Daerah

Warga Kemanggisan Palmerah Nilai Tanggul Kali Grogol Sudah Siap, Tapi Banjir Masih Mengintai

×

Warga Kemanggisan Palmerah Nilai Tanggul Kali Grogol Sudah Siap, Tapi Banjir Masih Mengintai

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Warga Kemanggisan Jakbar Apresiasi Tanggul Kali Grogol, tapi Sebut Banjir Masih Menghantui

jurnalistik.co.id – Pembangunan tanggul Kali Grogol di kawasan Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat, mendapat respons positif dari warga. Mereka menilai upaya pemerintah membawa perubahan, tetapi tetap ada kekhawatiran karena banjir dan genangan masih berulang.

Peresmian tanggul Kali Grogol dilakukan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Kamis, 2 Juli 2026. Di sekitar Jalan Anggrek Neli Raya, Kelurahan Kemanggisan, warga mengatakan pekerjaan tersebut sudah terlihat rapi, namun persoalan air belum sepenuhnya selesai.

Iskandar (60) menjelaskan banjir masih kerap melanda area permukiman mereka, tepatnya di RT 11 RW 01. Menurutnya, meskipun tanggul telah dibuat, warga tetap harus mewaspadai luapan saat hujan turun.

β€œKan (air) dari atas turun ke bawah, dari komplek turun ke bawah, ya sedangkan di sini kan enggak menampung yang di kalinya itu, jadinya tumpah ke warga,” kata Iskandar saat ditemui, Kamis.

Iskandar menuturkan bahwa saat hujan dengan intensitas tinggi datang, genangan muncul dari pergerakan air yang mengalir dari berbagai arah. Air itu kemudian menggenang di lingkungan tempat tinggalnya.

β€œJadi airnya dari mana-mana, terus karena di sini kawasan dataran cekung, jadi airnya pada ke sini semua,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa air yang mengalir di Kali Grogol sendiri dipastikan tidak tumpah ke permukiman karena sudah ada tanggul. Namun, warga menilai titik masalah berada pada kontribusi air dari sekitar kawasan yang tetap mengalir dan berkumpul di area cekung.

Meski demikian, Iskandar tetap mengapresiasi langkah pemerintah membangun tanggul. Baginya, salah satu manfaat yang terasa adalah kualitas air genangan yang mengalir ke rumah warga.

β€œYa sekarang jadi lebih bersih walaupun masih banjir. Kalau dulu kan sebelum ditanggul, kalau banjir pasti kotor, airnya kotor,” katanya.

Dengan perubahan tersebut, warga merasa ada perbaikan sekaligus bukti bahwa infrastruktur yang dibangun berpengaruh terhadap kondisi banjir. Kendati demikian, mereka berharap pemerintah tidak hanya berhenti di pembangunan tanggul, karena faktor air dari berbagai sumber di lingkungan tetap bisa menimbulkan genangan.

Warga lain, Herawati (47), juga menyampaikan gambaran yang relatif serupa. Ia menyebut banjir di lingkungan permukimannya sudah terjadi sejak lama, namun kini air terlihat lebih cepat surut.

β€œKalau dulu surutnya agak lama, sekarang kalau banjir surutnya cepet. Sekarang juga kalau banjir airnya enggak terlalu kotor,” tutur Herawati.

Perubahan waktu surut dan kualitas air itu menjadi perhatian utama bagi Herawati sebagai ibu rumah tangga yang sudah puluhan tahun tinggal di area tersebut. Ia menilai perbaikan yang ada memberi harapan, tetapi tetap belum menghapus kekhawatiran akan banjir berikutnya.

Herawati berharap pemerintah bisa menuntaskan akar persoalan agar banjir tidak kembali datang. Ia menyampaikan harapannya secara sederhana, yakni warga tidak perlu lagi menghadapi keadaan darurat ketika hujan mengguyur kawasan.

β€œKalau warga sih berharapnya enggak kebanjiran lagi. Jadi enggak repot kalau kebanjiran,” ucapnya.

Dari keterangan warga, pembangunan tanggul Kali Grogol tampak memberi dampak pada aliran utama di sungai sehingga luapan tidak langsung terjadi seperti sebelum tanggul rampung. Akan tetapi, genangan tetap muncul karena air yang datang dari berbagai arah dan topografi lingkungan yang cenderung cekung membuat air berkumpul di permukiman.

Situasi ini membuat apresiasi warga berjalan beriringan dengan pengingat bahwa pekerjaan lanjutan masih dibutuhkan. Bagi warga Kemanggisan, tantangannya bukan hanya membangun tanggul, tetapi juga memastikan air dari sekitar lingkungan tidak terus menjadi sumber genangan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

Dengan demikian, peresmian tanggul Kali Grogol pada Kamis, 2 Juli 2026, menjadi langkah yang dinilai bermanfaat. Namun, kekhawatiran akan banjir masih tetap mengiringi harapan agar rumah-rumah warga bisa terbebas dari genangan pada musim hujan berikutnya.