Otomotif

Mazda MX-30 Terbentur Hambatan di Pasar Mobil Listrik Indonesia

×

Mazda MX-30 Terbentur Hambatan di Pasar Mobil Listrik Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mazda MX-30 Hadapi Tantangan di Pasar Mobil Listrik Indonesia

jurnalistik.co.id – PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) selaku agen tunggal pemegang merek Mazda di Tanah Air mengakui Mazda MX-30 belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas sejak mulai dipasarkan pada akhir 2024.

COO PT EMI sekaligus Presiden Direktur Mazda Indonesia, Ricky Thio, menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari harga hingga jarak tempuh yang dinilai belum selaras dengan kebutuhan mayoritas konsumen.

“MX-30 ya, kita memang ngejual enggak banyak jujur ngomong. Waktu itu kita masukkan mungkin 20 unit. Memang ya, hanya itu aja,” kata Ricky saat ditemui di Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/7/2026).

Ricky menuturkan bahwa sejak awal, MX-30 memang didatangkan dalam jumlah terbatas. Ia menyebut, selain menjadi model Battery Electric Vehicle (BEV) pertama Mazda di Indonesia, spesifikasi yang dibawa saat itu belum sepenuhnya sesuai dengan karakter pasar domestik.

“Karena pada waktu kita masukkan mobil BEV pertama, mungkin waktu itu belum terlalu cocok yah untuk Indonesia karena harganya mahal, baterai yang juga masih yang range yang terbatas, sekitar 200 kilo (km),” ujar Ricky.

MX-30, lanjut Ricky, dibekali baterai berkapasitas 35,5 kWh dengan jarak tempuh sekitar 200 kilometer dalam sekali pengisian daya. Sementara itu, harga jualnya disebut berada di kisaran Rp 860 jutaan.

Menurut Ricky, angka tersebut relatif lebih rendah dibanding sebagian besar mobil listrik yang saat ini dipasarkan di Indonesia. Meski begitu, ia menilai kebutuhan kendaraan listrik di tiap negara tidak bisa disamaratakan.

“Tapi untuk Mazda sendiri sebenarnya, ya ini mungkin ada satu kebutuhan dari Indonesia. Tapi kalau kita secara global, mungkin dari 200 negara di dunia ini, tidak semuanya pertumbuhan BEV-nya seperti Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan perbedaan kondisi lingkungan pasar antara Indonesia dan negara lain, termasuk Amerika Serikat. “Contoh Amerika Serikat (AS). I think AS completely different environment dengan Indonesia,” lanjut dia.

Dengan pertimbangan itu, Ricky menegaskan keputusan terkait pengembangan model, desain, hingga strategi produk sepenuhnya ditetapkan oleh Mazda Corporation. Di sisi lain, Mazda Indonesia berperan menjalankan distribusi di pasar domestik.

“Mazda kan bikin mobil nggak hanya untuk Indonesia, apalagi kalau lihat berapa market di Indonesia, berapa market di U.S. Nah itu yang kita lihat,” ujarnya.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan wholesales Mazda MX-30 sepanjang Januari-Mei 2026 hanya mencapai dua unit. Di saat yang sama, Mazda telah menghentikan produksi MX-30 secara global sejak Maret 2025.

Sejalan dengan keputusan tersebut, EMI juga sudah tidak lagi melakukan pemesanan unit baru. Perusahaan kemudian memfokuskan diri pada layanan purnajual bagi para pemilik kendaraan.

Ke depan, strategi elektrifikasi Mazda di Indonesia akan dilanjutkan dengan model yang dinilai lebih kompetitif. Salah satu kandidat terkuat adalah Mazda EZ-6, atau Mazda 6e, mobil listrik hasil kolaborasi dengan Changan yang telah dikonfirmasi akan hadir di pasar Indonesia dalam waktu dekat.

Ricky juga menilai, karakter konsumen yang mencari efisiensi penggunaan harian tidak selalu sejalan dengan kapasitas baterai dan jarak tempuh yang ditawarkan MX-30 pada fase awal peluncuran. Di titik itulah EMI melihat kesenjangan antara ekspektasi pasar dan spesifikasi kendaraan.

Setelah produksi MX-30 dihentikan secara global sejak Maret 2025, EMI ikut menyesuaikan langkah bisnis dengan tidak lagi melakukan pemesanan unit baru. Perubahan arah tersebut membuat fokus perusahaan bergeser pada dukungan layanan purnajual untuk para pemilik yang sudah lebih dulu mengendarai model tersebut.

Meski MX-30 menjadi penanda langkah pertama Mazda menghadirkan kendaraan listrik baterai di Indonesia, performa penjualannya yang sangat terbatas membuat strategi elektrifikasi berikutnya diarahkan ke produk yang dinilai lebih kompetitif. Dalam konteks itu, Mazda EZ-6 atau Mazda 6e yang merupakan mobil listrik hasil kolaborasi dengan Changan disebut sudah dikonfirmasi akan hadir di pasar Indonesia dalam waktu dekat.