Pendidikan

8 Kebiasaan yang Diam-diam Merusak Kesehatan Otak Menurut Neuropsikolog

0
×

8 Kebiasaan yang Diam-diam Merusak Kesehatan Otak Menurut Neuropsikolog

Sebarkan artikel ini
8 Kebiasaan yang Diam-diam Mengganggu Kesehatan Otak Menurut Neuropsikolog Lifestyle 7 Juni 2026
Ilustrasi: 8 Kebiasaan yang Diam-diam Mengganggu Kesehatan Otak Menurut Neuropsikolog

jurnalistik.co.id – Otak merupakan aset penting yang bekerja terus-menerus setiap hari. Rutinitas kecil yang tampak sepele—mulai dari cara Anda membagi perhatian hingga kebiasaan sebelum tidur—dapat berdampak pada fokus dan kemampuan kognitif jangka panjang.

Pakar dalam artikel tersebut menekankan bahwa perubahan gaya hidup yang terukur dapat membantu memperbaiki fokus sekaligus menjaga kemampuan kognitif jangka panjang. Di bawah ini beberapa kebiasaan yang disebut dapat “diam-diam” mengganggu kesehatan otak, beserta penjelasan para ahli yang dikutip.

Melakukan banyak pekerjaan sekaligus

Melompat dari satu tugas ke tugas lain sering terasa seperti cara paling cepat menyelesaikan lebih banyak hal. Namun neuropsikolog Direktur Comprehend the Mind, Sanam Hafeez, PhD, menjelaskan bahwa kebiasaan ini justru memperlambat dan menguras kerja otak.

Dalam kutipannya, ia menyatakan, “Setiap kali kamu beralih dari satu tugas ke tugas lainnya, pikiranmu harus mengatur ulang, dan peralihan itu membutuhkan energi,” ucap dia. Karena itu, alih-alih menjadi lebih efisien, seseorang berisiko menghabiskan sumber daya mental dan membuat kesalahan selama proses berlangsung.

Untuk mengurangi dampaknya, Hafeez menyarankan menerapkan jeda singkat setelah bekerja 25 menit.

Mengorbankan waktu tidur

Tidur tidak hanya berkaitan dengan rasa lelah setelah bangun. Neuropsikolog dan Direktur Psikologi di Gaylord Specialty Healthcare, Sarah Bullard, PhD, menegaskan bahwa tidur memiliki peran penting karena proses ini “membersihkan racun, memperkuat memori, dan memulihkan fungsi otak.”

Ia juga mengingatkan bahwa gangguan tidur dapat membawa konsekuensi yang lebih luas. “Dan ini bukan sekadar tentang jam tidur. Kondisi seperti apnea tidur, yang mengganggu aliran oksigen selama tidur, sangat terkait dengan kerusakan pembuluh darah dan peningkatan risiko demensia,” ujar dia.

Bullard menambahkan indikasi yang patut diperiksa ketika kualitas tidur terganggu. “Jika kamu mendengkur keras, bangun dalam keadaan pusing, atau merasa lelah meskipun sudah ‘tidur’, hal itu patut diperiksakan,” imbau Bullard.

Selain itu, dokter pengobatan integratif bersertifikat dan pendiri VYVE Wellness, Will Haas, MD, MBA, menyampaikan bahwa utang tidur yang menumpuk dapat menurunkan kemampuan otak untuk membersihkan limbah metabolik seperti amiloid-beta. “Ini telah dikaitkan dengan penurunan kognitif dan penyakit Alzheimer,” terang dr. Haas.

Sering melewatkan sarapan

Ketika sarapan tidak masuk ke rutinitas harian, dampaknya bisa terlihat pada kualitas fokus sepanjang hari. Hafeez menjelaskan bahwa melewatkan sarapan dapat membuat konsentrasi menjadi buruk, membuat orang lebih mudah marah, serta menurunkan motivasi seiring berjalannya hari.

Menurutnya, pendekatan yang disarankan adalah mengonsumsi makanan berprotein dan serat agar gula darah lebih stabil. Dengan cara ini, tubuh memiliki dukungan nutrisi untuk menjaga ritme kerja otak sepanjang aktivitas.

Scrolling gawai tanpa tujuan sebelum tidur

Kebiasaan menggunakan gawai menjelang tidur juga disebut berpotensi mengganggu proses pemulihan otak. Artikel tersebut memaparkan penjelasan neurosaintis dan pendiri Manifest Wellness, Jamey Maniscalco, PhD, mengenai peran tidur dalam pembentukan memori.

Ia menyatakan, “Selama tidur nyenyak tanpa rapid eye movement (REM) dan tidur dengan REM, otak mengambil informasi dari hari sebelumnya dan menstabilkannya menjadi memori jangka panjang,” ujar dia. Ia melanjutkan bahwa proses tersebut membantu memperkuat otak untuk mempelajari informasi baru, “memechakan masalah”, serta mengembangkan keterampilan.

Dengan pemahaman itu, kebiasaan menghabiskan waktu di layar sebelum tidur bukan hanya soal kenyamanan malam, melainkan bisa mengganggu tahapan penting saat otak sedang memproses informasi dan menstabilkannya menjadi memori jangka panjang.

Kesimpulannya, kebiasaan yang tampak kecil—terutama multitasking, kurang tidur, melewatkan sarapan, dan scrolling gawai sebelum tidur—dapat berhubungan dengan perubahan pada fokus, kualitas memori, serta risiko gangguan kesehatan otak. Rekomendasi yang muncul dari para ahli dalam teks tersebut menekankan perlunya mengatur pola aktivitas dan tidur secara lebih terencana, tanpa menunda langkah perbaikan saat tanda-tanda gangguan mulai terasa.