Hukum & Kriminal

Yinon Levy Didakwa Lalai Ceroboh atas Penembakan Odeh Hathaleen pada Juli 2025

×

Yinon Levy Didakwa Lalai Ceroboh atas Penembakan Odeh Hathaleen pada Juli 2025

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Israel charges settler over killing of Palestinian involved in Oscar-winning West Bank film

jurnalistik.co.id – Jaksa Israel telah mengajukan dakwaan terhadap seorang pemukim terkait kematian seorang aktivis Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Dakwaan tersebut disampaikan oleh Kantor Kejaksaan Distrik Selatan Israel dan berkaitan dengan penembakan pada bulan Juli 2025.

Yang didakwa adalah Yinon Levy. Ia dituduh melakukan pembunuhan lalai atau reckless manslaughter atas penembakan yang menewaskan Odeh Hathaleen.

Menurut dakwaan, insiden terjadi di Desa Umm Al-Khair. Hathaleen dilaporkan ditembak dalam situasi konfrontasi di wilayah tersebut, sementara footage insiden itu kemudian beredar luas secara daring.

ā€œSaya akan berjuang untuk membuktikan ketidakbersalahan saya di pengadilan,ā€ demikian pernyataan Levy dalam surat yang dilaporkan Associated Press, berdasarkan yang dilihat oleh kantor berita tersebut. Dalam surat yang sama, Levy menilai tindakan yang dilakukan tidak semestinya diperlakukan sebagai pelanggaran karena ia berpendapat ada unsur pembelaan diri.

Levy juga menuduh pihak penuntut memberikan ā€œde facto support for terrorismā€. Ia menyampaikan bahwa jaksa tidak seharusnya menghukum perbuatan yang menurutnya termasuk dalam kerangka pembelaan diri.

Di sisi lain, pengacara pihak keluarga Hathaleen menyatakan harapan bahwa dakwaan ini menjadi ā€œturning pointā€ atau titik balik dalam konsekuensi yang dihadapi pemukim ketika melakukan kekerasan terhadap warga Palestina. Pernyataan tersebut menggambarkan ekspektasi agar proses hukum berjalan sesuai prinsip akuntabilitas.

Pengacara Levy, Avichai Hajbi, menanggapi dakwaan tersebut dengan menyebut bahwa keputusan penuntutan adalah ā€œmistaken decisionā€. Ia menyatakan bahwa pihaknya memandang proses ini tidak tepat secara substansi.

Selain dakwaan pembunuhan lalai, dakwaan terhadap Levy juga mencakup armed trespassing dan malicious property damage. Tuduhan itu muncul dari rangkaian peristiwa pada saat pemukim menjalankan sebuah excavator di desa Palestina Umm al-Khair yang memicu bentrokan dengan warga setempat.

Dalam uraian dakwaan, disebutkan bahwa pada satu titik selama konfrontasi, Levy dikatakan sempat mengarahkan dan menembakkan senjatanya ke arah warga. Pihak kejaksaan menyatakan proyektil tersebut mengenai Hathaleen. Setelah itu, Levy juga disebut melepaskan tembakan kedua ke udara.

Hathaleen sendiri merupakan sosok yang dikenal sebagai guru dan ayah dari tiga anak. Ia juga dikenal sebagai suara yang menentang kekerasan yang dilakukan pemukim di Tepi Barat yang diduduki.

Perannya kemudian kembali menonjol melalui keterlibatannya dalam film No Other Land, yang meraih penghargaan Oscar pada 2025. Film tersebut mengikuti rangkaian proses hukum antara pemerintah Israel dan warga Palestina terkait Masafer Yatta, sebuah komunitas di Tepi Barat yang terdiri dari sekitar 20 desa.

Rangkaian sengketa tersebut, menurut teks dakwaan yang dikutip, berhubungan dengan keputusan yang pada 2022 mengarah pada pembongkaran rumah dan pengusiran lebih dari 1.000 warga. Keputusan itu disebut merujuk pada putusan Mahkamah Agung Israel pada tahun tersebut.

Posisi B’Tselem dan konteks penegakan hukum

Kelompok hak asasi Israel B’Tselem menyebut bahwa ini adalah pertama kalinya seorang warga Israel didakwa atas pembunuhan terhadap seorang warga Palestina di Tepi Barat selama hampir tiga tahun. B’Tselem menilai penuntutan tersebut sebagai pengecualian, bukan perubahan pola menyeluruh.

Dalam penilaian mereka, keputusan mendakwa Levy menjadi ā€œexception that proves the ruleā€. Artinya, bagi B’Tselem, pengecualian itu justru membuktikan bahwa aturan dasar yang selama ini berjalan adalah impunitas.

B’Tselem menyatakan bahwa ā€œimpunityā€ yang diberikan Israel kepada tentara dan pemukim yang menyakiti warga Palestina bukanlah kegagalan sistem. Menurut kelompok tersebut, impunitas itu adalah bagian sentral dari kebijakan yang, dalam pandangan mereka, dirancang untuk membuat kekerasan terus berlanjut dan bahkan meningkat.

Gambaran tentang dampak kekerasan juga disebutkan melalui data Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, setidaknya 1.110 warga Palestina disebut tewas oleh tentara Israel dan pemukim di Tepi Barat, menurut UN yang dirujuk dalam laporan.

Pada periode yang sama, UN juga menyebut sedikitnya 41 orang Israel meninggal akibat kelompok bersenjata atau warga sipil Palestina di wilayah Tepi Barat.

Saksikan insiden dan respons dari aktivis di lokasi

Mattan Berner-Kadish, seorang aktivis Israel-Amerika yang disebut berada di lokasi, mengatakan kepada pihak BBC bahwa respons umum bisa dipahami sebagai rasa lega bahwa ada sesuatu yang bergerak. Ia juga menambahkan bahwa di saat yang sama, ia merasa dakwaan mestinya memuat tuntutan pembunuhan dan berujung pada hukuman maksimal yang lebih panjang.

Berner-Kadish kemudian menyampaikan, ā€œMixed feelings but also certainly pleasantly surprised and happy there might be consequencesā€. Ia menggambarkan perasaan campur aduk, tetapi tetap merasa terkejut dengan adanya kemungkinan konsekuensi hukum.

Levy sendiri sebelumnya telah membantah keterlibatan langsung dalam penembakan yang menewaskan Hathaleen. Pernyataan penyangkalan itu muncul dalam konteks bahwa ia sebelumnya menolak tuduhan tersebut.

Tokoh pemukim ini juga disebut pernah menjadi pemimpin sebuah outpost farm. Ia kemudian dikenai sanksi oleh pemerintah Britania Raya pada 2024, dengan tuduhan bahwa ia ā€œused physical aggression, threatened families at gunpoint, and destroyed property as part of a targeted and calculated effort to displace Palestinian communitiesā€.

Dalam periode yang sama, Levy disebut menyangkal tuduhan itu kepada BBC pada 2024. Selanjutnya, ia juga dikenai sanksi oleh Amerika Serikat pada masa pemerintahan Biden, namun sanksi itu kemudian dicabut pada masa Presiden Donald Trump.

Saat dakwaan berjalan, pihak keluarga Hathaleen menekankan bahwa proses hukum diharapkan memberi sinyal perubahan. Di saat yang sama, Levy dan timnya menilai dakwaan ini keliru dan akan menantangnya di pengadilan, termasuk melalui pembelaan bahwa tindakan yang dilakukan bukanlah tindak kriminal melainkan bagian dari pembelaan diri.

Kasus ini kini menjadi sorotan karena menyangkut kematian aktivis Palestina yang terhubung dengan dokumenter pemenang Oscar, serta menampilkan bagaimana rangkaian konflik di Tepi Barat terus berhadapan dengan pertanyaan tentang tanggung jawab dan konsekuensi atas kekerasan terhadap warga sipil.