Peristiwa

Andriyono, Petugas Damkar Jaktim yang Meninggal Saat Memadamkan Kebakaran Sampah di TPA Kramat Jati

×

Andriyono, Petugas Damkar Jaktim yang Meninggal Saat Memadamkan Kebakaran Sampah di TPA Kramat Jati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Petugas Damkar Jaktim yang Gugur Pernah Ungkap Ingin Meninggal Saat Bertugas

jurnalistik.co.id – Andriyono, petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur, meninggal dunia saat bertugas memadamkan kebakaran tumpukan sampah di TPA Dukuh, Kecamatan Kramat Jati. Kebakaran tersebut menjadi bagian dari operasi yang melibatkan banyak personel, sementara kabar duka datang bersamaan dengan cerita keluarga mengenai prinsip kerja sang petugas.

Linda (43), istri Andriyono, mengatakan ia baru mengetahui adanya keinginan sang suami untuk meninggal dalam keadaan bertugas dari orang-orang di sekitarnya. Menurut Linda, ia tidak pernah mendengar ucapan itu langsung dari Andriyono semasa hidup.

“Iya, saya baru tahunya sekarang. Kalau masalah gituan (keinginan meninggal dalam keadaan bertugas) dia enggak pernah cerita,” kata Linda kepada Kompas.com saat ditemui di rumah duka di Jalan Haji Baping, Ciracas, Jakarta Timur, Senin (3/8/2026). Linda menyampaikan rekan-rekan Andriyono yang menyampaikan kabar tersebut kepada dirinya.

Meski tidak pernah menyampaikan keinginannya secara personal, Linda menilai Andriyono tetap konsisten dalam cara pandangnya tentang tanggung jawab sebagai petugas pemadam. Ia menceritakan, suaminya sering menekankan bahwa petugas damkar harus berani menghadapi api untuk menyelamatkan dan melindungi masyarakat.

Linda menuturkan pesannya itu ia pahami sebagai prinsip yang dipegang selama menjalankan tugas. “‘Jadi orang pemadam itu tanggung jawabnya besar, ada api kita maju. Walaupun saya sakit, sudah tugas saya madamin api, buat masyarakat. Apalagi sebelah rumah-rumah, kalau bisa jangan sampai rumah yang lain kena,'” kata Linda menirukan pesan suaminya.

Dalam kesaksian Linda, Andriyono tetap berangkat pada Sabtu (1/8/2026) pagi meski memiliki riwayat penyakit jantung sejak Desember 2025. Ia menyebut suaminya sempat sarapan dan meminum obat seperti biasa sebelum berangkat kerja, sehingga keberangkatan Andriyono tidak disertai perubahan besar dalam kondisi harian.

“Bapak (Andriyono) sehat. Berangkat kerja sehat. Saya ngantar kok sampai gang. Sarapan, minum obat, biasa. Ya memang tugas, sudah tugas. Dan sudah takdir mungkin suami saya harus meninggal di TKP,” ucap Linda. Ia juga menggambarkan keberangkatan suaminya sebagai rutinitas yang tetap dijalankan karena tugas.

Linda menilai dedikasi Andriyono selama menjadi petugas damkar sejalan dengan semboyan yang selama ini dipegang para pemadam kebakaran. Menurutnya, prinsip itu tidak berhenti pada simbol, melainkan menjadi pedoman dalam tindakan Andriyono saat menjalani tugas operasional.

“Pemadam punya logo ‘Pantang Pulang Sebelum Padam’. Itu diterapkanlah pada dirinya dia sendiri,” ujar Linda. Dari pernyataan itu, Linda ingin menegaskan bahwa cara pandang suaminya tentang pekerjaan bukan sekadar kalimat, tetapi tergambar dari kesediaannya tetap bergerak saat situasi membutuhkan.

Sebelumnya diberitakan, Andriyono meninggal dunia ketika menjalankan tugas pemadaman kebakaran tumpukan sampah di Kelurahan Dukuh, Kecamatan Kramat Jati, pada Sabtu (1/8/2026). Dalam laporan operasional, Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Bayu Megantara menyampaikan bahwa laporan kebakaran diterima pukul 07.02 WIB dan sebanyak 10 unit mobil pemadam serta 50 personel dikerahkan ke lokasi.

Bayu Megantara juga menjelaskan bahwa Andriyono sempat mengeluhkan nyeri di bagian dada saat membantu proses pemadaman. Setelah itu, Andriyono dinyatakan meninggal saat bertugas, dan duka tersebut kemudian diiringi cerita dari keluarga mengenai prinsip tanggung jawab serta keinginan yang sempat dikisahkan rekan-rekannya kepada istri.

Kisah yang disampaikan Linda menempatkan kematian Andriyono dalam konteks komitmen yang ia bangun selama bekerja sebagai petugas Gulkarmat Jakarta Timur, termasuk keyakinan bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas saat menghadapi api. Di tengah duka, Linda berharap perjalanan tugas suaminya dimaknai sebagai bentuk pengabdian yang nyata—dan menjadi bekal tentang keteguhan prinsip dalam menjalankan pekerjaan pemadam.