jurnalistik.co.id – Brebes, Jawa Tengah, masih menyimpan cerita tentang momen nyaris kehilangan uang bernilai Rp3,6 miliar. Kliwon Alwawan, pemilik uang yang menjadi target pencurian bermodus pecah kaca, memilih untuk memaknai kejadian itu melalui kebaikan yang datang dari pihak lain.
Kejadian tersebut berawal saat Kliwon menghadapi upaya pencurian yang mengincar mobilnya di wilayah Brebes. Dalam proses yang nyaris berujung musibah, Kusmiah—yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir—berhasil membantu menggagalkan aksi yang dialami Kliwon.
Setelah peristiwa pada Senin (15/6/2026) itu, perhatian publik kemudian tertuju pada Kusmiah. Di tengah sorotan warganet selama beberapa hari terakhir, Kusmiah menjadi sosok yang disebut berhasil mencegah uang milik Kliwon hilang.
Atas kejadian tersebut, Kliwon memberikan imbalan berupa uang sebesar Rp100.000 kepada Kusmiah. Namun, menurut Kliwon, pemberian itu tidak berhenti pada satu orang penerima.
Kusmiah justru membagikan uang Rp100.000 itu kepada tiga orang lain yang turut membantu menyelamatkan uang Kliwon. Dengan begitu, masing-masing pihak menerima Rp25.000.
Setelah kabar tentang pemberian Rp100.000 kepada Kusmiah menjadi perbincangan, Kliwon menegaskan bahwa niat baiknya untuk mengantarkan Kusmiah beribadah umrah tidak muncul karena viralnya perbincangan di media sosial. Ia menyatakan, langkah tersebut berangkat dari rasa terima kasih yang tulus.
“Bukan karena uangnya. Saya dan keluarga merasa ditolong dengan sangat ikhlas,” ujar Kliwon dengan nada penuh haru. Ia juga menambahkan, “Bu Kusmiah tidak mengenal kami, tapi beliau berani mengambil risiko demi membantu orang lain.”
Kliwon mengaku masih sulit melupakan peristiwa ketika uang miliaran rupiahnya hampir hilang. Dalam ingatannya, kepanikan dan ketegangan yang menyertai momen tersebut menjadi pengalaman yang melekat, sehingga mendorongnya untuk segera mencari Kusmiah setelah kejadian.
Diceritakan, sehari setelah peristiwa itu terjadi, Kliwon langsung meminta adiknya untuk mencari alamat Kusmiah. Baginya, mencari Kusmiah bukan sekadar urusan komunikasi, melainkan bentuk perhatian atas pertolongan yang pernah ia terima.
Mengenai keputusan mengajak Kusmiah menunaikan ibadah ke Tanah Suci, Kliwon menepis anggapan bahwa langkah tersebut lahir setelah publik menyoroti imbalan Rp100.000. Ia menyampaikan bahwa saat kejadian ia sedang dalam kondisi gentar.
“Saat itu saya panik dan gemetar. Saya baru saja mengalami kejadian yang luar biasa. Jadi bukan berarti saya hanya ingin memberi Rp 100.000,” ungkap Kliwon.
Ikhlas mengantarkan ke umrah
Kliwon menuturkan bahwa inti dari tindakannya bukanlah besaran uang imbalan, melainkan rasa yang tumbuh karena merasa tertolong. Ia menggambarkan bahwa keluarganya merasakan pertolongan itu sebagai sesuatu yang layak dibalas dengan niat baik, termasuk melalui rencana keberangkatan ibadah.
Keputusan tersebut kemudian diwujudkan dengan mendatangi Kusmiah secara langsung. Kusmiah sendiri mengaku sempat tidak menyangka akan mendapatkan tawaran berangkat umrah dari Kliwon.
Dalam pertemuan yang berlangsung di rumah Kusmiah, Kliwon datang bersama istrinya. Mereka menyambangi rumah Kusmiah di Kecamatan Jatibarang pada Kamis (18/6/2026) untuk bersilaturahmi sekaligus menyampaikan niat tersebut.
Menurut Kusmiah, ia terkejut saat mendengar tawaran umrah itu. Reaksi tersebut menunjukkan bahwa ia tidak pernah membayangkan tindakan yang ia lakukan ketika kejadian berlangsung akan berujung pada kesempatan menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Meski demikian, cerita ini kemudian berkembang bukan sebagai sekadar kisah viral, melainkan sebagai pengingat bahwa pertolongan bisa datang dari siapa saja dan dapat membentuk rangkaian kebaikan setelahnya. Di sisi lain, Kliwon menegaskan bahwa tindakannya hanyalah kelanjutan dari rasa terima kasih yang ia simpan setelah mengalami momen yang hampir membuat uangnya raib.
Dengan penuh penekanan pada ketulusan, Kliwon menyampaikan bahwa rencana umrah untuk Kusmiah tidak ditentukan oleh ramainya perhatian publik. Ia mengarahkan fokus pada rasa yang sama-sama ia rasakan: perasaan ditolong dan perasaan berani mengambil risiko demi membantu orang lain.
Begitulah, di Brebes, kisah yang bermula dari upaya pencurian bermodus pecah kaca berujung pada niat keberangkatan ibadah umrah. Di tengah jarak waktu setelah peristiwa Senin (15/6/2026), pertemuan pada Kamis (18/6/2026) menjadi bukti bahwa pertolongan yang lahir dari keberanian dapat berbalas dengan niat yang ikhlas.












