Daerah

Aceh Kembali Alami Pemadaman, Warga Merugi dan PLN Sebut Pemulihan Belum Stabil

0
×

Aceh Kembali Alami Pemadaman, Warga Merugi dan PLN Sebut Pemulihan Belum Stabil

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Listrik Padam Lagi di Aceh, Warga Merugi, PLN: Pemulihan Belum Stabil

jurnalistik.co.id – LHOKSUKON — Seluruh Provinsi Aceh kembali mengalami blackout atau pemadaman suplai arus listrik pada Senin (25/5/2026) malam. Kondisi itu kembali membuat warga terdampak dan harus mencari cara lain untuk beraktivitas, termasuk mengisi daya ponsel di warung kopi yang masih bisa beroperasi dengan bantuan mesin generator listrik.

Listrik mulai kembali padam sejak Senin (25/5/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Di tengah situasi itu, sejumlah warga memilih mendatangi warung kopi karena tempat-tempat tersebut masih bisa menjadi sumber penerangan sekaligus lokasi untuk mengisi daya ponsel.

Salah seorang warga Desa Kuta Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Bukhari (45), mengatakan dirinya terpaksa datang ke warung kopi untuk memenuhi daya ponsel. Menurut dia, banyak warga melakukan hal yang sama karena listrik kembali padam dan kebutuhan dasar seperti pengisian daya menjadi sulit dipenuhi di rumah masing-masing.

“Warung kopi pun penuh semua. Susah juga dapat tempat duduk karena semua orang ingin mengisi daya ponsel,” ujarnya.

Bukhari juga menyoroti persoalan pemadaman yang menurutnya masih belum tertangani dengan baik. Ia menyampaikan, “Satu kabel putus, seluruh Sumatera padam. Padahal, kita sudah merdeka begitu lama, tata kelola listrik kita saja belum beres,” katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan Furqan Dawod, pedagang jagung di pusat Kota Lhokseumawe. Ia mengatakan pemadaman listrik membuat dirinya merugi karena tidak memiliki mesin generator untuk menopang aktivitas dagangnya ketika aliran listrik padam.

“Kami tidak punya mesin generator, bergelap-gelapan, dan hanya modal lilin untuk penerangan. Pembeli pun tidak ada,” terangnya. Dalam situasi seperti ini, aktivitas jual beli ikut terganggu karena penerangan terbatas dan suasana menjadi tidak nyaman bagi pedagang maupun pembeli.

Furqan berharap pemadaman listrik bisa ditangani secara serius agar tidak terus merugikan masyarakat. Bagi pedagang kecil seperti dirinya, listrik bukan hanya soal penerangan, tetapi juga berkaitan langsung dengan kelangsungan usaha dan perputaran pembeli di lapangan.

Sementara itu, Manager Komunikasi & TJSL PLN UID Aceh, Lukman Hakim, mengatakan pemulihan sistem kelistrikan di wilayah sub sistem Aceh saat ini masih belum stabil. Menurut dia, kondisi tersebut membuat jaringan kembali mengalami padam di beberapa wilayah.

Ia menyebut, sebagai langkah penanganan cepat, PLN terus mengoptimalkan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) untuk membantu menopang beban kelistrikan. PLN juga menerjunkan tim siaga yang dikerahkan 24 jam penuh di lapangan agar sistem kelistrikan dapat segera pulih sepenuhnya.

“Kami memohon maaf dan atas ketidaknyamanan ini,” tuturnya. Hingga pemulihan benar-benar stabil, warga di sejumlah wilayah Aceh masih harus menghadapi ketidakpastian akibat padamnya listrik yang kembali terjadi dan berdampak langsung pada aktivitas harian mereka.

Kondisi padam yang kembali terjadi pada malam hari membuat banyak warga kesulitan menyesuaikan aktivitas yang bergantung pada listrik. Saat rumah tidak lagi menjadi tempat yang cukup aman dan nyaman untuk beristirahat atau beraktivitas, warung kopi dengan generator menjadi pilihan paling masuk akal meski harus berbagi ruang dengan warga lain yang juga memiliki kebutuhan serupa. Situasi ini menunjukkan betapa cepatnya dampak blackout terasa pada rutinitas masyarakat di berbagai lapisan.

Bagi pedagang kecil, padamnya aliran listrik tidak hanya berarti lampu mati, tetapi juga hilangnya kesempatan untuk tetap membuka usaha secara normal. Dagangan yang seharusnya bisa tetap bergerak pada malam hari ikut terhenti, sementara pembeli pun cenderung menahan diri ketika suasana terlalu gelap dan serba terbatas. Dalam keadaan seperti ini, kerugian bukan hanya dirasakan dari sepinya transaksi, tetapi juga dari terputusnya ritme usaha yang sehari-hari bergantung pada kepastian pasokan listrik.

Karena itu, harapan warga agar pemulihan dilakukan secepat mungkin menjadi hal yang wajar. Masyarakat membutuhkan kepastian agar aktivitas rumah tangga, usaha kecil, dan kebutuhan komunikasi tidak terus-menerus terganggu setiap kali sistem kembali tidak stabil. Selama pasokan belum benar-benar pulih, warga Aceh masih harus bersiap menghadapi malam yang serba terbatas dan mengandalkan solusi darurat yang tersedia di sekitar mereka.