jurnalistik.co.id – Bank-bank sentral di berbagai negara mulai menurunkan ketergantungan mereka pada dolar Amerika Serikat (AS) saat mengelola cadangan devisa. Pada saat yang sama, emas makin dipandang sebagai alternatif yang semakin dicari di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan lanskap ekonomi global.
Temuan ini mengemuka dalam survei terbaru yang dipublikasikan Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) pada Selasa (30/6/2026) waktu setempat. Laporan tersebut kemudian diberitakan oleh CNN pada Rabu (1/7/2026).
Survei OMFIF menjangkau 74 bank sentral di seluruh dunia, dengan periode pengumpulan data dari Maret hingga Mei 2026. Fokusnya adalah strategi bank sentral terkait alokasi aset cadangan, khususnya apakah mereka berniat menambah atau mengurangi kepemilikan dalam dolar AS.
Hasilnya menunjukkan pergeseran yang cukup signifikan: untuk pertama kalinya sejak survei mengenai strategi investasi bank sentral dimulai pada 2023, jumlah bank sentral yang berencana mengurangi kepemilikan aset dalam dolar AS dalam satu dekade ke depan lebih banyak dibandingkan yang ingin menambah kepemilikannya.
Perubahan sikap itu dibaca sebagai respons terhadap meningkatnya persepsi risiko politik terhadap mata uang AS. Dalam laporan OMFIF, faktor geopolitik disebut menjadi pendorong utama yang membuat bank sentral menahan diri untuk menambah eksposur terhadap dolar.
Kondisi tersebut terjadi di tengah konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah, yang menurut laporan sebagian dipicu oleh keterlibatan AS. Dampaknya meluas hingga mengganggu pasar energi global, sehingga ketidakpastian menjadi semakin terasa bagi pergerakan ekonomi dan kebijakan keuangan.
Di luar dinamika regional, arah kebijakan luar negeri AS juga digambarkan semakin sulit ditebak. OMFIF menyinggung bahwa Presiden AS Donald Trump kembali mencari berbagai cara untuk menerapkan tarif baru, yang dinilai menegaskan kecenderungan kebijakan yang volatil.
“Tahun ini, geopolitik telah melampaui lingkungan politik AS dalam menghambat investasi pada dolar, mencerminkan persepsi mengenai peran Amerika Serikat dalam meningkatkan risiko geopolitik,” demikian isi laporan OMFIF.
Dengan latar tersebut, laporan OMFIF menangkap lanjutan tren dedollarisasi, yakni berkurangnya penggunaan dolar AS dalam perdagangan internasional maupun transaksi keuangan global. Pergantian preferensi ini berpotensi menurunkan permintaan terhadap mata uang AS, yang pada akhirnya dapat menekan nilainya dalam jangka panjang.
Untuk memperkuat argumen, OMFIF mengutip data dari JPMorgan. Menurut rujukan tersebut, porsi dolar AS dalam cadangan devisa bank sentral dunia telah turun ke level terendah dalam dua dekade pada tahun lalu.
Meskipun demikian, OMFIF menilai dominasi dolar belum akan tergeser dalam waktu dekat. Artinya, meskipun kecenderungan pengurangan eksposur makin terlihat, dolar AS tetap menjadi komponen penting dalam portofolio cadangan bank sentral global.
Kepala Riset OMFIF Andrea Correa menjelaskan kepada CNN bahwa selama lima tahun terakhir dolar AS masih menyumbang sekitar 58 persen dari total alokasi portofolio cadangan devisa bank sentral. Pernyataan ini menegaskan bahwa transisi menuju aset lain tidak terjadi secara instan, melainkan berlangsung bertahap.
Secara keseluruhan, survei OMFIF menggambarkan bagaimana pertimbangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan ikut memengaruhi keputusan alokasi cadangan devisa. Di tengah perubahan tersebut, emas tampil sebagai opsi yang kian menarik bagi bank-bank sentral yang ingin menata ulang risiko dalam komposisi portofolio mereka.
Survei itu memakai kerangka waktu pengumpulan data dari Maret hingga Mei 2026 dan melibatkan 74 bank sentral, sehingga gambaran yang muncul dinilai mencerminkan arah strategi mereka untuk rentang satu dekade ke depan. Dalam kerangka tersebut, pertimbangan apakah akan menambah atau justru mengurangi aset dolar menjadi ukuran utama pergeseran.
Dari sisi logika kebijakan, kecenderungan penyesuaian portofolio tersebut terutama terkait upaya bank sentral mengelola risiko yang dipicu ketidakpastian geopolitik dan dinamika kebijakan luar negeri AS. Kendati emas makin dilirik sebagai alternatif, proporsi dolar masih besar—sekitar 58 persen—yang menunjukkan perpindahan komposisi aset berjalan bertahap, bukan berubah dalam waktu singkat.












