Daerah

Pedagang Bendera di Balikpapan Keluhkan Sepi Menjelang HUT RI, Ada yang Berutang untuk Makan

×

Pedagang Bendera di Balikpapan Keluhkan Sepi Menjelang HUT RI, Ada yang Berutang untuk Makan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pedagang Bendera di Balikpapan Sepi Pembeli Jelang HUT RI, Ada yang Utang Buat Makan

jurnalistik.co.id – Menjelang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81 pada 17 Agustus, para pedagang bendera musiman di Balikpapan, Kalimantan Timur, mengeluhkan penjualan yang jauh menurun.

Di sejumlah titik lapak, pembeli yang biasanya datang lebih ramai justru terlihat minim sejak awal Agustus, meski musim kemerdekaan sudah berjalan.

Iman (42), pedagang bendera musiman asal Bandung, Jawa Barat, mengatakan kondisi pasar kali ini merupakan yang terburuk selama lebih dari satu dekade ia berjualan.

Menurutnya, penurunannya bisa mencapai lebih dari 50 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Iman mengaku mulai membuka lapak pada 22 Juli lalu. Namun, hingga mendekati awal Agustus, jumlah orang yang mampir untuk membeli bendera maupun umbul-umbul masih sangat sedikit.

“Tahun ini parah sekali, menurun jauh dibanding tahun-tahun ke belakang. Penurunannya ada kalau 50 persen lebih,” ujarnya saat ditemui di lapaknya di pinggiran Jalan Syarifuddin Yoes, Balikpapan Selatan, Senin (3/8/2026).

Ia menyebut tak sedikit pedagang yang merasakan dampak serupa. Dalam satu minggu awal berjualan, beberapa rekannya bahkan belum memperoleh uang sama sekali.

“Ada teman yang satu minggu belum dapat uang sama sekali. Sampai ada yang pinjam uang buat makan. Biasanya memasuki Agustus begini kami sudah bisa setor ke bos, sekarang belum ada yang bisa setor,” kata Iman.

Iman menilai lesunya daya beli menjadi penyebab utama sepinya pembeli bendera dan umbul-umbul. Selain situasi ekonomi yang dirasakan sulit, ia juga menunjuk maraknya penjualan melalui platform digital yang ikut menggeser transaksi di lapak.

“Selain ekonomi, ada juga online, jadi orang-orang belinya lewat situ. Itu yang bikin kaki lima makin sepi,” ucapnya.

Dalam mengatur dagangan, para pedagang menawarkan rentang harga yang beragam. Iman menjelaskan, bendera kecil dijual mulai Rp 10.000, sedangkan bendera kain ukuran standar rumah berada di kisaran Rp 35.000 sampai Rp 60.000.

Sementara itu, untuk bendera background atau umbul-umbul sepanjang 10 meter, harga yang ditawarkan bisa mencapai Rp 400.000.

Perbedaan omzet harian terasa paling nyata bagi Iman. Ia mengatakan, pada kondisi normal sebelum penjualan memasuki fase sepi, omzet harian dapat mencapai Rp 600.000 hingga Rp 700.000.

Namun saat ini, ia mengaku pendapatannya tidak menentu dan kadang hanya sekitar Rp 200.000 sehingga sulit menutup kebutuhan harian.

Iman berjualan setiap hari mulai pukul 06.30 WITA hingga menjelang Maghrib. Meski jam kerja panjang, ia menyatakan jumlah pembeli yang datang tidak sebanding dengan harapan yang biasanya muncul di pertengahan hingga menjelang Agustus.

Menurutnya, sepi berlarut-larut membuat pedagang memutar strategi agar barang tetap terjual, tetapi kendalanya tetap pada permintaan yang tidak kembali seperti tahun sebelumnya.

Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak berjualan sendirian. Pemasok tempatnya mengambil barang atau “bos” mengirim rombongan pedagang langsung dari Bandung untuk menyebar ke beberapa titik strategis di Kota Balikpapan.

Beberapa lokasi yang diisi jaringan pedagangnya, di antaranya kawasan Jalan MT Haryono hingga Jalan Marsma R Iswahyudi, Sepinggan.

Dalam sistemnya, keseluruhan pedagang menggunakan skema bagi hasil terhadap barang yang laku terjual. Skema tersebut membuat setiap penurunan penjualan berdampak langsung pada kemampuan pedagang untuk memenuhi kebutuhan sebelum waktu kemerdekaan tiba.

“Kami pakai bagi hasil. Jadi kalau penjualan turun, otomatis yang bisa disetor juga belum ada,” kata Iman, mengaitkan masalah sepinya pembeli dengan belum lancarnya arus pendapatan di lapak.

Menjelang tanggal 17 Agustus, Iman berharap daya beli masyarakat dapat pulih agar pembelian bendera kembali meningkat. Ia juga berharap transaksi tidak hanya berpindah sepenuhnya ke kanal digital, sehingga pedagang musiman yang menggantungkan penghasilan pada musim kemerdekaan masih punya peluang meraih omzet seperti biasanya.

“Kalau begini terus, kami yang menunggu hari biasanya malah tertinggal. Semoga menjelang HUT nanti pembeli mulai ramai,” ucapnya.