jurnalistik.co.id – Amanda Knox kembali menanggapi seruan agar pertunjukan komedi solonya dibatalkan. Ia membela acara itu di tengah kritik yang menilai materinya berpotensi meremehkan kekerasan.
Knox, yang pernah dihukum karena membunuh mahasiswi asal Inggris Meredith Kercher pada 2007 di Italia sebelum kemudian dibebaskan melalui proses banding, akan tampil di Edinburgh Festival Fringe. Acara yang terjual habis itu berjudul Cartwheel, dan menurut penjelasannya membahas perjalanan menjadi ibu serta bagaimana ia berniat menceritakan kasus tersebut kepada putrinya.
Dalam perbincangan dengan BBC, Knox mengatakan ia tidak sedang menjadi orang pertama yang menggunakan komedi untuk membicarakan peristiwa traumatis. Ia menegaskan fokus karyanya adalah “how the world is unsafe and unfair towards women”. Ia juga mengaitkan tema tersebut dengan pengalaman membesarkan seorang anak perempuan di dunia yang menurutnya tidak adil.
Kritik justru datang dari keluarga korban. Stephanie Kercher, saudari Meredith, menyatakan kekhawatirannya bahwa pertunjukan itu dapat “normalise and trivialise” kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan yang menimpa Meredith.
Dalam wawancara di BBC Breakfast, Stephanie Kercher menyampaikan, “What I would say [to Knox] is to think about the family here, think about her friends and to turn the tables if it was your sister that this had happened to, because I know you have a sister as well.” Ia menilai perbandingan itu penting karena tragedi yang dialami keluarga tidak dapat diperlakukan sebagai materi hiburan tanpa konsekuensi emosional.
Menjawab komentar tersebut, Knox justru menolak gagasan bahwa ia sedang meremehkan kasusnya. Ia mengatakan, “The interesting irony of that is that my daughter is a huge motivation for me doing this show.” Ia menambahkan bahwa pertunjukannya membahas bagaimana dunia dinilai “unsafe and unfair towards women” serta makna membesarkan putri di tengah pengetahuan tentang betapa buruk dampak yang bisa terjadi.
Knox juga mengungkap keyakinannya soal respons keluarga korban bila mereka melihat pertunjukan itu. Ia menyatakan, “If they [Kercher’s family] saw my show, they would recognise that.”
Di sisi lain, sebuah petisi yang menentang pertunjukan telah dibuat oleh seorang teman Meredith. Petisi tersebut telah ditandatangani oleh hampir 5.000 orang dan isinya menyebut pertunjukan itu tidak menghormati memori Meredith serta berisiko membuat peristiwa yang sangat menyakitkan menjadi tampak ringan.
Berita Terkait
Stephanie Kercher menambahkan bahwa ia tidak meyakini Meredith akan memandang topik-topik di pertunjukan itu sebagai sesuatu yang bernilai komedi. Ia mengatakan, “Our family’s pain is immense. I can’t explain to you how much pain our family have been through, and also we’re talking two decades later now, this pain.”
Ia juga menyatakan bahwa menurutnya, jika tema tersebut bersifat umum seperti banyak pertunjukan komedi lain, situasinya bisa saja berbeda. Namun, karena yang diangkat berkaitan dengan kasus dan individu tertentu, ia mengaku merasa khawatir akan membuka ruang tertentu bagi pihak lain. Ia menjelaskan, “I think that if it was a generic theme, as many comedy shows are, even when they’re pushing the boundaries, it would be different. “Because this is associated with an individual case and individual person, I think that’s where the worry lies here for me, because who else is this going to then open up this opportunity for?”
Knox, melalui BBC Scotland News, menyatakan bahwa ia tidak menurunkan tingkat keseriusan perkara. Ia menggambarkan pendekatannya sebagai upaya yang tetap penuh hormat. Ia mengatakan, “I hope people will honestly engage in my work and recognise the deep heart and sensitivity that I bring to it as I tell a very personal story.”
Secara spesifik, pertunjukan Cartwheel dijadwalkan berjalan selama lebih dari 11 hari di Gilded Balloon Teviot. Judul pertunjukan itu merujuk pada sebuah kisah yang pernah menyebut Knox melakukan cartwheels di kantor polisi setelah kematian teman sekamar berbahasa Inggrisnya. Knox menegaskan bahwa gerakan itu kemudian menjadi metafora yang menjalar sepanjang pertunjukan.
Ia mengemukakan, “It is about acknowledging that bad things happen in life which will turn you upside down.” Menurutnya, ada ruang untuk mengakui keterbalikan yang dibawa pengalaman buruk, namun tanpa menjadikan peristiwa tersebut sebagai penghambat gerak. Ia menambahkan, “But it’s also about not letting that arrest your momentum because the only way you can land on your feet is through those difficult experiences.”
Dalam bagian lain, Knox menyebut ia ingin membicarakan semuanya secara terbuka dengan keluarga Kercher, tetapi ia mengaku belum pernah diberi kesempatan. Ia mengatakan, “Knox added she would love to have an open and honest conversation with Kercher’s family but claimed she has never had the opportunity.” Ia lalu menambahkan, “It would be incredible for them to see me for who I really am instead of the idea that was delivered to them by people in bad hands,”
Kasus yang dibahas dalam pertunjukan ini berawal dari kematian Meredith Kercher yang terjadi saat ia menjadi exchange student di Italia. Kercher ditemukan meninggal di rumahnya; dilaporkan bahwa tenggorokannya dipotong dan ia mengalami kekerasan seksual. Knox dan Raffaele Sollecito saat itu ditangkap dengan dugaan terkait pembunuhan tersebut, dan Knox kemudian dinyatakan bersalah sebelum dibebaskan melalui proses banding.
Setelah pembebasan, persidangan ulang pada 2014 dikabarkan mengembalikan vonis terhadap Knox dan Sollecito. Namun, pengadilan banding tertinggi Italia akhirnya membatalkan putusan pada 2015. Sementara itu, Ivory Coast-born Rudy Guede menjalani 13 tahun dari hukuman 16 tahun terkait pembunuhan Kercher setelah sidik jarinya ditemukan di tempat kejadian. Pengadilan menyimpulkan bahwa Guede tidak bertindak sendirian, namun setelah Knox dan Sollecito dibebaskan, tidak ada terdakwa lain yang dinyatakan bersalah.
Dalam perkembangannya, Knox kini telah berusia 39 tahun, menikah, memiliki dua anak, dan tinggal di Washington state. Ia berasal dari Seattle. Sejak kematian Meredith, Knox menulis dua buku mengenai masa penahanannya dan juga tercatat menjadi produser eksekutif untuk drama biografis berjudul The Twisted Tale of Amanda Knox.












