jurnalistik.co.id – Difansa R Santosa menuturkan bahwa perubahan paling besar dalam hidupnya berawal dari dapur rumah. Ia memandang ulang cara memberi makan kedua anaknya setelah memahami kebutuhan mereka sebenarnya jauh berbeda dari pola yang selama ini dianggap “normal”.
Selama bertahun-tahun, ia merasa menu sehari-harinya sudah sama seperti kebanyakan orangtua: makanan berbahan terigu, susu, gula, penyedap rasa, hingga makanan berpengawet. Namun semuanya berubah ketika diagnosis kedua anaknya mengarah pada spektrum autisme.
Dalam upaya mencari terapi dan sekolah yang sesuai, Difansa kemudian bergabung dengan komunitas orangtua anak autis. Di sana, ia mempelajari bahwa pola makan dapat berpengaruh terhadap perilaku sebagian anak dalam spektrum autisme.
Kesadarannya datang dengan kalimat tegas dari pengalamannya sendiri. “Ternyata selama ini kita salah ngasih makan. Makanan terigu, gula, susu, MSG, pengawet, semuanya kita kasih saja. Baru dari situ mata kita kebuka,” ujar Difansa.
Ia menegaskan, perubahan itu bukan sekadar mengganti jenis makanan di rumah. Arah hidupnya ikut bergeser, karena kebiasaan lama yang dianggap wajar ternyata tidak membantu anak-anaknya berkembang dengan lebih baik. Dari titik itulah ia mulai membangun kebiasaan baru yang lebih spesifik.
Dari penyesuaian makan ke Diet Special Needs
Langkah pertama Difansa berangkat dari kebutuhan dua anaknya. Ia mulai membuat makanan diet khusus untuk keduanya, awalnya sebagai upaya pribadi sebelum menjadi sesuatu yang lebih luas.
Proses tersebut berjalan tanpa rencana besar. Namun, dari dapur rumah yang ia jalankan pelan-pelan, gagasan itu berkembang menjadi Diet Special Needs (DSN). Saat ini, usaha tersebut menghimpun hampir 200 produk dari dapur-dapur milik orangtua anak berkebutuhan khusus.
Difansa juga menyebut bahwa DSN kini menjadi rujukan bagi orangtua ABK. Melalui kebutuhan yang sama, ia melihat banyak keluarga mencari jalan agar bisa menyediakan makanan yang lebih sesuai dengan kondisi anak-anak mereka.
Diagnosis pada 2017 dan masa krisis
Perjalanan ini dimulai pada 2017. Difansa mengatakan kondisi ekonomi keluarganya pada saat itu sedang sulit, sehingga mereka harus benar-benar mencari cara untuk bertahan.
Berita Terkait
Dalam periode yang hampir bersamaan, Difansa dan suaminya mulai menyadari perkembangan kedua anaknya berbeda dari anak-anak seusianya. Keduanya belum mampu berbicara, dan pada awalnya keluarga berharap itu hanya keterlambatan perkembangan.
Setelah anak pertama berusia delapan tahun dan adiknya berusia enam tahun, hasil pemeriksaan dokter memastikan keduanya berada dalam spektrum autisme. Difansa lalu mengikuti kebutuhan pendampingan yang lebih intens: terapi, sekolah, serta berbagai informasi tentang cara mendampingi anak autis.
Ia mengaitkan diagnosis tersebut dengan keadaan rumah tangganya saat itu. “Tahun 2017 keluarga kami juga sedang krisis ekonomi. Jadi kami benar-benar mencari jalan bagaimana supaya bisa bertahan,” kata lulusan Psikologi Universitas Persada Indonesia.
Sejak saat itulah ia mulai mengurangi konsumsi makanan berbahan terigu, susu, gula, penyedap rasa, serta bahan pengawet. Ia juga berbagi dan bertukar resep dengan sesama orangtua anak autisme, kemudian mencoba membuat berbagai makanan sendiri di rumah.
Menurut Difansa, respon dari anak-anaknya menjadi penegasan bahwa perubahan itu berjalan di jalur yang tepat. “Ternyata mereka suka. Cocok juga buat mereka,” katanya.
Dari unggahan sederhana hingga toko daring
Di awal, Difansa tidak berniat menjadikan makanan tersebut sebagai bisnis. Ia hanya membeli beberapa produk dari sesama anggota komunitas, sebagian dikonsumsi oleh kedua anaknya, dan sebagian lagi dijual kembali.
Ia menjelaskan gambaran awal yang ia lakukan saat menjawab kebutuhan yang muncul dari lingkungan sekitar. “Misalnya saya beli lima, dua buat anak, tiga saya jual. Awalnya cuma iseng saya unggah ke Facebook,” katanya.
Unggahan sederhana itu justru memunculkan respons yang tidak disangka. Difansa menemukan bahwa banyak orangtua lain mengalami kesulitan yang serupa, terutama saat mencari makanan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak mereka.
Melihat permintaan yang terus berdatangan, Difansa kemudian membuka kembali toko daring yang pernah ia buat pada 2009. Di fase ini, ia tidak lagi menjalankan DSN sebagai aktivitas sampingan, melainkan sebagai jalur yang membantu semakin banyak keluarga.
Seiring bertambahnya pasangan dapur yang terlibat, jumlah variasi produk ikut berkembang. Kini DSN tidak hanya berbicara tentang pola makan, tetapi juga tentang jaringan dukungan antarkeluarga yang sama-sama belajar memahami kebutuhan anak berkebutuhan khusus.
Difansa merangkum perjalanan itu sebagai perubahan cara pandang dari pengalaman membesarkan dua anak autis. Dari rumah ke komunitas, lalu dari komunitas ke bisnis, ia tetap berangkat pada tujuan yang sama: menyediakan makanan yang lebih cocok dan membantu orangtua ABK menemukan pilihan yang dapat mereka jalankan sehari-hari.












