jurnalistik.co.id – Serangan udara Israel di Gaza menewaskan sedikitnya enam orang, termasuk seorang jurnalis kamera Al Jazeera, menurut pejabat serta laporan petugas kesehatan dan penyelamat. Para korban dibawa ke RS Al-Shifa di Kota Gaza untuk proses pemakaman.
Dalam pernyataannya, Al Jazeera menyatakan pihaknya “strongly condemns the heinous crime of targeting and killing” terhadap koresponden mereka, Ahmed Wishah, yang meninggal akibat serangan pada rumah warga di Gaza bagian tengah, Sabtu lalu. Al Jazeera juga menilai kematian Wishah “constitutes a new and flagrant violation of all international laws and norms, and reflects a continued systematic policy of targeting journalists and silencing the voice of truth”.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menuduh Wishah sebagai “a terrorist in Hamas’ military wing who served as a sniper operative”. IDF juga menyebut, dalam beberapa bulan terakhir, Wishah telah “advanced sniper attack plans against Israeli troops, without providing evidence”.
Korban di rumah dan kamp pengungsi
Selain Wishah, dua orang lain tewas dalam serangan yang sama di rumah tersebut. Menurut keterangan rumah sakit setempat dan Badan Pertahanan Sipil yang dijalankan Hamas, kejadian terjadi di Kamp Pengungsi Bureij. IDF kemudian menuduh dua korban lain sebagai bagian dari Hamas.
Catatan lain menunjukkan, saudara Wishah, Mohamed—yang juga bekerja sebagai koresponden Al Jazeera—meninggal dalam serangan Israel pada April. IDF saat itu mengklaim Mohamed bekerja di markas produksi roket dan senjata Hamas, tanpa merinci detail lanjutan.
Di lingkungan Sabra, Kota Gaza, empat anggota keluarga dilaporkan tewas dalam serangan semalam terhadap sebuah rumah, menurut keterangan pertahanan sipil, pihak keluarga, serta rumah sakit terdekat. RS Al-Shifa menyampaikan kepada kantor berita bahwa mereka menerima jenazah keluarga tersebut, termasuk dua anak.
Medik yang berbicara kepada Reuters menyebutkan, korban dari serangan itu mencakup dua perempuan dan satu anak. Salah satu kerabat, Nael Safadi, mengatakan kepada AFP bahwa serangan terjadi sekitar pukul 02:00 waktu setempat, seraya menyatakan sepupu-sepupunya “have no connection to Hamas, nor are they involved in anything. They’re just innocent children”.
Kerabat lain, Mohammad Safadi, mempertanyakan keberlakuan gencatan senjata dengan mengajukan respons yang disampaikan kepada AP: “Is this really a ceasefire?” Ia menambahkan, “We are civilians. I never held a weapon.”
Selain rangkaian serangan di wilayah Gaza bagian tengah dan Kota Gaza, laporan juga menyebut adanya serangan di Gaza selatan dan utara. Baik Israel maupun kelompok bersenjata Palestina Hamas saling menuduh satu sama lain melanggar gencatan senjata sejak kesepakatan mulai berlaku pada Oktober.
Titik terang gencatan senjata dan kebutuhan kemanusiaan
Gaza dikendalikan Hamas, dan Kementerian Kesehatan yang dijalankan kelompok itu melaporkan bahwa sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada Oktober lalu, militer Israel telah membunuh 1.007 orang. Pernyataan angka tersebut dinilai PBB sebagai data yang dapat diandalkan.
Sementara itu, kesepakatan gencatan senjata juga mencakup janji masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar ke wilayah tersebut. Pihak PBB menyebut sekitar 81% bangunan di Gaza mengalami kerusakan, namun kelompok bantuan kemanusiaan menilai kebutuhan masih lebih besar.
Tom Fletcher, kepala badan kemanusiaan PBB, menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB pekan ini bahwa proporsi rumah tangga yang melaporkan pergi tidur dalam kondisi kelaparan turun dari 92% menjadi 36% sejak gencatan senjata, seiring masuknya lebih banyak truk bantuan. Namun ia juga menekankan bahwa 70% populasi masih membutuhkan tempat tinggal yang layak, karena kondisi sanitasi memburuk dan layanan penting berada dalam kondisi “on the brink”.
Fletcher menegaskan, “Today, Palestinians in Gaza remain deprived of the basics that you would all demand for your own families: safety, shelter, clean water, healthcare, education,”. Ia menyatakan kebutuhan ini masih belum terpenuhi secara memadai di lapangan.
Dalam ketentuan gencatan senjata, Hamas diminta untuk melucuti persenjataan dan tidak memiliki peran dalam tata kelola Gaza, namun hal tersebut “yet to happen”. Kesepakatan juga menyebut pembentukan “Board of Peace” yang terdiri dari diplomat internasional untuk mengawasi komite teknokrat Palestina yang bersifat apolitik dalam pemerintahan Gaza.
Kesepakatan tersebut juga menyatakan Israel tidak akan menduduki Gaza dan akan secara bertahap menyerahkan wilayah yang telah direbut dalam perang. Pada Mei, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan ia mengarahkan IDF untuk meningkatkan luas area Gaza di bawah kendalinya menjadi 70% dari wilayah tersebut.
Latar perang dan jumlah korban
Konflik terbaru bermula ketika pejuang yang dipimpin Hamas menyerang Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Serangan tersebut menewaskan sekitar 1.200 orang dan membawa 251 orang sandera kembali ke Gaza.
Sejak saat itu, Kementerian Kesehatan di wilayah tersebut menyebut lebih dari 73.000 orang telah terbunuh di Gaza akibat operasi militer Israel. Di tengah kerangka gencatan senjata, tuduhan saling melanggar terus muncul, sementara laporan korban dan kerentanan kemanusiaan masih bertahan dalam berbagai area di Gaza.












