jurnalistik.co.id – TEHERAN — Skuad Piala Dunia Timnas Iran diberi tahu bahwa mereka harus memasuki dan meninggalkan wilayah Amerika Serikat pada hari yang sama dengan pertandingan yang dimainkan.
Pembatasan visa tersebut disampaikan utusan Iran, Abolfazl Pasandideh, dalam penjelasan kepada wartawan. Ia mengatakan, “Kita bisa masuk di pagi hari dan harus keluar di hari yang sama,” seperti dikutip dari AFP pada Sabtu (6/6/2026).
Aturan itu muncul seiring konflik AS-Iran yang sedang berlangsung dengan Teheran. Dalam konteks tersebut, Iran kini bermarkas di Meksiko, bukan di lokasi yang sebelumnya direncanakan di Tucson, Arizona.
Namun, tidak semua anggota rombongan Iran dapat mengikuti rencana perjalanan tersebut. Sebagian staf pendukung tidak bisa masuk AS karena visanya ditolak.
Tim kemudian berangkat ke Meksiko setelah meninggalkan Turkiye pada Sabtu. Mereka memulai perjalanan sekitar pukul 18.10 waktu setempat menuju Tijuana di barat laut Meksiko, yang menjadi tempat mereka bermarkas selama turnamen berlangsung.
Iran dijadwalkan menjalani tiga pertandingan grup di AS. Kondisi ini menjadikan Piala Dunia pertama di mana negara tuan rumah menerima tim dari negara yang sedang berperang dengannya.
Perubahan markas Iran tidak terjadi mendadak menjelang turnamen. Iran memindahkan markas mereka ke Tijuana dari markas semula di Tucson, Arizona, pada akhir Mei.
Sebelum berangkat, skuat menghabiskan hampir tiga minggu di kamp pelatihan di Antalya, Turkiye. Selama periode tersebut, mereka menggunakan waktu untuk mengajukan visa perjalanan ke Meksiko, Kanada, dan AS.
Pada malam sebelum keberangkatan ke Meksiko, para pemain menerima visa AS. Meski demikian, visa untuk staf pendukung justru ditolak, sehingga memicu respons keras dari pihak Iran.
Kedutaan besar Iran di Turkiye kemudian mengeluarkan pernyataan tegas setelah penolakan visa tersebut. Melalui akun X pada Sabtu, kedutaan menulis, “Anda kini telah meningkatkan perlakuan yang disengaja dan diskriminatif terhadap tim sepak bola nasional Iran ke tingkat tertinggi.”
Dalam pernyataan yang sama, kedutaan besar Iran menyerukan FIFA untuk meminta pertanggungjawaban AS atas pelanggaran aturan-aturannya. Selain itu, kepala federasi sepak bola Iran juga disebut tidak memperoleh visa.
Nama yang disebut dalam konteks penolakan visa tersebut adalah Mehdi Taj, yang tercatat sebagai presiden Federasi Sepak Bola Iran. Ia dilaporkan termasuk di antara mereka yang ditolak visanya.
Dengan rangkaian penolakan itu, skuad tetap melanjutkan agenda menuju markas di Tijuana, sedangkan beberapa pihak pendukung tidak dapat mengikuti keberangkatan ke AS sesuai jadwal pertandingan.
Kasus ini menempatkan Iran pada situasi perjalanan yang dibatasi ketat, dengan aturan masuk dan keluar AS pada hari yang sama. Di sisi lain, rombongan masih menghadapi dampak konflik AS-Iran terhadap proses administrasi visa yang menentukan keberlangsungan persiapan dan keikutsertaan di turnamen.
Menurut penjelasan yang disampaikan utusan Iran kepada media, pembatasan itu berarti seluruh rombongan yang berhak masuk harus menyesuaikan rencana hari kedatangan dan keberangkatan agar sesuai dengan ketentuan visa. Dengan pola seperti itu, ruang gerak untuk agenda di luar jadwal pertandingan menjadi lebih sempit, terlebih ketika konflik kedua negara terus memengaruhi proses administrasi.
Di tahap persiapan, skuad tidak hanya memfokuskan diri pada latihan, tetapi juga mengurus dokumen perjalanan untuk beberapa tujuan sekaligus. Hampir tiga minggu berada di kamp pelatihan di Antalya, Turkiye, sebelum akhirnya mengajukan visa untuk Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat sebagai bagian dari skema keberangkatan. Pada malam sebelum meninggalkan Turkiye menuju Meksiko, pemain memperoleh visa AS, sementara sejumlah visa untuk staf pendukung tidak disetujui.
Penolakan yang menimpa staf pendukung dan nama-nama yang disebut dalam respons resmi Iran kemudian memperjelas bahwa dampaknya tidak hanya pada logistik di lapangan, tetapi juga pada kesiapan layanan yang mendukung rombongan selama turnamen. Meski beberapa pihak tidak bisa mengikuti perjalanan sesuai jadwal pertandingan di Amerika Serikat, tim tetap melanjutkan langkah menuju Tijuana sebagai markas yang dipilih setelah pemindahan dari Tucson, Arizona, pada akhir Mei.












