jurnalistik.co.id – Arman (43), warga asal Bogor, menjalani hari-hari dengan cara yang serba tidak pasti di Jakarta. Ia kerap memanfaatkan halte atau ruang publik sebagai tempat beristirahat saat malam tiba.
Di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Senin (29/6/2026), Arman menceritakan bahwa tidurnya tidak pernah benar-benar pulas. Rasa khawatir untuk terusir dan takut barangnya hilang selalu muncul ketika ia mencoba memejamkan mata.
“Tidur enggak pernah nyenyak. Takut diusir, takut barang hilang. Tas ini enggak pernah lepas dari badan,” ujarnya.
Tangannya dan perhatiannya seakan tidak pernah jauh dari tas ransel hitam yang ia peluk dan gandeng sepanjang malam. Bagi Arman, tas itu menjadi pegangan sekaligus batas aman yang ia percaya bisa mengurangi kecemasan.
Di dalam tas tersebut, ia menyimpan dua setel pakaian, sebotol air minum, serta selembar sarung lusuh. Susunan barang sederhana itu menjadi perlengkapan inti agar ia tetap bisa bertahan sampai waktu berganti.
Ketika hujan datang, malam terasa makin panjang. Halte yang ia pakai tidak selalu mampu melindungi tubuhnya dari angin dan air yang menyusup dari segala arah.
Meski rasa dingin dan lapar memang berat, Arman mengatakan ada beban lain yang lebih menggerus pikirannya. Ia merasakan stigma yang melekat ketika orang melihatnya tidur di ruang publik.
“Capek batin. Orang lihat kita tidur di halte langsung pikir pengemis atau pemalas. Padahal saya kerja. Saya enggak minta-minta. Saya cuma belum sanggup punya tempat tinggal,” kata Arman sambil menatap jalanan yang masih ramai.
Ia menyebut sudah menjalani pola hidup berpindah sejak delapan bulan terakhir. Keputusan itu muncul setelah ia tidak lagi sanggup membayar kos di kawasan Pasar Minggu.
Arman awalnya masih bisa ngekos, namun biaya yang semakin sulit diikuti membuatnya terpaksa mencari cara lain. Ia kini menggambarkan kondisi tempat tinggal pengganti yang paling murah pun berada di kisaran Rp 700.000 hingga Rp 1 juta, dan itu pun belum termasuk kebutuhan makan.
Untuk bertahan hidup, ia mengandalkan pekerjaan serabutan yang tidak selalu datang tiap hari. Ia kadang bekerja sebagai tukang angkut material, kadang membantu proyek-proyek kecil yang membutuhkan tenaga.
Pola pendapatannya pun tidak stabil. Dalam ceritanya, Arman pernah memperoleh sekitar Rp 150.000 dalam sehari, tetapi pada situasi lain bisa juga tidak ada panggilan selama tiga hari berturut-turut.
Meski berasal dari Bogor, Arman memilih tetap berada di Jakarta. Ia memandang kota ini masih menyimpan peluang, sekecil apa pun, terutama terkait kemungkinan mendapatkan kerja di hari berikutnya.
“Kalau pulang, saya malah bingung mau ke mana. Di sini minimal masih ada harapan dapat kerja besok,” ucapnya.
Dengan kondisi itu, ia menjalani setiap malam dalam kewaspadaan yang sama. Arman berusaha menjaga barang yang ia bawa, sekaligus terus mencari ruang untuk bertahan tanpa merasa benar-benar aman di mana pun ia tertidur.
Di balik rutinitas tidur di tempat terbuka, cerita Arman juga memperlihatkan bagaimana ketidakpastian bisa datang dari banyak sisi. Ketika tempat istirahat tidak memberi kepastian, rasa takut, stigma, dan pilihan pekerjaan yang serabutan menjadi rangkaian yang terus mengiringi langkahnya.
Sementara hidupnya belum menemukan titik yang stabil, ia tetap berpegang pada satu harapan sederhana: kesempatan untuk bekerja besok. Selama harapan itu masih ada, Arman memilih untuk tidak menyerah pada kemungkinan yang ia yakini masih mungkin tumbuh di Jakarta.












