jurnalistik.co.id – Ketua Umum Partai Gelora sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Anis Matta meminta kader partainya tidak meniru cara kerja partai-partai besar saat menghadapi Pemilu 2029.
Menurut Anis, Partai Gelora perlu menemukan strategi sendiri agar bisa berkembang dan bersaing secara politik, bukan sekadar mengejar pola yang selama ini digunakan pihak yang sudah mapan.
Pembekalan kader: mulai dari cara berpikir
Pernyataan itu disampaikan Anis saat memberikan pembekalan kepada anggota DPRD Partai Gelora dalam Bimbingan Teknis Nasional (Bimteknas) Partai Gelora pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Anis menegaskan, upaya mengalahkan partai besar tidak akan berjalan jika cara berpikir yang digunakan masih sama, sementara strategi, energi, dan sumber daya yang tersedia jauh berbeda.
Ia menyampaikan, “Kalau Anda ingin mengalahkan partai besar dalam pemilu, tapi cara berpikir kita adalah cara berpikir partai besar, Anda tidak akan pernah menang. Karena Anda tidak akan bisa mengejar mereka dari sisi sumber daya,” kata Anis, Sabtu.
Dalam arahannya, Anis kemudian mengaitkan pesan itu dengan pelajaran dari negara lain yang, menurut penilaiannya, mampu bertahan menghadapi tekanan dari pihak-pihak yang lebih besar.
Ia mencontohkan Iran yang dinilainya tetap mampu bertahan meski menghadapi tekanan negara-negara besar, sementara Partai Gelora memiliki keterbatasan sumber daya.
“Jadi idenya yang paling cemerlang adalah karena dia tidak berpikir dengan cara musuhnya berpikir,” ujar Anis.
Pahami pola besar, tapi jangan ikuti cara kerjanya
Anis mengingatkan para kader untuk memahami pola pikir dan strategi partai-partai besar, namun tidak menyalin cara kerja mereka.
Ia menyebut ada batas yang harus ditutup, agar Partai Gelora tidak terjebak pada pendekatan yang pada akhirnya membuat arah perjuangan menjadi serupa dengan pesaing.
“Satu pintu yang kita tutup di sini adalah pahami cara berpikir partai besar, tapi jangan ikuti cara kerjanya. Kita mesti berpikir dengan cara kita sendiri,” katanya.
Dengan demikian, Anis mendorong kader agar mampu melakukan pembacaan terhadap lawan politik secara konseptual, sambil tetap membangun pendekatan yang lahir dari identitas dan kebutuhan internal Partai Gelora.
Ia juga menekankan bahwa kekuatan politik tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki suatu organisasi.
Menurut dia, ide dan kualitas sumber daya manusia justru menjadi faktor utama ketika sebuah organisasi politik ingin membangun fondasi yang kuat.
73 kader DPRD sebagai motor pengembangan
Anis menyampaikan bahwa Partai Gelora saat ini memiliki 73 kader yang duduk di DPRD dan mereka diharapkan menjadi motor pengembangan partai menuju Pemilu 2029.
Ia menggambarkan peran kader legislatif sebagai penggerak yang diandalkan untuk merumuskan ide serta mengolah gagasan menjadi penguatan organisasi dari waktu ke waktu.
“Yang harus kita perkuat dari tiga unsur ini pertama kali itu adalah ide dan orang. Dan saudara-saudara sekalian yang 73 kader kita ini yang sekarang ada di legislatif, ini adalah orang-orang yang kita andalkan untuk merumuskan ide bagaimana mengubah yang 73 ini menjadi beratus-ratus insyaallah dalam Pemilu 2029 yang akan datang,” ujar Anis.
Pesan tersebut menempatkan ide dan kapasitas kader sebagai inti dari proses perbaikan organisasi, bukan hanya soal seberapa besar fasilitas atau dukungan yang dapat dihimpun.
Partai politik sebagai mesin perubahan sosial
Dalam kesempatan yang sama, Anis menegaskan bahwa partai politik seharusnya berfungsi sebagai mesin perubahan sosial, bukan sekadar kendaraan untuk meraih kekuasaan.
Ia menekankan bahwa seorang politisi harus mampu memengaruhi cara berpikir masyarakat, bukan hanya mengikuti arus opini publik yang sedang berkembang.
“Kalau kita mampu mengikuti atau mengubah persepsi publik itu, nah itu baru leader, itu baru pemimpin. Kalau kita mampu mengubah cara masyarakat hidup, itu baru partai politik. Tapi kalau kita ada dan hanya mengikuti arus, kita adalah follower, bukan leader,” nilai Anis.
Dengan kerangka itu, Anis menempatkan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk membentuk arah, sementara kepantasan publik semata tidak cukup untuk disebut sebagai kepemimpinan politik yang sesungguhnya.
Optimistis hadapi Pemilu 2029
Di bagian akhir arahannya, Anis kembali mengajak seluruh kader Partai Gelora untuk optimistis menghadapi Pemilu 2029 dan mencari terobosan baru agar partai tersebut bisa berkembang lebih besar.
Ia menutup pembekalan dengan ajakan agar Partai Gelora tetap konsisten pada cara sendiri untuk memenangkan kompetisi politik menuju Pemilu 2029.
“Kita mesti menemukan cara kita sendiri untuk memenangkan Partai Gelora 2029 InsyaAllah,” ajak Anis ke para kader Gelora.












