jurnalistik.co.id – Pemulihan di pasar kerja Amerika Serikat terlihat makin tegas pada Mei 2026. Setelah perbaikan berlangsung selama bulan kedua berturut-turut, indikator permintaan tenaga kerja menunjukkan lonjakan yang tidak hanya sesaat.
Untuk bulan Mei 2026, jumlah lowongan pekerjaan tercatat mencapai hampir 7,6 juta posisi. Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam dua tahun terakhir, sekaligus menandai arah kenaikan yang berlanjut setelah April.
Data ini mengacu pada Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) yang dirilis oleh Bureau of Labor Statistics (BLS). Rilis resminya dilakukan pada Selasa (30/6/2026), lalu dilaporkan pada Rabu (1/7/2026).
Dalam rinciannya, lowongan kerja di Mei 2026 naik menjadi hampir 7,6 juta posisi. Posisi itu bergerak dari 7,59 juta pada April 2026.
Kenaikan tersebut juga menghadirkan kontras terhadap proyeksi ekonom sebelumnya. Para ekonom justru memperkirakan lowongan kerja turun hampir 10 persen, atau berada di kisaran 6,975 juta.
Keputusan pasar terhadap angka April 2026 sempat dipengaruhi anggapan bahwa kenaikan lowongan pada waktu itu hanyalah anomali. Lonjakan dipandang berpotensi melebih-lebihkan gambaran permintaan tenaga kerja.
Namun, data terbaru dari Mei 2026 memberi sinyal bahwa pola tersebut tidak berhenti sebagai lonjakan sementara. Sebaliknya, peningkatan lowongan dinilai menunjukkan pasar tenaga kerja mulai stabil dan berpotensi masuk ke fase ekspansi.
Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, menyebut bahwa perlambatan perekrutan tenaga kerja telah berakhir. Ia mengatakan, “Resesi perekrutan telah berakhir, dan kita mulai melihat lebih banyak industri kembali mencari pekerja. Itu merupakan kabar yang sangat baik,”
Long menyampaikan penilaian itu dalam wawancara, yang menyoroti perubahan perilaku perekrutan. Di bawah konteks JOLTS, perusahaan pada berbagai sektor mulai kembali menunjukkan kebutuhan tenaga kerja yang lebih nyata.
Dari sisi sektoral, JOLTS menunjukkan kenaikan lowongan kerja terjadi di sejumlah bidang. Industri rekreasi dan perhotelan, perdagangan grosir, konstruksi, serta manufaktur tercatat mengalami peningkatan.
Di saat yang sama, tidak semua sektor bergerak sejalan. Jumlah lowongan kerja justru menurun pada layanan kesehatan, keuangan, dan teknologi.
Menurut Long, perbedaan pemulihan antarindustri menjadi kunci untuk membaca hasil JOLTS tersebut. Ia menyatakan, “Ini adalah cerita tentang pihak yang menang dan yang kalah. Beberapa industri, terutama sektor-sektor yang banyak menyerap tenaga kerja lapangan, tampaknya mulai bangkit kembali, sementara sektor lain, terutama teknologi dan keuangan, masih melemah,”
Long menilai, tekanan pada sektor teknologi dan keuangan berkaitan dengan meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dalam penjelasannya, AI disebut mengurangi kebutuhan terhadap sebagian jenis pekerjaan.
Meski lowongan kerja bertambah, perusahaan belum sepenuhnya mengubah perekrutan menjadi agresif. Long menilai perusahaan mulai menyadari bahwa AI belum mampu menggantikan seluruh pekerjaan manusia, sehingga kebutuhan tenaga kerja tetap ada.
Dengan demikian, dinamika yang muncul bukan sekadar “membaik” secara merata. Perubahan justru tampak lebih terarah, di mana industri tertentu kembali membuka peluang, sementara industri lain masih menahan langkah perekrutan.
Secara keseluruhan, angka Mei 2026 memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja AS berada pada fase yang lebih stabil dibandingkan sebelumnya. Dari perspektif Heather Long, sinyal stabilitas ini dapat menjadi landasan bagi kelanjutan perekrutan, meski laju pemulihan belum seragam di seluruh sektor.
Walau sempat ada ekspektasi penyesuaian turun berdasarkan proyeksi ekonom, realisasi Mei justru menunjukkan lonjakan yang lebih kuat dari dugaan. Pergeseran ini membuat gambaran permintaan tenaga kerja tidak lagi dipandang sebagai gangguan sesaat pada data sebelumnya.
Di sisi lain, kenaikan lowongan yang terkonsentrasi pada beberapa industri memperlihatkan bahwa perusahaan mulai menata kebutuhan stafnya dengan cara yang berbeda-beda. Long menekankan bahwa penggunaan AI memang mengubah komposisi pekerjaan, tetapi belum menghapus kebutuhan tenaga manusia secara menyeluruh, sehingga perekrutan tetap berjalan namun dengan tempo yang lebih selektif.












