jurnalistik.co.id – Laura Kuenssberg mengangkat satu pertanyaan yang sedang mengemuka di lingkar Partai Buruh: apakah Andy Burnham benar-benar “penyelamat” yang mereka butuhkan untuk melangkah ke Downing Street, atau sekadar pilihan terbaik di tengah kebutuhan politik yang mendesak.
Kandidat yang kini menjabat sebagai wali kota Greater Manchester itu diperkirakan akan masuk ke No 10 dalam kurang dari sebulan. Hanya sekitar 10 hari sebelumnya, ia mencatat kemenangan yang disebut “Russian roulette” oleh seorang mantan menteri—di pemilihan sela Makerfield—dengan mengalahkan Reform dan justru berlawanan dengan anggapan bahwa popularitas Partai Buruh sedang tidak kuat.
Di ruang-ruang parlemen, optimisme itu terlihat sangat nyata. Sejumlah anggota parlemen Buruh dikisahkan memenuhi Westminster Hall pada hari pertamanya kembali untuk berkumpul mengelilingi Burnham demi sebuah foto besar. Suasana yang “strange” bahkan digambarkan sampai orang-orang terlihat “crawling over each other” hanya untuk bisa bergerak lebih dekat.
Namun ketertarikan itu bukan sekadar formalitas. Satu anggota pemerintah menyebut para menteri “sweating their connections” demi mendapatkan kesempatan audiensi. Di balik itu, yang dicari sesungguhnya adalah harapan bahwa Burnham dapat menjalankan tugas yang jauh lebih berat: mengatasi tantangan politik nasional dan menyelamatkan posisi Partai Buruh dalam pemilu berikutnya.
Menurut sejumlah sumber di dalam Partai Buruh, alasan utama keyakinan adalah satu hal yang sulit didapat pada saat yang sama: Burnham dinilai populer. Bahkan ketika tidak semua orang akan menyukainya, ia dianggap punya daya tarik yang mampu membuat pemilih merasa didengar.
Seorang rekan yang pernah bekerja dengan Burnham pada periode awalnya di Westminster merangkum tugas besar itu dengan kalimat: “He’ll have to go from cock of the north to national champion”. Yang dimaksud “the north” sendiri bukan hanya Manchester. Ada juga catatan bahwa Burnham perlu menyesuaikan cara pandangnya—kalimat yang dikutip bahkan menyebut: “He needs to drop this man of the north a bit – he’ll hack off people. It’s deeply upsetting to people from Leeds and Newcastle to think that Manchester is THE north, let alone Scotland. It’s trite.”
Meski begitu, kemampuan Burnham untuk menarik perhatian publik dan menghadirkan ruang percakapan tetap dipandang sebagai kelebihannya. Seorang sekutu menceritakan pengalaman langsung bahwa keterlambatan Burnham justru berhubungan dengan cara ia menganggap setiap percakapan penting, termasuk ketika ia harus menunggu di luar urusan transportasi publik, tetapi berbicara dengan seseorang soal bus.
Di kalangan sesama politisi, ia digambarkan jauh dari citra yang saling menjatuhkan. Sejumlah sumber menyebutnya “Affable”, “warm”, dan digambarkan sebagai sosok yang “really nice person – politics is a contact sport and it’s not contrived”. Seorang anggota parlemen lain bahkan melabelinya sebagai “good bloke”, dengan tambahan komentar bahwa “sound would be the Manchester word”.
Walau demikian, ada pertanyaan yang mengganggu. Dari sudut pandang publik yang diungkap di Facebook, ada komentar: “I have no doubt I’d enjoy a beer with you and we could talk about Joy Division and other important cultural things. But when did that become the thing that determined whether someone becomes the prime minister or not?”
Pertanyaan semacam itu, menurut laporan ini, menempel kuat di ruang-ruang internal. Ada kekhawatiran mengenai apakah kemampuan Burnham akan berkembang cukup cepat ketika memegang kekuasaan. Seorang teman lamanya menyebut adanya “questions about the extent to which [his] thinking on some of the really tricky stuff has been properly developed”, sementara yang lain meragukan apakah ia bisa “shake off the perception that he is a bit of a lightweight”.
Optimisme yang dibentuk oleh personalitas—dan keraguan yang menunggu
Keraguan itu juga memiliki nada yang lebih tajam. Seorang tokoh senior partai dilaporkan berkata: “The eyelashes will deliver for a day, maybe a week. But the scrutiny is brutal. Won’t last three months, never mind three years.” Kritik seperti ini menandakan bahwa bahkan jika Burnham mampu menarik perhatian, ia tetap akan diuji oleh pengawasan yang tidak akan memberi ruang longgar.
Di sisi lain, pemilihan tim Burnham disebut menjadi sinyal yang disambut beragam. Beberapa sumber meyakini bahwa menunjuk James Purnell—seorang menteri kabinet dari era New Labour sekaligus mantan teman sekamar—sebagai chief of staff adalah pertanda positif. Alasannya bukan hanya pengalaman Purnell, melainkan juga karena pilihan itu “has inevitably raised hackles on the left”, seiring persepsi Purnell telah bekerja dengan kalangan bisnis besar dan dianggap “a Blairite”.
Bagi sebagian orang, keputusan itu dibaca sebagai bukti Burnham bersedia mengambil langkah yang bisa membuat kelompok tertentu tidak nyaman. Ada keyakinan bahwa untuk seorang perdana menteri, pekerjaan utamanya adalah membuat keputusan yang akan “infuriate one group or another”. Meski begitu, tetap ada kecemasan: apakah Burnham sanggup menghadapi reaksi dan konflik politik yang tak terhindarkan—terutama ketika ia dipandang mungkin terlalu ingin disukai.
Di bagian operasional No 10, sumber pemerintah menekankan karakter Burnham dalam cara yang spesifik: “The thing is he loves to be loved and likes to be liked. He has to be ready to be unpopular – and he will have to face the trade-offs – mayors don’t face trade-offs”. Seorang rekan lamanya menambahkan bahwa Burnham “has feelings” dan tampak cukup emosional. Dari sini, muncul pertanyaan bagaimana menyeimbangkan sifat tersebut dengan tuntutan “tough skin”, ketegasan, dan keberanian mengambil posisi yang berisiko tinggi.
Namun laporan ini juga memuat pengingat bahwa Burnham tidak lama berada dalam dunia politik hanya untuk menyenangkan orang. Ia digambarkan pernah secara rutin mengganggu kepemimpinan Partai Buruh ketika Keir Starmer memegang kendali. Sekutu yang bekerja dekat dengannya di pemerintahan pada akhir era 2000-an menilai bakat Burnham bukan semata “being nice”, melainkan kesediaan untuk tidak mudah berhenti saat menemui penolakan: “He never takes no for an answer”.
Dalam ingatan itu, disebutkan adanya pertempuran antara pemerintah dan “hostile permanent secretaries” di ujung masa kekuasaan Partai Buruh, yang menurut mereka “hoarding money for the incoming Tory government”. Burnham diceritakan “went to war with them and won,” dan kalimat itu diakhiri dengan “It was astonishing”.
Kejelasan arah: dari slogan ke pilihan kursi kunci
Keraguan lain muncul karena laporan ini menilai ada kesenjangan kejelasan tentang apa yang ingin dilakukan Burnham selain mencapai No 10. Disebutkan bahwa ia sudah mencoba memimpin Partai Buruh sebanyak tiga kali, dengan kegagalan pada 2010 dan 2015, sebelum akhirnya berada dalam situasi “third time lucky”.
Di ruang publik, Burnham kerap membawa narasi perubahan, menyebut negeri yang lebih setara, dan perhatian pada komunitas yang ditinggalkan. Makerfield disebut sebagai konstituensinya yang baru, dan slogan yang disebut dalam laporan ini berbunyi: “Vote Andy – For Us’”. Namun ketika masuk ke rincian, arah tertentu dinilai masih terasa kabur.
Karena itulah, di Westminster muncul “political frenzy” soal siapa yang akan menjadi kanselirnya. Pembicaraan terpusat pada Ed Miliband dari “the soft left”, Wes Streeting dari sisi kanan Partai Buruh, atau kemungkinan lain seperti Home Secretary Shabana Mahmood. Ada pula pembahasan bahwa bisa saja pilihan akhirnya jatuh pada figur lain seperti Pat McFadden, yang disebut kurang ingin menonjol pada kisah politik diri.
Dalam laporan ini, argumen soal kursi kanselir dipandang sebagai proksi untuk menilai arah Burnham secara lebih luas. Ketidakjelasan itu bahkan diungkap sebagai kekhawatiran soal “north star”. Seorang sumber menyatakan: “Is the political north star still missing? The contenders talked about are in entirely different places on all sorts of things.”
Meski demikian, Burnham dijadwalkan membuat pidato tentang ekonomi pada hari Senin, yang berpotensi memberi isyarat yang lebih konkret. Sejumlah sumber tetap meyakini bahwa masa jabatannya sebagai wali kota telah membentuk dirinya, termasuk keyakinan dan kemantapan yang dianggap tidak sekadar gaya.
Seorang rekan dekat dikutip mengatakan: “He thinks about things more deeply than people give him credit for – don’t underesminate how much he has thought about it”.
Untuk mendukung penilaian tersebut, laporan ini menyebut jejak Burnham di Manchester: jaringan bus publik, kualifikasi MBacc, serta kemitraan dengan dunia usaha yang dinilai membantu pertumbuhan ekonomi kota. Ia juga disebut pernah menegaskan adanya “unfinished business” dalam upaya memperbaiki social care di Inggris—dan upayanya ketika menjadi health secretary untuk membuat partai-partai bekerja bersama dalam reformasi itu sempat kandas oleh realitas politik menjelang pemilihan umum 2010.
Karena itu, laporan ini menilai besar kemungkinan bahwa, setelah berada di pemerintahan, Burnham akan mencoba kembali dengan cara tertentu. Ia juga disebut pernah menulis buku bersama Steve Rotherham, wali kota Liverpool, yang memuat argumen soal ketimpangan yang makin melebar di negara tersebut.
Buku itu—menurut laporan ini—mendorong agenda reformasi dengan rencana 10 poin yang disebut “radical” dalam ukurannya bila benar-benar dituntaskan. Ada gagasan “basic law” yang memberi pendanaan setara berdasarkan kebutuhan bagi setiap wilayah, “written constitution”, dorongan ke representasi proporsional, serta penghapusan aturan yang mewajibkan anggota parlemen mengikuti partai melalui “the ‘whip’”.
Rencana itu juga mencakup penguatan kekuasaan wali kota dan dewan melalui devolution, perlakuan yang setara untuk pendidikan teknis dan universitas, serta rencana hak hukum atas “the basics” yang dimulai dari perumahan. Di dalamnya ada “Grenfell law” dan “the Hillsborough Law”, yang digambarkan sebagai langkah yang memaksa pejabat publik menyampaikan kebenaran penuh. Ada pula gagasan membawa kembali industri ke wilayah utara untuk membuka lapangan kerja dan mendukung Net Zero.
Meski agenda sebesar itu disebut tidak mungkin menjadi garis argumen utama pada hari pertama Burnham memimpin, laporan ini menegaskan buku tersebut merupakan seruan reformasi jangka panjang selama bertahun-tahun. Pada saat yang sama, laporan ini juga mengakui adanya “gaps in knowledge” mengenai rincian spesifiknya.
Dengan demikian, pertarungan naratif “penyelamat” versus “pilihan terbaik” pada akhirnya bukan hanya urusan popularitas. Ia akan ditentukan oleh seberapa jauh Burnham bisa mengubah perhatian yang ia dapatkan di ruang publik menjadi arah kebijakan yang jelas, dipahami, dan sanggup menahan “scrutiny” yang keras dalam waktu yang jauh lebih lama.









