Daerah

Yudi, Pensiunan Sopir Ambulans yang Setia Menjadi Jagal Kurban Tiap Idul Adha

0
×

Yudi, Pensiunan Sopir Ambulans yang Setia Menjadi Jagal Kurban Tiap Idul Adha

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bagi Yudi, Menjadi Jagal Kurban Bukan soal Uang, tapi Ibadah dan Kebersamaan

jurnalistik.co.id – Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah kembali membuat Yudi (57) sibuk sejak pagi. Pensiunan sopir ambulans dari salah satu rumah sakit di Kota Bogor itu memilih menghabiskan waktunya di lokasi penyembelihan hewan kurban di kawasan Dramaga, Kabupaten Bogor, bersama para panitia kurban lainnya.

Dengan pakaian sederhana dan pisau sembelih di tangan, Yudi bergerak lincah membantu proses penyembelihan sapi dan kambing kurban. Sesekali, ia juga memberi arahan kepada warga lain yang ikut membantu pemotongan hingga pengulitan hewan kurban, menandakan bahwa pengalamannya memang sudah teruji dari tahun ke tahun.

Bagi Yudi, pekerjaan musiman ini bukan sekadar aktivitas yang diulang setiap Idul Adha. Di matanya, menjadi jagal kurban adalah bagian dari ibadah sekaligus cara menjaga kebersamaan di tengah warga yang ikut saling membantu pada momen perayaan tersebut.

Ia mengaku sudah lama menjadi jagal setiap Idul Adha. Awalnya, semua dimulai dari hal yang sangat sederhana, yakni membantu panitia kurban di masjid dekat rumahnya sebelum akhirnya terbiasa menangani proses penyembelihan sendiri.

“Dulu pertama cuma bantu pegangin hewan sama bersih-bersih. Lama-lama belajar dari jagal senior sampai akhirnya bisa sembelih sendiri,” kata Yudi saat ditemui Kompas.com di lokasi, Rabu (27/5/2026).

Pernyataan itu menunjukkan bahwa keahlian yang ia miliki bukan datang tiba-tiba. Ada proses panjang yang ia jalani, dari sekadar membantu pekerjaan ringan sampai akhirnya dipercaya memegang langsung proses utama penyembelihan hewan kurban.

Menurut Yudi, menjadi jagal tidak cukup hanya mengandalkan keberanian. Ada teknik dan pengalaman yang harus dipahami agar proses penyembelihan berjalan cepat, aman, dan tidak menyiksa hewan kurban.

Karena itu, ia selalu memastikan pisaunya tajam sebelum digunakan. Ia juga memperhatikan posisi hewan agar proses penyembelihan bisa berjalan lancar dan tidak berlarut-larut, sesuai dengan tanggung jawab yang ia pegang setiap kali momen kurban tiba.

Di tengah kesibukannya, Yudi tetap menjaga kebiasaan yang menurutnya penting sebelum menyembelih hewan kurban. Ia biasanya melantunkan bacaan basmalah dan takbir terlebih dahulu sebagai bagian dari adab yang ia pegang selama menjalankan tugas tersebut.

“Pasti baca ‘Bismillahi Allahu Akbar’ sebelum motong,” ujarnya.

Bagi Yudi, kebiasaan itu bukan sekadar ucapan pembuka, melainkan penegasan bahwa pekerjaan yang ia lakukan berada dalam kerangka ibadah. Ia menempatkan proses penyembelihan sebagai bagian dari pengabdian, bukan semata-mata rutinitas yang dikerjakan karena kebiasaan atau kemampuan teknis.

Pengalaman panjang membuat Yudi menjadi sosok yang dipercaya di lingkungan tempat tinggalnya setiap kali Idul Adha datang. Saat para warga berkumpul untuk menyelesaikan hewan kurban, kehadirannya membantu memastikan pekerjaan berjalan lebih teratur, mulai dari penyembelihan, pemotongan, hingga pengulitan.

Di lokasi penyembelihan, ia tidak hanya fokus pada satu tugas. Ia tampak aktif bergerak dari satu bagian ke bagian lain, menyesuaikan kebutuhan panitia kurban dan warga yang ikut membantu. Pola kerja seperti itu membuat suasana gotong royong terasa menonjol di tengah kesibukan penyembelihan.

Yudi juga menjadi contoh bagaimana pengalaman sederhana bisa tumbuh menjadi kemampuan yang diandalkan banyak orang. Dari hanya membantu membersihkan dan memegang hewan, ia berkembang menjadi sosok yang kini bisa menangani penyembelihan sendiri dengan lebih terampil.

Meski sudah pensiun dari pekerjaannya sebagai sopir ambulans, Yudi tetap punya peran penting setiap Idul Adha. Ia tidak hanya hadir sebagai warga yang ikut meramaikan suasana kurban, tetapi juga sebagai orang yang memegang tanggung jawab teknis dalam proses penyembelihan hewan.

Di balik kesibukan itu, ada kesan kuat bahwa Yudi menjalani peran tersebut dengan rasa tanggung jawab dan ketulusan. Ia memandangnya sebagai ibadah, sekaligus sebagai bentuk kebersamaan yang membuat pekerjaan berat terasa lebih ringan karena dikerjakan bersama-sama.

Itulah yang membuat Yudi terus setia kembali ke lokasi penyembelihan setiap tahun. Selama Idul Adha tiba, ia tetap memilih berada di tengah panitia dan warga, membantu memastikan ibadah kurban berjalan sebagaimana mestinya, dari awal hingga selesai.