Internasional

Alasan Kim Jong Un bungkam soal ibunya, Ko Yong Hui, di Korea Utara

×

Alasan Kim Jong Un bungkam soal ibunya, Ko Yong Hui, di Korea Utara

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why North Korean leader Kim Jong Un never talks about his mother, Ko Yong Hui

jurnalistik.co.id – Selama 15 tahun berkuasa, Kim Jong Un tidak pernah menyebut ibunya, Ko Yong Hui, secara terbuka. Kerahasiaan itu justru menempatkan Ko sebagai teka-teki yang terus membayangi legitimasi rezim Korea Utara.

Dalam narasi resmi rezim, kekuasaan dinasti Kim ditopang oleh “Mount Paektu” bloodline—garis keturunan yang dilekatkan pada sosok pendiri mitologis bangsa Korea. Namun, identitas dan asal-usul Ko dipandang berpotensi mengguncang fondasi cerita tersebut, karena dianggap tidak sejalan dengan klaim kemurnian garis keturunan yang dijaga ketat oleh negara.

Mount Paektu sendiri kerap disebut sebagai tempat asal mitologis Dangun, pendiri legendaris yang diyakini menjadi cikal bakal kerajaan Korea pertama. Di berbagai versi sejarah populer, gunung itu juga dikaitkan dengan upaya persembunyian Kim Il Sung saat menghadapi Jepang, lalu dikatakan menjadi tempat kelahiran Kim Jong Il—meski laporan lain menyebut kemungkinan besar ia lahir di Rusia. Sejak puluhan tahun, rujukan pada tempat suci itu dipakai untuk merawat legitimasi Dinasti Kim.

Seorang mantan diplomat Korea Utara, Ryu Hyun-woo, menulis dalam bukunya, Kim Jong Un’s Secret Vault, bahwa “Kim Jong Un became heir in his 20s despite having no achievements, solely because of the Paektu bloodline”. Pandangan semacam ini menekankan bahwa garis Paektu menjadi penopang utama suksesi—dan karena itu, kenyataan tentang silsilah maternal Kim Jong Un menjadi lebih sensitif untuk dibicarakan.

Dalam potongan latar yang dihimpun para penulis biografi, Ko Yong Hui disebut lahir di Osaka pada 1952. Ko berasal dari keluarga dengan akar Jeju Island, sebuah pulau di lepas pantai selatan yang kini menjadi wilayah Korea Selatan. Pada masa itu, keluarga Ko tinggal sebagai warga keturunan Korea yang lebih dikenal sebagai “Zainichi Koreans”, yakni para imigran yang datang selama periode penjajahan Jepang atas Semenanjung Korea (1910-1945).

Ketika Ko berusia sekitar 10 tahun, keluarganya kemudian pindah ke Korea Utara. Mereka termasuk salah satu rombongan sekitar 93,000 orang Korea yang berpindah ke Korea Utara antara 1959 dan 1984, setelah tertarik pada skema pemukiman yang menjanjikan kehidupan lebih “idyllic”—termasuk layanan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan yang dijanjikan gratis.

Dalam kehidupan sosial Korea Utara yang berlapis dan hierarkis, kelompok pendatang tersebut tidak hanya dipandang membawa barang-barang dari tetangga selatan. Mereka juga diberi label “jjaepo”, istilah merendahkan bagi orang yang dianggap “contaminated by foreign, dangerous ideologies”. Dalam klasifikasi ketat yang disebut songbun, “jjaepo” digolongkan sebagai “wavering class”, berada di antara kelompok inti dan kelompok yang dipandang bermusuhan. Konsekuensinya, mereka kerap mendapat pengawasan ketat dan sering dikecualikan dari akses pendidikan terbaik atau peluang kerja yang menjanjikan.

Perbedaan perlakuan sosial itu kontras dengan cerita Paektu yang selama ini dipromosikan untuk menopang Dinasti Kim. Kim Hyung-su dari Northern Research Association mengatakan, “The [regime’s] Paektu bloodline is seen as sacred,” dan menambahkan, “So the idea of the leader being a jjaepo’s son is unimaginable.”

Kisah yang disebut “Cinderella”

Ko disebut berhasil menghindari nasib yang sering menimpa sesama Zainichi Koreans setelah menarik perhatian Kim Jong Il, yang sebelumnya sudah dipersiapkan untuk suksesi. Kim Jong Il diketahui telah menikah dengan Kim Young Sook—putri dari pejabat militer berpangkat tinggi—sebuah pernikahan yang dipilih langsung oleh ayahnya. Ia juga disebut memiliki dua gundik lain selain Ko.

Meski demikian, Yoji Gomi—jurnalis Jepang yang menerbitkan buku tentang Ko pada 2025—mengatakan bahwa Ko menarik perhatian Kim Jong Il karena “natural beauty and dancing skills”. Sejumlah laporan menyebut Kim Jong Il jatuh dalam keterikatan besar, lalu memiliki tiga anak bersama Ko.

Namun, anak yang lahir di luar ikatan pernikahan menghadapi stigma berat di Korea Utara. Karena status itu, sementara istri resmi Kim Jong Il tinggal di Pyongyang, Ko dan anak-anaknya disebut ditempatkan sekitar 210km (130 mi) jauhnya di kota pesisir Wonsan. Ko tidak pernah menikah dengan pemimpin tertinggi, dan hubungan mereka tidak diakui oleh rezim.

Gomi menyebut Ko menjalani kehidupan yang “Cinderella-like”. Meski tidak pernah diakui sebagai pasangan keluarga di mata Kim Il Sung, Ko tetap hidup dalam kedekatan yang tidak lazim, setidaknya menurut sejumlah kesaksian dan dokumen yang dikutip oleh berbagai peneliti.

Ryu Hyun-woo menuliskan bahwa Ko “was ‘never recognised as a daughter-in-law by Kim Il Sung’”, dan tidak pernah terlihat di ruang publik bersama Kim Il Sung maupun bersama anak-anaknya. Dr Cheong Seong-chang dari Sejong Institute juga menilai bahwa bila Ko mendapat restu Kim Il Sung, foto bersama kakek dan cucu kemungkinan besar akan disebarluaskan secara luas.

Setelah Kim Il Sung wafat, Kim Jong Il naik menjadi pemimpin tertinggi, dan Ko kemudian disebut menjadi semacam “de-facto first lady”. Ia disebut menemani Kim dalam inspeksi militer dan bersahabat dengan lingkaran pengikutnya. Fujimoto, mantan juru masak Kim, menulis bahwa Kim bahkan mencari pendapat Ko sebelum sejumlah keputusan kebijakan.

Pada 2011, ada dokumenter resmi yang menampilkan cuplikan Ko saat mendampingi Kim dalam kunjungan lokal. Meski begitu, dokumenter itu tidak menyebut nama Ko dan juga tidak dirilis untuk publik. Menurut Dr Cheong, pada Juni 2012 dokumenter tersebut hanya diperlihatkan kepada pejabat senior partai, lalu kemudian bocor dan menyebar di kalangan warga biasa melalui USB yang diselundupkan.

Dr Cheong menjelaskan, “As it spread… people’s curiosity about Ko Yong Hui skyrocketed, so the regime quickly recalled [the documentary],” dan menambahkan bahwa latar belakang Ko berpotensi membuat legitimasi rezim dipertanyakan. Ia juga menyebut bahwa Ko meninggal pada 2004 akibat kanker payudara di sebuah rumah sakit di Paris. Kematian Ko tidak mendapat sorotan dari media milik negara Korea Utara.

Illegitimacy dan suksesi

Pertanyaan yang tersisa adalah bagaimana posisi anak kedua dari seorang gundik—dan juga putra bungsu Kim Jong Il—akhirnya berujung pada suksesi kekuasaan. Kim Young Sook sebagai istri resmi dikabarkan melahirkan dua anak, tetapi keduanya perempuan sehingga tidak masuk dalam jalur suksesi.

Kim Jong Il selain Ko juga diketahui memiliki dua gundik lain: Sung Hae-rim dan Kim Ok. Kim Ok disebut tidak memiliki anak. Untuk sebagian waktu, muncul dugaan bahwa putra pertama Kim Jong Il bersama Sung Hae-rim, Kim Jong Nam, bisa dipertimbangkan sebagai calon pengganti.

Namun, Kim Jong Nam—yang belajar di luar Korea selama lebih dari satu dekade dan dikenal fasih berbahasa Inggris serta Prancis—diduga mulai kehilangan dukungan sejak awal. Alasannya disebut karena ia mempertanyakan suksesi warisan turun-temurun dan mendorong reformasi, menurut Goji yang bertukar email dengannya selama bertahun-tahun. Ia juga sempat memiliki reputasi sebagai orang berpesta, dipengaruhi kebiasaannya sering pergi ke kasino dan gaya hidup yang kerap bepergian.

Pada 2017, setelah beberapa tahun hidup dalam pengasingan di Makau, Kim Jong Nam dibunuh di Malaysia. Ia disebut diracun dengan agen saraf mematikan. Selain itu, Kim Jong Chul—saudara laki-laki yang lebih tua dari Kim Jong Un—dinilai tidak dipilih sebagai penerus karena ketergantungan berat pada opium, menurut mantan diplomat Ryu.

Dalam konteks itu, Ko lantas dipercaya berperan aktif mengarahkan suksesi bagi anak keduanya, Kim Jong Un. Langkah tersebut dikatakan dilakukan atas saran dari saudari Ko yang menilai putranya harus menjadi pemimpin berikutnya, atau keluarga mereka akan menghadapi risiko. Journalist Anna Fifield menuliskannya dalam buku The Great Successor: The Secret Rise and Rule of Kim Jong Un.

Para analis menyebut Kim Jong Un segera menjadi pilihan favorit sang ayah, terutama karena potensi kepemimpinan dan sikap yang kompetitif. Meski sempat belajar singkat di Swiss, ia digambarkan lebih terlindung dibandingkan Kim Jong Nam. Ketika Kim Jong Il meninggal pada 2011, Kim Jong Un—yang saat itu berusia 27 tahun—mengamankan posisinya di takhta.

Sejak saat itu, Kim Jong Un disebut memberi kekuasaan besar kepada saudarinya, Kim Yo Jong. Ia diyakini memimpin departemen propaganda yang berpengaruh, menurut Kementerian Unifikasi Korea Selatan.

Meski demikian, soal asal-usul keluarga Kim masih tetap menyelimuti figur pemimpin tertinggi. Para analis meyakini itulah salah satu alasan mengapa ulang tahun Kim tidak diumumkan sebagai hari libur nasional, berbeda dengan kakeknya dan ayahnya. Menurut pandangan tersebut, pengumuman yang menarik perhatian pada kelahiran Kim bisa membuka pertanyaan yang rumit tentang ibunya dan mengapa ia dibesarkan di luar Pyongyang.

Kerahasiaan mengenai orang tua Kim Jong Un juga disebut bisa berhubungan dengan keputusan cepat untuk memperkenalkan istrinya, Ri Sol Ju, ke ruang publik. Ri dipercaya berasal dari keluarga kelas menengah-atas di Pyongyang, menurut layanan intelijen Korea Selatan. Ri juga disebut pernah menjadi penyanyi dari kelompok pertunjukan bergengsi, dan dikirim untuk belajar menyanyi klasik di China sejak muda—indikator yang biasanya dipakai untuk menunjukkan songbun yang baik.

Gomi mengatakan bahwa “The sense of illegitimacy and resentment Kim Jong Un experienced because of his mother’s background paradoxically became a powerful motivation for him to publicly reveal his wife Ri Sol Ju and daughter Ju Ae at an early stage,”. Gomi menambahkan bahwa penampilan publik semacam itu bisa berakar dari adanya “perceived ‘deficiency’” yang melekat pada asal-usul ibunya.

Jika asal-usul ibu Kim Jong Un suatu saat benar-benar menjadi pengetahuan publik, konsekuensinya dinilai akan besar. Ryu memperingatkan, “If it becomes known that his mother was of ethnic Korean origins from Japan, it would not only shake his legitimacy but also destabilise the hereditary system at its roots,” lalu menegaskan, “It would have the impact of a nuclear bomb on North Korean society.”