Peristiwa

BBWS C3 Menjelaskan Rumah Warga Bendungan Karian yang Muncul Kembali

×

BBWS C3 Menjelaskan Rumah Warga Bendungan Karian yang Muncul Kembali

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Viral Rumah Warga yang Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Lagi, BBWS C3 Berikan Penjelasan

jurnalistik.co.id – Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWS C3) menjelaskan kemunculan kembali rumah-rumah warga yang sempat tenggelam di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten. Fenomena itu viral setelah debit air bendungan menyusut memasuki musim kemarau.

Dalam beberapa hari terakhir, beredar video dan foto yang menunjukkan bangunan permukiman yang sebelumnya berada di bawah air kini kembali tampak. Warga setempat mengaitkan perubahan itu dengan berkurangnya ketinggian muka air.

Kepala BBWS C3, Dedi Yudha Lesmana, menyatakan kondisi tersebut dinilai wajar. Menurutnya, kemunculan kembali sisa bangunan tidak mengindikasikan gangguan terhadap fungsi Bendungan Karian sebagai penyedia air baku, layanan irigasi, serta pengendali banjir.

Dedi menjelaskan, bangunan bekas permukiman yang terlihat berada di wilayah Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak. Ia menyebut lokasi tersebut berada di hulu bendungan dengan elevasi di atas +64,50 meter.

Selain itu, Dedi menyampaikan jarak lokasi yang dimaksud sekitar 16 kilometer dari As bendungan. Karakter letak dan ketinggiannya, kata dia, membuat sebagian area dapat kembali terlihat saat muka air mengalami penurunan.

Dedi menyampaikan, “Sehingga meskipun muka air waduk berada pada elevasi normal, sebagian lahan maupun bangunan yang telah dibebaskan memang masih akan tampak karena hanya tergenang sebagian,” melalui keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (28/7/2026).

Ia menuturkan bahwa saat pembangunan Bendungan Karian, seluruh lahan pada area genangan telah dibebaskan sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, proses pekerjaan di lokasi lebih menekankan pada pembersihan vegetasi, bukan pembongkaran menyeluruh terhadap seluruh bangunan yang berada di area tersebut.

Menurut Dedi, kondisi itu membuat sisa bangunan tidak hilang sepenuhnya. Ketika ketinggian muka air turun secara alami pada musim kemarau, bagian yang sebelumnya tertutup air berkurang dan akhirnya kembali terlihat.

“Ketika muka air waduk mengalami penurunan secara alami, sisa bangunan tersebut dapat kembali terlihat,” ujar Dedi.

BBWS C3 juga memastikan bahwa meski musim kemarau berlangsung, ketersediaan air Bendungan Karian saat ini masih aman. Ia menegaskan tidak ada dampak terhadap pengairan lahan pertanian di wilayah layanan.

Dedi menyebut debit total air yang dirilis dari Bendungan Karian sebesar 24 mÂł/detik. Debit tersebut merupakan suplesi irigasi dari intake Bendungan Karian menuju Bendung Gerak Pamarayan Baru guna melayani aliran Ciujung.

Selain membahas ketersediaan debit, Dedi juga menerangkan besaran penurunan muka air. Ia menyatakan, “Penurunan muka air sekitar 80 sentimeter dari elevasi normal merupakan kondisi yang lazim terjadi pada musim kemarau dan masih berada dalam batas aman operasi waduk.”

Berdasarkan penjelasan tersebut, kemunculan kembali bangunan yang sempat tenggelam dipahami sebagai akibat perubahan tinggi muka air dari kondisi normal ke kondisi yang lebih rendah saat kemarau. Dalam pandangan BBWS C3, perubahan itu sejalan dengan karakter operasional waduk pada periode kering.

Dedi menekankan bahwa pemilik lahan maupun warga yang memantau lokasi dari waktu ke waktu dapat melihat perbedaan tutupan air seiring penurunan debit. Dengan elevasi yang lebih tinggi di hulu, area yang hanya tergenang sebagian akan kembali tampak saat muka air turun.

Fenomena viral ini, lanjutnya, tidak berarti bendungan mengalami gangguan fungsi. BBWS C3 menyebut bendungan tetap menjalankan peran-perannya, termasuk mendukung penyediaan air baku, pengairan melalui sistem irigasi, serta pengendalian banjir.

Gambar udara yang beredar juga menunjukkan sisa puing bangunan di kawasan Bendungan Karian yang mengering. Dalam laporan yang menyertai pemberitaan, foto udara tersebut diambil pada Jumat (24/7/2026), ketika air surut dan memperjelas bagian-bagian bangunan yang sebelumnya tidak terlihat.

Dengan penjelasan resmi dari BBWS C3, kemunculan kembali rumah warga di Bendungan Karian diposisikan sebagai fenomena musiman yang dapat terjadi karena penurunan muka air. Langkah klarifikasi ini dimaksudkan untuk meluruskan kekhawatiran publik bahwa perubahan yang tampak di permukaan berhubungan dengan gangguan terhadap pengelolaan waduk.

BBWS C3 menegaskan, selama debit dan operasi waduk masih berada dalam batas aman, layanan irigasi tetap berjalan. Penurunan muka air sekitar 80 sentimeter saat kemarau dipandang sebagai kondisi yang lazim, sehingga kemunculan bangunan yang tersisa tidak perlu ditafsirkan sebagai masalah serius pada Bendungan Karian.