Internasional

NTV dan Daily Monitor Uganda: kantor disebut berada di bawah “military siege”

×

NTV dan Daily Monitor Uganda: kantor disebut berada di bawah “military siege”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Uganda's NTV and Daily Monitor say they are under 'military siege'

jurnalistik.co.id – Dua media independen terkemuka di Uganda—NTV dan Daily Monitor—mengatakan kantor mereka berada di bawah apa yang disebut “military siege”. Klaim itu muncul setelah kepala angkatan bersenjata memerintahkan penutupan stasiun TV, surat kabar, serta radio di sejumlah tempat.

Daily Monitor menyatakan pasukan bersenjata ditempatkan di luar kantor pusatnya di ibu kota Kampala. Media tersebut menambahkan bahwa NTV dan Spark TV juga telah dikeluarkan dari siaran, sehingga layanan mereka tidak lagi berjalan seperti biasa.

Outlet-outlet tersebut tergabung dalam Nation Media Group, salah satu perusahaan media paling berpengaruh di Afrika Timur. BBC melaporkan bahwa belum jelas apa pemicu pasti langkah penertiban yang dilakukan pada awal pekan ini.

Dalam unggahan di X, Jenderal Muhoozi Kainerugaba—yang merupakan putra Presiden Yoweri Museveni—menyampaikan sikap keras terhadap kebebasan pers. Ia menulis: “I DO NOT believe in a free press! The press should be guided by cadres of the revolution.”

Kelompok oposisi dan lembaga hak asasi manusia menilai Muhoozi adalah figur sentral dalam rezim yang sangat represif di bawah kepemimpinan ayahnya. Sebaliknya, pendukung Presiden Museveni menyebut keluarga tersebut menjamin stabilitas, serta ekonomi membaik selama pemerintahan mereka.

Dalam pernyataan lain di X, Muhoozi mengatakan bahwa “great father”-nya memberinya “the power to shut down any media house I want to”. Ia juga menegaskan bahwa NTV dan Daily Monitor “would ‘not re-open without my permission’”.

Ia menutup dengan ancaman terhadap aturan yang akan diterapkan kepada ruang publik: “From now on ALL media in Uganda will follow the rules!” Pernyataan ini melengkapi langkah yang membuat media penyiaran dan pemberitaan sulit beroperasi.

Daily Monitor menyebut penutupan itu sebagai “crackdown during the wee hours of Sunday”. Media tersebut juga menambahkan detail yang dilaporkan stafnya, yakni “no-one was allowed to enter or leave the compound”, sementara penonton NTV Uganda dan Spark TV melihat layar kosong dengan pesan “video unavailable”.

Daily Monitor juga mengaitkan peristiwa saat ini dengan pengalaman serupa di masa lalu. Surat kabar itu menyatakan pernah digeledah polisi pada 2013 terkait publikasi surat yang diduga menghubungkan pejabat pemerintah senior dengan rencana suksesi yang dijuluki “Muhoozi Project”. Sementara itu, NTV disebut pernah dipaksa berhenti siaran pada 2007 setelah pemerintah menuduh pemberitaan media tersebut bersifat negatif.

Lebih jauh, artikel BBC yang memuat laporan ini juga menuliskan bahwa Museveni berulang kali mengkritik Daily Monitor, termasuk ketika ia menyebutnya sebagai “enemy and evil newspaper” terkait jurnalisme yang dinilai kritis.

Di sisi lain, Uganda’s National Broadcasters Association mengatakan akan meminta penjelasan kepada pemerintah terkait penghentian siaran. Mereka menilai langkah itu melanggar Konstitusi.

Bob i Wine—kandidat presiden dari kubu oposisi yang kini hidup dalam pengasingan—menyatakan Muhoozi telah “moved to silence Uganda’s remaining independent voices”. Ia menambahkan: “This is the harsh reality we now face, a country under open military rule, where fear replaces law and force replaces accountability,” dalam unggahan di X.

Menjelang pemilu Januari yang sengit dan diperebutkan, Muhoozi sempat memicu kemarahan publik. Ia menulis ancaman yang kemudian dihapus, terkait perlakuan kepada Bobi Wine, dan selama proses pemilu, demonstrasi oposisi juga dilaporkan terganggu. Dalam beberapa insiden, aparat keamanan disebut membuka tembakan.

Pada konteks pemilu tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan pemilihan berlangsung dalam “environment marked by widespread repression and intimidation against the political opposition”. Sementara pejabat penyelenggara pemilu menyebut proses berjalan bebas dan adil.

Muhoozi juga sempat membuat pernyataan lain yang dinilai kontroversial, termasuk ancaman “to castrate opposition leader” serta klaim keturunan dari Yesus. Di mata pengkritik, rangkaian pernyataan dan tindakan terhadap media independen menegaskan bahwa situasi yang berlangsung berorientasi pada kontrol ketat, bukan kebebasan pers.

Presiden Museveni sendiri berusia 81 tahun. Ia merupakan mantan pemimpin pemberontak yang mengambil alih kekuasaan sekitar 40 tahun lalu. Ia memenangkan masa jabatan ketujuh yang juga disebut rekor dalam pemilihan yang diperselisihkan pada Januari, dengan spekulasi luas bahwa ia menyiapkan putranya untuk menggantikan suatu hari nanti.

Meski demikian, hingga laporan ini diturunkan, alasan rinci dari penertiban terhadap NTV, Daily Monitor, dan stasiun terkait masih belum dijelaskan secara memadai. Yang muncul justru sinyal kuat dari pernyataan Muhoozi mengenai pembatasan total terhadap media, termasuk penegasan bahwa “From now on ALL media in Uganda will follow the rules!”.