jurnalistik.co.id – Pertahanan gelar World Matchplay Luke Littler berlanjut dengan kemenangan perempatfinal yang relatif mudah atas Josh Rock di Blackpool. Littler, yang menempati peringkat nomor satu dunia, menutup laga dengan skor 16-7.
Sejak awal, Rock sempat memberi perlawanan. Kedua pemain sempat saling tukar break hingga kedudukan 5-5, menandakan laga bisa berjalan ketat pada fase awal.
Namun, setelah itu ritme Littler berbalik cepat. Usia 19 tahun itu melesakkan lima leg beruntun, dan momen tersebut membuat jalan kembali bagi Rock seolah tertutup.
Dalam kondisi seperti itu, Rock tidak lagi menemukan ritme yang sama. Di saat Littler tampil dalam performa yang meyakinkan sebagai juara bertahan, ia terus mengunci keunggulan sampai akhirnya memastikan kemenangan 16-7.
Keunggulan Littler juga tercermin dari statistik tembakannya. Ia mencatatkan 17 kali 180 dengan rata-rata skoring 109,57 selama pertandingan.
Usai laga, Littler menyampaikan, “At the minute, everything’s going to plan.” Ia juga menambahkan, “I feel good. I can afford to miss a few doubles because the scoring’s there.” Menurut penilaiannya, ia merasa nyaman dengan aliran skornya sehingga beberapa peluang pada double tidak menjadi masalah besar.
Tetap memberi apresiasi, Littler menyatakan, “Once again another brilliant performance, but fair play to Josh, he put up a good fight.” Kalimat tersebut menekankan bahwa meski menang dominan, Rock tetap mampu memberi perlawanan di momen tertentu.
Kemenangan ini mengantar Littler ke semifinal. Pada Sabtu, ia akan menghadapi Dirk van Duijvenbode yang berstatus unseeded dari Belanda.
Berita Terkait
Di pertandingan lain pada hari yang sama, van Duijvenbode memastikan tempatnya di semifinal pertama Matchplay setelah bertahan dari tekanan Gary Anderson. Anderson, yang pernah menjadi juara World Matchplay pada 2018, sempat membuatnya berada dalam posisi terancam lewat momen akhir yang kuat.
Anderson datang dengan dorongan besar setelah sempat tertinggal delapan leg. Pada fase tersebut, ia menampilkan checkout 154 yang menunjukkan ketajamannya, namun van Duijvenbode tetap memegang kendali hingga menang 16-13.
Ketika menoleh ke laga babak kedua yang sebelumnya ia jalani, van Duijvenbode pernah mengungkapkan pengalamannya saat kemenangan melalui tie-break atas Michael van Gerwen. Ia menyebut bahwa berjabat tangan “like a little child crying for his mum” membuat rekan senegaranya bisa kembali ke jalur permainan, setelah saat itu van Duijvenbode memimpin 8-4.
Di pertemuan melawan Anderson pada Kamis, cerita dinamika serupa sempat muncul. Setelah memimpin 8-4 lagi, van Duijvenbode kehilangan dua leg secara beruntun, tetapi kemudian bangkit dengan cepat dengan membangun keunggulan menjadi 14-6.
Lonjakan itu terjadi karena van Duijvenbode memenangkan enam leg berikutnya tanpa balas. Meski begitu, kemenangan akhirnya tetap tidak datang instan, sebab masih diperlukan sembilan leg lagi sampai van Duijvenbode mengamankan tie tersebut ketika Anderson terus mendorong hingga akhir.
Selepas fase awal yang sempat sama kuat sampai 5-5, laga mulai bergeser ketika Littler mampu mengambil alih tempo dengan rangkaian leg yang beruntun. Pada titik balik itu, Rock seperti kehilangan pijakan, sementara Littler menjaga ritme skoringnya sampai benar-benar menutup pertandingan 16-7 dengan tampilan yang konsisten.
Di sisi lain, cara Littler mengelola peluang juga terasa dari penilaiannya sendiri setelah laga. Ia menekankan bahwa alur permainannya berjalan sesuai rencana, sehingga beberapa kesempatan pada double yang sempat luput tidak membuatnya kehilangan kendali, karena poin-poin besar tetap terus terkumpul sepanjang pertandingan.
Pada hari yang sama, van Duijvenbode memastikan tiket semifinal pertama dengan menahan Anderson yang datang dari jarak jauh. Meski sempat berada dalam tekanan kuat dan sempat terlihat kembali lewat tembakan kunci seperti checkout 154, van Duijvenbode tetap memegang kendali sampai menang 16-13, termasuk saat ia kembali membangun jarak setelah sempat terjadi pergantian momentum dari memimpin 8-4 dan kemudian menutupnya hingga angka akhir.












