Pendidikan

Aturan 32 Kali Kunyah: Pencernaan Lancar atau Mitos Kesehatan?

×

Aturan 32 Kali Kunyah: Pencernaan Lancar atau Mitos Kesehatan?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Benarkah Harus Mengunyah Makanan 32 Kali agar Pencernaan Lancar?

jurnalistik.co.id – Banyak orang percaya ada “aturan baku” dalam kebiasaan makan: mengunyah sebanyak 32 kali sebelum menelan. Angka itu bahkan sering dikaitkan dengan jumlah gigi manusia dewasa, seolah setiap gigi perlu mendapat satu kali kunyahan.

Namun, yang patut dipertanyakan adalah apakah anjuran tersebut benar-benar didukung dasar medis yang kuat, atau justru berkembang sebagai mitos kesehatan semata. Dari kacamata klinis, kunci utamanya ada pada proses mengunyah itu sendiri, bukan pada hitungan angka tertentu.

Konsultan Senior Penyakit Dalam di Aster CMI Hospital, Bangalore, dr. Brunda M.S., menegaskan bahwa mengunyah makanan dengan baik merupakan tahapan penting untuk kesehatan pencernaan. “Hal ini karena proses tersebut memecah makanan menjadi potongan yang lebih kecil, sehingga lebih mudah ditelan,” ucap dr. Brunda.

Menurut penjelasan dr. Brunda, ketika makanan dilumatkan, air liur ikut bekerja membantu proses awal pencernaan. Enzim pencernaan di dalam air liur, seperti amilase, mulai memecah karbohidrat sebelum makanan mencapai lambung.

Dengan kata lain, manfaat yang terjadi tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan menelan, tetapi juga terkait kesiapan saluran cerna untuk tahap berikutnya. Proses mengunyah memberi waktu bagi enzim dan mekanisme alami tubuh untuk melakukan pekerjaan pertamanya.

Meski demikian, dr. Brunda juga menyampaikan bahwa tidak ada aturan ilmiah yang menetapkan setiap jenis makanan harus dikunyah sebanyak 32 kali. “Faktanya, jumlah idealnya bervariasi bergantung pada jenis makanan. Makanan lunak membutuhkan lebih sedikit kunyahan, dan makanan keras butuh lebih banyak agar cukup lembut untuk ditelan dengan nyaman,” jelas dr. Brunda.

Penekanan ini menggeser cara pandang dari angka menjadi kualitas kunyahan. Jika tekstur sudah cukup lunak dan mudah ditelan, tubuh pada dasarnya sudah menerima tujuan utamanya: makanan terpecah menjadi potongan yang lebih kecil.

Penelitian ilmiah juga turut menyoroti efek aktivitas mengunyah terhadap proses setelah makan. Studi tahun 2021 yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports berjudul “Chewing increases postprandial diet-induced thermogenesis” meneliti apakah aktivitas mengunyah saja mampu meningkatkan pengeluaran energi tubuh setelah makan.

Dalam studi tersebut, peneliti menemukan bahwa proses mengecap dan melumatkan makanan secara signifikan mampu meningkatkan pengeluaran energi tubuh setelah proses makan. Peningkatan energi ini dalam konteks medis dikenal sebagai diet-induced thermogenesis.

Menariknya, percobaan dilakukan dengan menggunakan asupan cairan untuk melihat apakah kebiasaan mengunyah juga berpengaruh. Meluangkan waktu untuk mengunyah makanan cair terbukti mengoptimalkan jumlah kalori yang terbakar selama proses pencernaan berlangsung, dibandingkan jika hanya meminum cairan tersebut seperti biasa.

Hasil tersebut kemudian mengarah pada kesimpulan bahwa makan secara lebih sadar dapat menjadi cara yang sederhana untuk mendukung metabolisme harian. Studi yang sama juga menyebut bahwa pendekatan ini terbukti secara ilmiah ampuh meningkatkan metabolisme harian sekaligus mencegah risiko obesitas.

Kesimpulan serupa diperkuat oleh penelitian lain yang lebih sistematis. Pada tahun 2015, di jurnal Physiology & Behavior, terdapat studi berjudul “Effects of chewing on appetite, food intake and gut hormones: A systematic review and meta-analysis”. Riset ini meninjau secara menyeluruh bagaimana mengunyah memengaruhi nafsu makan, asupan makanan, serta hormon-hormon di saluran cerna.

Dengan rancangan tinjauan dan analisis meta, temuan dari studi 2015 membantu menguatkan pesan inti bahwa mengunyah bukan sekadar kebiasaan yang “menghabiskan waktu” saat makan. Aktivitas ini berhubungan dengan respons tubuh setelah asupan masuk, termasuk pada pengaturan nafsu makan dan proses metabolik.

Di tengah banyaknya anjuran populer, aturan “32 kali” sering terdengar seolah menjadi tiket menuju pencernaan yang lancar. Padahal, dari uraian dr. Brunda dan dukungan studi ilmiah yang disebutkan, yang lebih menentukan adalah seberapa baik makanan dilumatkan hingga mudah ditelan.

Ketika jumlah kunyahan disesuaikan dengan jenis makanan, tubuh memiliki peluang lebih besar menjalankan tahap awal pencernaan dengan lebih efektif. Makanan lunak tidak perlu dipaksa dengan hitungan yang sama seperti makanan yang lebih keras, karena kebutuhan kunyahnya berbeda.

Jika kebiasaan yang dilakukan justru hanya mengejar angka tanpa memperhatikan tekstur akhir makanan di mulut, manfaat mengunyah dapat tidak tercapai secara optimal. Sebaliknya, mengunyah hingga makanan cukup lembut memberikan kesesuaian antara proses mengunyah dan tujuan fisiologisnya.

Pada akhirnya, inti yang dapat ditarik dari penjelasan medis dan temuan riset adalah bahwa “mengunyah dengan baik” lebih relevan daripada “mengunyah dengan angka tertentu”. Dengan pendekatan makan yang sadar dan terukur sesuai jenis makanan, pencernaan dan metabolisme dapat memperoleh dukungan yang lebih masuk akal secara ilmiah.