Daerah

Semarang Menerima Lima Artefak Bersejarah 1892–1955, Termasuk Saham Hotel Du Pavillon 1892

×

Semarang Menerima Lima Artefak Bersejarah 1892–1955, Termasuk Saham Hotel Du Pavillon 1892

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Semarang Terima Artefak Berusia Lebih dari Seabad, Ada Saham Hotel Legendaris Tahun 1892

jurnalistik.co.id – Pemerintah Kota Semarang, Jawa Tengah, menerima lima jenis artefak dari rentang tahun 1892 hingga 1955. Penyerahan itu menjadi bagian dari penguatan arsip sejarah Kota Semarang.

Di antara koleksi yang diterima terdapat lampu kuno. Pemerintah juga memperoleh sepuluh lembar saham Hotel Du Pavillon Semarang tahun 1892.

Koleksi lain yang masuk meliputi saham Semarangsche Administratie Maatschappij tahun 1908. Selanjutnya ada Bewijs van Aandeel Meubelindustrie Andriesse tahun 1909.

Artefak berikutnya adalah Surat Sero (saham) NV Seng Tek Tjian tahun 1955. Seluruh dokumen dan benda bersejarah tersebut akan dikonservasi dan ditempatkan sebagai bagian dari penguatan arsip sejarah Kota Semarang.

Dokumen-dokumen tersebut dinilai memiliki nilai historis tinggi. Arsip yang tersimpan diyakini merekam perkembangan perdagangan, industri, investasi, serta dinamika ekonomi Semarang sebagai salah satu kota maritim terpenting di Nusantara.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa penerimaan artefak ini bukan sekadar pengumpulan benda lama. Menurutnya, warisan itu membantu generasi sekarang memahami perjalanan panjang Kota Semarang.

“Kami memastikan bahwa warisan ini akan dikonservasi dengan benar agar nilainya tetap abadi dan tidak rusak oleh waktu,” kata Agustina, Kamis (2/7/2026).

Agustina juga menyampaikan keberadaan artefak tersebut dapat memperkaya narasi sejarah yang selama ini masih tersebar di berbagai daerah maupun berada dalam koleksi pribadi. Upaya konsolidasi, lanjutnya, diharapkan membuat kisah sejarah menjadi lebih utuh untuk dipahami.

Pemerintah Kota Semarang, melalui komitmen tersebut, berupaya mengumpulkan kembali berbagai dokumen dan peninggalan sejarah. Langkah itu dimaksudkan sebagai bagian dari pembangunan memori kolektif kota.

Ke depannya, koleksi yang sudah diterima tidak hanya disimpan sebagai arsip. Artefak tersebut juga akan dimanfaatkan sebagai sumber edukasi, penelitian, serta pengembangan wisata sejarah.

“Kehadiran dokumen yang Bapak-bapak sampaikan ini tentu akan memperkaya cerita yang bisa dinikmati oleh mereka yang berkunjung ke Kota Semarang,” ujar Agustina.

Pada kesempatan yang sama, Agustina menyebut harapannya agar Kota Semarang memiliki Museum Bahari. Ia memandang museum tersebut perlu untuk menghadirkan sejarah maritim secara lebih utuh.

“Mudah-mudahan tahun depan, tahun 2027, kita punya cukup energi untuk membangun Museum Maritim. Karena Kota Semarang ini menjadi kota yang disebut terus-menerus di dalam sejarah kemaritiman,” imbuhnya.

Dengan demikian, penerimaan artefak dari periode 1892 hingga 1955 diposisikan sebagai fondasi penguatan ingatan sejarah. Pemerintah, melalui konservasi dan pemanfaatan koleksi, berusaha memastikan nilai dokumentasi ekonomi dan perdagangan Semarang tetap bisa dibaca oleh publik di masa mendatang.

Rangkaian saham dan surat sero yang diterima juga memperlihatkan jejak investasi dan aktivitas industri pada masa yang berbeda. Pemerintah menempatkannya sebagai materi yang relevan untuk memahami perubahan ekonomi sekaligus dinamika kota.

Target jangka pendek maupun rencana yang lebih panjang diarahkan agar koleksi sejarah tersebut memiliki ruang untuk dikenali. Dari konservasi yang tepat hingga pemanfaatan untuk edukasi dan penelitian, pemerintah ingin warisan itu berfungsi dalam perjalanan sejarah Kota Semarang.

Langkah ini sekaligus menjadi dasar penyusunan narasi maritim yang diharapkan lebih kuat. Museum Bahari yang ditargetkan pada tahun 2027 menjadi salah satu wujud harapan tersebut, setelah artefak-artefak kunci masuk dan dipersiapkan perawatannya.

Keberagaman artefak yang diserahkan sepanjang 1892 hingga 1955 memperlihatkan bahwa jejak ekonomi Kota Semarang tersimpan dalam berbagai bentuk, mulai dari lampu kuno hingga rangkaian dokumen saham dan surat sero. Setiap koleksi diposisikan sebagai bukti aktivitas perdagangan, industri, serta investasi pada masanya.

Setelah melalui proses konservasi, koleksi yang telah diterima juga direncanakan untuk mendukung kegiatan edukasi dan riset, sehingga tidak berhenti sebagai benda yang disimpan. Pemerintah menyiapkan agar warisan tersebut dapat dikenali publik dan menjadi bagian dari pengalaman wisata sejarah, sejalan dengan harapan hadirnya Museum Bahari pada 2027.