Otomotif

Auto2000 Akui Banyak Konsumen Tunda Beli Fortuner dan Innova, Beralih ke Hybrid

0
×

Auto2000 Akui Banyak Konsumen Tunda Beli Fortuner dan Innova, Beralih ke Hybrid

Sebarkan artikel ini
Solar Mahal, Auto2000 Akui Banyak yang Tunda Beli Fortuner dan Innova Otomotif 7 Juni 2026
Ilustrasi: Solar Mahal, Auto2000 Akui Banyak yang Tunda Beli Fortuner dan Innova

jurnalistik.co.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar nonsubsidi sempat memengaruhi minat konsumen terhadap mobil diesel modern, khususnya pada model yang selama ini menjadi andalan di jaringan diler Toyota Auto2000 seperti Kijang Innova Diesel dan Fortuner Diesel.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) Auto2000 Anton Jimmi Suwandy, dampak yang muncul bukan dalam bentuk pembatalan pembelian secara besar-besaran, melainkan konsumen cenderung memilih menunda keputusan atau beralih ke pilihan lain yang dinilai lebih efisien.

Dampak: penundaan dan peralihan pilihan

Anton menjelaskan bahwa perubahan yang terlihat lebih dekat pada pola “menunda” dibandingkan “batal” permanen. “Bulan lalu ya, terutama kita dengar banyak konsumen, mungkin bahasanya bukan dibilang batal ya. Jadi ada konsumen yang ganti,” kata Anton di Jakarta, belum lama ini.

Ia menambahkan bahwa sebagian konsumen yang sebelumnya melakukan pemesanan kendaraan diesel akhirnya mengalihkan pilihannya ke model hybrid. “Jadi awalnya SPK yang diesel ganti ke hybrid. Misalnya Zenix Hybrid, ada yang ke Veloz Hybrid. Ada juga yang menunda,” ujarnya.

Dalam pandangan diler, fenomena tersebut tidak semata-mata dibaca sebagai penurunan minat yang menetap terhadap mobil diesel, melainkan lebih tepat dipahami sebagai penundaan proses pembelian.

Anton mengatakan, “Jadi mungkin banyak berita-berita cancel atau drop. Kalau saya dari sisi dalam, menurunnya itu karena menunda. Karena kenapa? Pencinta diesel adalah pencinta diesel,” kata Anton.

Basis penggemar diesel tetap ada

Anton juga menekankan bahwa segmen mobil diesel tetap memiliki basis penggemar yang kuat, terutama di wilayah yang membutuhkan kendaraan tangguh dengan torsi besar serta efisiensi bahan bakar untuk perjalanan jarak jauh.

Ia menyebut, “Tapi pencinta diesel adalah pencinta diesel. Dan itu cukup banyak terutama di Jawa Timur, di Sumatera, pencinta diesel dan penggerak belakang itu masih sangat banyak,” ujarnya.

Dengan karakter pelanggan seperti itu, konsumen yang sudah mempertimbangkan diesel dinilai cenderung menunggu perkembangan harga BBM diesel sebelum memutuskan membeli kendaraan baru.

Konsumen menunggu arah harga solar dan Dex

Anton menjelaskan kecenderungan konsumen yang menunggu sinyal harga. “Apa yang mereka lihat sekarang adalah mereka mau melihat dulu harga solar atau Pertamina Dex (Pertadex) terutama. Pertadex itu akan mengarah ke mana,” kata Anton.

Dalam konteks ini, pilihan konsumen bisa berubah sesuai persepsi mereka terhadap arah harga solar dan Pertamina Dex, yang kemudian memengaruhi keputusan untuk melanjutkan pemesanan diesel atau berpindah ke model lain.

Anton juga menyebutkan adanya pola konsumen yang mengganti pesanan diesel ke hybrid, serta ada pula yang memilih menunda. Kombinasi dua perilaku tersebut menjadi salah satu penjelasan mengapa perubahan yang terjadi tidak selalu berbentuk pembatalan transaksi secara besar.

Sinyal positif dari penurunan harga BBM diesel

Meski kondisi pasar sempat dipengaruhi kenaikan harga BBM diesel nonsubsidi, Anton menyampaikan bahwa pasar mulai menunjukkan sinyal positif setelah adanya penyesuaian harga.

Per 1 Juni 2026, PT Pertamina (Persero) kembali menurunkan harga BBM diesel non subsidi. Harga Dexlite turun dari Rp 26.000 per liter menjadi Rp 23.000 per liter.

Sementara itu, harga Pertamina Dex juga mengalami penurunan dari Rp 27.900 per liter menjadi Rp 24.800 per liter untuk wilayah Jabodetabek.

Penurunan harga ini diharapkan dapat meningkatkan kembali minat konsumen terhadap mobil diesel, terutama bagi konsumen yang sebelumnya memilih menunda pembelian sambil menunggu perkembangan harga BBM.

Dengan kata lain, keputusan konsumen yang semula digerakkan oleh kebutuhan untuk melihat pergerakan harga solar dan Pertamina Dex berpotensi kembali menguat seiring perubahan tarif yang diterapkan sejak 1 Juni 2026.