Hukum & Kriminal

Tawuran Semarang Diduga Pakai Bom Molotov, Berlangsung 15 Menit dan Saksi Terbatas

×

Tawuran Semarang Diduga Pakai Bom Molotov, Berlangsung 15 Menit dan Saksi Terbatas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tawuran di Semarang Diduga Pakai Bom Molotov, Berlangsung 15 Menit dan Minim Saksi

jurnalistik.co.id – Polisi sedang mengusut tawuran yang pecah di kawasan Pantura Semarang–Kendal, Semarang. Sebuah rekaman video yang memperlihatkan insiden tersebut viral di media sosial, memunculkan dugaan penggunaan bom molotov.

Peristiwa dilaporkan terjadi di Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Kapolsek Ngaliyan, Kompol Aliet Alphard, menyebut lokasi kejadian berada di Plumbon, Wonosari, dengan titik pengamatan mengarah dari Semarang menuju Kendal di Jalan Pantura.

Berdasarkan keterangan warga, tawuran berlangsung pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 03.30 WIB. Aliet mengatakan aksi diduga berlangsung singkat, dengan perkiraan paling cepat sekitar 10 sampai 15 menit.

Durasi yang relatif singkat itu turut dipengaruhi minimnya saksi yang dapat ditemui. Aliet menjelaskan, masyarakat tidak berani keluar saat kejadian, sehingga yang terdengar lebih banyak sebatas suara, bukan kesaksian langsung atas seluruh rangkaian peristiwa.

Dalam video yang beredar, tampak dua kelompok saling mengancam. Kedua kelompok terlihat menggenggam senjata tajam berukuran sekitar satu meter sebelum akhirnya terjadi aksi pelemparan benda yang diduga bom molotov.

Selain benda yang diduga bom molotov, video juga memperlihatkan adanya petasan. Sebagian besar pelaku dalam rekaman tampak mengenakan jaket hoodie dan memakai helm.

Aliet tidak membantah adanya kemiripan benda seperti bom molotov berdasarkan pengamatan dari video. Namun, polisi masih mendalami asal-usul benda tersebut dan belum dapat memastikan dari mana para pelaku mendapatkannya.

Dari rekaman menuju penyelidikan

Untuk menelusuri peristiwa tersebut, polisi melakukan penelusuran melalui rekaman CCTV. Di saat yang sama, polisi juga menelusuri jejak digital di media sosial yang memuat video tawuran itu.

Aliet mengatakan pihaknya berusaha merunut kronologi melalui data yang tersedia. “Kita runut dari CCTV dan media sosial,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung.

Polisi juga belum mengetahui identitas kelompok yang terlibat dalam tawuran tersebut. Karena itu, penyelidikan masih difokuskan pada pengumpulan informasi untuk memastikan pihak-pihak yang berperan serta kaitan penggunaan benda yang diduga bom molotov.

Proses penyelidikan, kata Aliet, mendapat dukungan dari Polda Jawa Tengah dan Polrestabes Semarang. Dengan dukungan itu, polisi diharapkan dapat memperkuat penelusuran fakta lapangan sekaligus mencocokkan temuan dari video dan catatan pengawasan.

Hingga saat ini, kepastian terkait seluruh detail peristiwa masih dalam tahap penyelidikan. Polisi terus mencari informasi yang lebih lengkap agar rangkaian tawuran, termasuk dugaan sumber benda yang digunakan, dapat dipastikan secara akurat.

Selain menelaah rekaman yang viral, polisi juga berupaya menyelaraskan informasi waktu dan titik kejadian yang disebut warga dengan tampilan di video. Penelusuran diarahkan untuk memahami urutan pergerakan dua kelompok yang saling berhadapan sebelum aksi pelemparan terjadi.

Petugas berupaya melengkapi keterangan yang ada, mengingat pada malam kejadian suasana membuat masyarakat cenderung memilih bertahan di rumah. Polisi berfokus pada pengumpulan informasi tambahan yang dapat menjelaskan apa saja yang sempat terlihat maupun terdengar selama peristiwa berlangsung.

Warga melaporkan tawuran terjadi pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 03.30 WIB, dan durasinya diperkirakan tidak berlangsung lama, berkisar 10 sampai 15 menit. Keterbatasan waktu itu turut membuat penjelasan kronologi menjadi tidak merata, sehingga polisi perlu mencocokkan beberapa versi keterangan.

Dari sisi bukti visual, rekaman menunjukkan adanya benda yang diduga bom molotov sekaligus petasan, serta ciri perlengkapan sejumlah orang yang tampak mengenakan jaket hoodie dan memakai helm. Walau ada kemiripan berdasarkan pengamatan di video, polisi tetap belum bisa memastikan detail asal maupun cara perolehan benda tersebut.

Dalam prosesnya, penyelidikan dilakukan dengan dukungan Polda Jawa Tengah dan Polrestabes Semarang. Dengan kolaborasi itu, polisi diharapkan dapat memperkuat penelusuran di lapangan, menghubungkan temuan dari rekaman dan jejak digital, serta menjawab pertanyaan yang masih tersisa terkait pihak yang terlibat.