Internasional

Beirut Tak Boleh Disentuh, Hizbullah Ancam Serangan Balasan Langsung ke Jantung Kota Israel

0
×

Beirut Tak Boleh Disentuh, Hizbullah Ancam Serangan Balasan Langsung ke Jantung Kota Israel

Sebarkan artikel ini
Beirut Tak Boleh Disentuh, Hizbullah Ancam Balas Langsung ke Jantung Kota Israel Global 4 Juni 2026
Ilustrasi: Beirut Tak Boleh Disentuh, Hizbullah Ancam Balas Langsung ke Jantung Kota Israel

jurnalistik.co.id – Kelompok Hizbullah di Lebanon mengancam akan menyerang langsung kota-kota besar di jantung pertahanan Israel bila Tel Aviv bertindak agresif, khususnya melalui serangan udara terhadap Beirut.

Ancaman itu disampaikan sebagai respons terhadap kemungkinan tindakan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang melancarkan serangan udara ke Beirut, ibu kota Lebanon.

Dalam pernyataan itu, Hizbullah menyatakan akan langsung menyerang kota pusat seperti Tel Aviv dan Haifa jika IDF berani melancarkan serangan udara ke Beirut.

Wakil Ketua Dewan Politik Hizbullah, Mahmoud Kamati, menyampaikan hal tersebut dalam sebuah wawancara dengan media Qatar, Al Araby.

Kamati juga menggarisbawahi bahwa, menurut pandangannya, tidak ada kata kompromi untuk menghentikan perlawanan demi mengamankan wilayah tertentu saja.

“Tidak mungkin penembakan ke arah utara dihentikan sebagai imbalan agar Dahiyeh tidak diserang. Sejak awal, kampanye ini berjalan penuh, dan cakrawala tetap terbuka,” ujar Kamati.

Lebih jauh, Kamati menyebut Hizbullah akan menerapkan apa yang disebutnya sebagai “persamaan baru” dalam konflik yang sedang berlangsung, sebagaimana dilansir The Jerusalem Post, Rabu (3/6/2026).

Dalam ancaman tersebut, Hizbullah menyetarakan wilayah Dahiyeh dan Beirut di satu sisi, dengan Haifa serta Tel Aviv di sisi lainnya sebagai target balasan yang setimpal.

Respons dari Yaman juga disorot Sementara itu, Kelompok Houthi dari Yaman memperingatkan Israel akan menghadapi konsekuensi fatal jika mereka memutuskan untuk tetap bertahan dan melanjutkan serangan di Lebanon.

Anggota Biro Politik Houthi, Mohammed Alfrah, menyatakan melalui sebuah unggahan di media sosial X bahwa militer Israel harus bersiap menghadapi balasan yang konstan.

“Israel harus menyadari bahwa setiap pelanggaran akan ditanggapi dengan respons, dan tentara mereka di wilayah selatan akan tetap rentan terhadap pembunuhan setiap hari hingga penarikan mundur dilakukan,” ujar Alfrah.

Alfrah juga menilai bahwa upaya menahan diri yang sempat terjadi selama masa negosiasi sebelumnya justru menjadi celah yang dimanfaatkan oleh Israel untuk bertindak agresif.

Ia menambahkan, “Apa yang paling membangkitkan selera musuh Israel adalah periode 15 bulan ketika mereka membom Lebanon tanpa tanggapan, dan itu adalah periode negosiasi dengan otoritas Lebanon,” kata Alfrah.

Dengan rangkaian pernyataan itu, baik Hizbullah maupun Houthi menegaskan posisi masing-masing terkait eskalasi yang melibatkan Lebanon dan berbagai wilayah yang disebut sebagai sasaran balasan.

Dalam logika peringatan tersebut, Hizbullah menempatkan tindakan IDF terhadap Beirut sebagai titik pemicu yang akan mengubah eskalasi menjadi serangan balasan yang diarahkan pada wilayah pusat pertahanan dan ekonomi Israel. Poinnya, keputusan Israel dianggap menentukan batas respons.

Kamati juga menekankan sikap yang tidak memberi ruang untuk kompromi, karena menurutnya perlawanan tidak pernah dirancang sebagai upaya sesaat atau “penghentian sementara” demi melindungi area tertentu. Ia menggambarkan konflik sebagai proses yang sedang berlangsung dan terus membuka peluang pembalasan.

Selain itu, “persamaan baru” yang disinggung Hizbullah diposisikan sebagai kerangka penyeimbang dalam konflik, di mana wilayah yang disebut berkaitan dengan Dahiyeh dan Beirut ditempatkan sejajar dengan Haifa serta Tel Aviv. Dengan begitu, balasan diyakini memiliki ukuran yang setara sesuai arah serangan.

Dari pihak lain, Houthi memandang Israel tidak cukup hanya mengandalkan penahanan diri. Mohammed Alfrah menyatakan bahwa setiap pelanggaran akan memunculkan respons, sehingga pasukan Israel di bagian selatan tetap harus siap menghadapi ancaman harian yang dapat muncul lewat tindakan teror atau pembunuhan hingga ada langkah penarikan mundur.

Alfrah juga menilai bahwa jeda yang sempat terjadi saat negosiasi sebelumnya justru dimanfaatkan Israel untuk melancarkan serangan yang lebih agresif. Ia menggarisbawahi periode ketika pemboman Lebanon berlangsung selama 15 bulan tanpa tanggapan langsung, dan periode itu dikaitkan dengan fase perundingan bersama otoritas Lebanon.