jurnalistik.co.id – Berbicara pada diri sendiri dengan lantang, baik di rumah maupun di tempat umum, kerap dianggap aneh oleh sebagian orang. Padahal, kebiasaan sederhana ini tidak selalu berkaitan dengan keanehan, melainkan bisa menjadi cara untuk membantu seseorang mengelola emosi, menjaga cara pandang terhadap diri sendiri, dan memperbaiki hubungan dengan orang lain.
Seiring bertambahnya usia, cara seseorang berkomunikasi dengan dirinya sendiri ikut memengaruhi banyak hal, mulai dari rasa harga diri, motivasi, sampai cara bersosialisasi dalam berbagai fase kehidupan. Praktisi kesehatan mental Grace Lautman, LMHC, menilai kebiasaan ini penting untuk dirutinkan sebagai bagian dari proses pemulihan internal.
“Saya merekomendasikan jenis pembicaraan pada diri sendiri ini kepada siapa saja yang merasa bahwa mereka lebih berbelas kasih kepada orang lain daripada kepada diri mereka sendiri,” tutur dia, melansir Real Simple, Jumat (29/5/2026).
Meningkatkan harga diri
Salah satu manfaat berbicara pada diri sendiri adalah membantu memperkuat harga diri. Saat seseorang berbicara kepada dirinya sendiri, otak seperti diingatkan bahwa ia memegang kendali atas arah hidup yang dijalani. Rasa percaya diri semacam ini penting karena dapat menjadi dasar bagi harga diri yang lebih kokoh sekaligus membantu menyaring opini negatif dari luar.
Menurut Lautman, “Ketika kamu berbicara keras kepada diri sendiri, kamu ‘mengasuh’ kembali bagian-bagian dari diri yang tidak mendapat kesempatan untuk mengembangkan harga diri yang lebih membumi,” jelasnya. Kebiasaan ini memberi ruang bagi seseorang untuk menata ulang cara memandang dirinya sendiri, terutama ketika selama ini terlalu sering menerima tekanan atau penilaian dari luar.
Pada praktiknya, dialog positif dengan diri sendiri dapat menjadi jeda yang penting sebelum seseorang ikut larut dalam pikiran merendahkan diri. Dengan kata lain, berbicara kepada diri sendiri bukan sekadar mengulang kata-kata, tetapi juga memberi kesempatan untuk menguatkan kembali posisi diri di tengah situasi yang terasa melemahkan.
Membantu regulasi emosi
Manfaat lain yang disebutkan adalah membantu regulasi emosi. Tanpa memandang usia, setiap orang bisa saja kehilangan kendali saat menghadapi masalah. Dalam kondisi seperti itu, satu kalimat penenang yang diucapkan dengan lantang dapat menjadi cara cepat untuk meredam kepanikan.
Lautman menjelaskan, “Dengan membicarakan berbagai hal dengan diri sendiri, kita sebenarnya dapat memberikan keamanan pada sistem saraf kita,” paparnya. Ia juga memberi contoh bagaimana seseorang bisa menenangkan diri ketika merasa bersalah atau tertekan karena kesalahan. “Misalnya, jika kamu merasa sangat buruk tentang suatu kesalahan atau masalah dalam hidupmu, tetapi kamu berkata pada diri sendiri, ‘Apa yang kamu rasakan masuk akal. Itu manusiawi’, hal itu bisa sangat terasa tidak terlalu menakutkan,” sambung dia.
Kalimat seperti itu tidak menghapus masalah, tetapi dapat mengubah cara seseorang meresponsnya. Alih-alih panik atau menekan emosi, seseorang bisa lebih dulu memberi pengakuan atas apa yang sedang dirasakan. Dari sana, respons yang muncul cenderung lebih tenang dan lebih tertata.
Mempererat hubungan sosial
Berbicara pada diri sendiri juga dikaitkan dengan hubungan sosial yang lebih baik. Perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri biasanya berjalan seiring dengan cara ia memperlakukan orang lain. Karena itu, mengambil jeda untuk mengevaluasi perasaan sebelum memberi respons dapat membantu memperbaiki kualitas komunikasi.
Lautman menyebut, “Saat kamu berbicara dengan lantang pada diri sendiri, kamu menjadi lebih sadar akan apa yang terjadi, dan kamu cenderung tidak terus menyalahkan orang lain,” ujarnya. Ia menambahkan, “Menanggapi emosi kita sendiri memungkinkan kita untuk berkomunikasi lebih jelas dan baik dengan orang lain,” sambung dia.
Dalam situasi yang memicu emosi, jeda singkat untuk berbicara kepada diri sendiri dapat menjadi ruang sebelum bereaksi. Ruang itu penting agar seseorang tidak langsung menumpahkan kemarahan atau menyalahkan orang lain tanpa memahami apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.
Pada akhirnya, berbicara pada diri sendiri bukan kebiasaan yang perlu selalu dianggap janggal. Dalam penjelasan Lautman, kebiasaan ini justru bisa menjadi cara untuk memberi dukungan pada diri sendiri, menjaga ketenangan saat emosi meningkat, dan membantu seseorang berhubungan dengan orang lain secara lebih jelas dan sehat.







