jurnalistik.co.id – JAKARTA, KOMPAS.com – Motor listrik kerap dipandang lebih aman ketika harus melintasi genangan atau banjir dibandingkan kendaraan konvensional. Meski begitu, pemilik tetap tidak boleh mengabaikan perawatan setelah kendaraannya sering digunakan menerobos area tergenang.
Muhlasin, pemilik bengkel spesialis motor listrik EV Solution di Pondok Aren, Tangerang Selatan, mengingatkan bahwa komponen penggerak pada motor listrik tetap berisiko mengalami kerusakan jika terlalu sering terpapar air. “Kalau sering menerobos banjir harus waspada,” kata Muhlasin kepada Kompas.com belum lama ini.
Menurut Muhlasin, salah satu komponen yang perlu mendapat perhatian adalah BLDC (Brushless Direct Current Motor) yang menjadi sumber penggerak utama motor listrik. Jika air sempat masuk dan mengganggu bagian ini, gejala yang muncul biasanya terasa saat kendaraan mulai digunakan kembali.
Tanda air mulai masuk ke BLDC
Muhlasin menjelaskan bahwa ada beberapa gejala yang bisa dirasakan pengendara ketika air mulai masuk ke dalam BLDC. “Tandanya kalau air sudah masuk ke BLDC itu putaran roda mulai seret, dan baterai jadi lebih boros karena beban putaran berat,” ujarnya.
Selain perubahan pada performa putaran, suara motor saat melaju juga dapat berubah menjadi berisik. Kondisi semacam itu, menurut Muhlasin, tidak boleh dibiarkan terlalu lama karena berpotensi menimbulkan karat pada komponen internal motor penggerak.
Ia menekankan pentingnya penanganan lebih awal agar kerusakan tidak berkembang. “Suaranya juga jadi lebih kasar. Harus segera dibawa ke bengkel sebelum karatan, karena kalau (BLDC) sudah karatan susah diselamatkan,” kata Muhlasin.
Bearing roda juga rentan aus
Tak hanya BLDC, Muhlasin juga menyebut bearing roda sebagai komponen yang rentan mengalami penurunan usia pakai ketika motor sering digunakan melewati banjir. Pada penggunaan normal, usia bearing roda motor listrik tidak jauh berbeda dengan motor bensin.
Namun, menurutnya, kondisi berubah ketika kendaraan bekerja dengan intensitas tinggi atau kerap menerjang genangan air. Muhlasin menjelaskan perbedaan itu dari cara penggunaan di lapangan, termasuk pada kendaraan yang dipakai untuk layanan seperti ojol.
“Kalau bearing roda, kalau pemakaian normal bisa awet seperti motor bensin, tapi kalau buat ojol atau sering lewat banjir, itu boros banget, kadang sebelum enam bulan sudah minta ganti,” ujarnya.
Dengan demikian, pemilik tidak hanya perlu memikirkan apakah kendaraan tetap bisa berjalan, tetapi juga memantau tanda-tanda yang mengarah pada penurunan performa dan peningkatan kebutuhan perawatan. Ketika motor mulai menunjukkan gejala, artinya ada komponen yang sudah bekerja di kondisi tidak ideal akibat paparan air.
Pemeriksaan berkala jadi kunci
Karena itu, Muhlasin menyarankan pemilik motor listrik yang kerap melintasi jalan tergenang untuk melakukan pemeriksaan berkala. Langkah ini penting untuk mencegah kerusakan yang lebih parah sekaligus menjaga performa dan efisiensi kendaraan tetap optimal.
Dalam konteks BLDC, pemeriksaan berkala juga relevan karena air yang masuk dapat membuat putaran roda seret serta meningkatkan konsumsi baterai. Perubahan suara yang makin kasar pun menjadi sinyal agar kendaraan segera diperiksa sebelum muncul karat yang lebih sulit ditangani.
Pada sisi bearing roda, pemeriksaan berkala membantu memastikan komponen tetap berada dalam batas kemampuan yang sesuai dengan cara pemakaian harian. Muhlasin mencontohkan bahwa pada penggunaan intensitas tinggi, termasuk untuk ojol atau rute yang sering melewati banjir, kebutuhan penggantian bisa terjadi lebih cepat.
Kompas.com memuat informasi ini sebagai pengingat bahwa motor listrik memang relatif aman ketika melintasi genangan, tetapi tetap memerlukan perhatian setelah sering terkena paparan air. Kompas.com, 16 Juni 2026, 10:22 WIB.












