwa ia perlu waktu sekitar 20 menit untuk berputar-putar mencari tempat parkir yang benar-benar kosong.
“Kayaknya 15-20 menit ada cuma muter doang nyari parkir, karena di mana-mana penuh, pinggir jalan yang parkir liar juga udah enggak muat,” kata Sofyan kepada Kompas.com di lokasi, Sabtu malam.
Setelah berkeliling, Sofyan akhirnya memperoleh tempat parkir di area belakang Mal Grand Indonesia. Ia menilai keberhasilannya mendapatkan slot parkir tidak lepas dari momen saat kendaraan lain baru saja keluar, sehingga ruang yang semula penuh kemudian menjadi tersedia.
“Itu juga dapetnya rejeki banget ada yang pas keluar, kalau enggak masih lanjut muter lagi,” ucapnya.
Di tengah situasi itu, ada pula pengunjung yang memilih untuk tetap mencari lokasi parkir sedekat mungkin dengan Bundaran HI, alih-alih mengambil alternatif yang lebih jauh. Rahmadi (30), warga asal Matraman, Jakarta Timur, mengaku tetap berupaya menemukan tempat parkir di sekitar area acara.
Ketersediaan parkir yang terbatas ini, pada akhirnya, menjadi bagian dari pengalaman banyak orang saat hari puncak perayaan berlangsung. Keramaian yang tinggi membuat proses mencari tempat parkir lebih panjang, sehingga pengunjung yang datang lebih belakangan cenderung menyesuaikan pilihan rute dan titik pemberhentian.
Dalam kondisi seperti ini, sebagian pengunjung yang mengambil opsi parkir di lokasi yang lebih luas kemudian menukar tantangan transportasi dengan jarak tempuh berjalan kaki, sementara yang lain terus mencari hingga menemukan titik yang memungkinkan. Terlepas dari strategi yang dipilih, keluhan yang paling menonjol tetap sama: sulitnya mendapatkan tempat parkir kosong di sekitar Bundaran HI pada Sabtu malam.












