jurnalistik.co.id – Harga minyak dunia bergerak nyaris datar pada akhir perdagangan Selasa (30/6/2026) waktu setempat atau pagi Rabu (1/7/2026) WIB. Di balik stabilnya pergerakan harian, catatan bulanan dan kuartalan justru menunjukkan penurunan terdalam sejak awal pandemi Covid-19.
Menurut data yang dirujuk Reuters, minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun 23 sen AS atau 0,3 persen menjadi 72,92 dollar AS per barrel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,25 dollar AS atau 1,8 persen menjadi 69,50 dollar AS per barrel.
Pergerakan yang cenderung tidak banyak berubah terjadi ketika perhatian pelaku pasar tertuju pada potensi pembicaraan Amerika Serikat (AS) dan Iran di Doha, Qatar. Fokus utama pasar adalah dampak pembicaraan tersebut terhadap kelanjutan gencatan senjata sementara yang telah berlangsung selama empat bulan.
Dalam pandangan UBS, Giovanni Staunovo menilai pasar memang tetap memperhitungkan risiko geopolitik. Namun, ia melihat pasokan minyak mulai membaik seiring aktivitas pengiriman dari kawasan Teluk yang kembali lancar.
“Saya tidak akan mengatakan bahwa pasar telah menghapus premi risiko sepenuhnya. Namun kapal-kapal yang sebelumnya tertahan kini mulai beroperasi seiring meningkatnya lalu lintas pelayaran keluar dari Teluk, sehingga menciptakan tambahan pasokan sementara,” kata Staunovo.
Di sisi lain, Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak global berpotensi mengalami surplus pasokan sekitar 4,8 juta barrel per hari pada 2027. Proyeksi ini menambah perhatian terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan, terutama ketika pasar juga sedang menimbang dinamika negosiasi AS-Iran.
Harapan untuk tercapainya gencatan senjata permanen masih dibayangi ketidakpastian. Dari pihak Qatar, pejabat setempat menyebut utusan utama AS yang tiba di Doha tidak akan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari mengatakan pembahasan pada pekan ini dilakukan pada level teknis. Pembahasan itu mencakup isu keamanan kawasan, yang nantinya dapat ditingkatkan ke level pejabat senior.
Selain perkembangan diplomatik, pasar juga tetap memantau Selat Hormuz sebagai salah satu titik strategis jalur pelayaran. Selat ini disebut menjadi lintasan sebelum perang, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut.
Dari sisi teknikal, minimnya pergerakan harga membuat Brent berada pada kondisi jenuh jual (oversold) selama 13 hari berturut-turut. Untuk WTI, kondisi oversold tercatat berlangsung selama 11 hari beruntun.
Sepanjang Juni, harga Brent merosot sekitar 21 persen. Penurunan tersebut mengikuti pelemahan sekitar 19 persen pada Mei, sehingga memberi gambaran tekanan yang berlanjut hingga akhir kuartal.
Penurunan bulanan Brent pada periode ini menjadi yang terbesar sejak anjlok hingga 55 persen pada Maret 2020. Saat itu, penurunan dipicu merosotnya permintaan minyak akibat dampak pandemi Covid-19.
Memasuki kuartal II 2026, Brent juga melemah 38 persen. Angka itu datang setelah lonjakan 94 persen pada kuartal I, dan membuat penurunan kuartalan menjadi yang terdalam sejak anjlok 66 persen pada kuartal pertama 2020.
Dengan demikian, pasar menghadapi dua lapisan dinamika sekaligus. Harga harian yang relatif stabil berhadapan dengan tren penurunan bulanan dan kuartalan yang kuat, sambil menunggu kepastian perkembangan negosiasi AS-Iran di Doha serta sinyal kelanjutan pasokan di kawasan Teluk.
Dalam konteks itu, penilaian UBS juga menekankan bahwa perbaikan pasokan tidak bersifat instan, tetapi mulai terasa ketika rantai distribusi di kawasan Teluk kembali hidup. Kondisi ini dapat menahan tekanan kenaikan harga, karena setiap pemulihan aktivitas pengiriman cenderung menghadirkan tambahan pasokan sementara bagi pasar.
Di saat yang sama, proyeksi Morgan Stanley menyoroti potensi ketidakseimbangan yang lebih luas. Dengan perkiraan surplus sekitar 4,8 juta barrel per hari pada 2027, pelaku pasar akan semakin mengaitkan arah negosiasi dan sinyal pasokan dengan kemungkinan perubahan pada pola penawaran jangka panjang.
Selain menanti kelanjutan pembicaraan AS dan Iran di Doha, pasar juga tetap menempatkan faktor keamanan jalur pelayaran sebagai variabel penting. Qatar menyebut pembahasan dilakukan pada level teknis, sementara pengamatan terhadap Selat Hormuz terus berlangsung karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut.











