Bisnis & Ekonomi

Imbal Hasil Obligasi AS Makin Landai, Ekonom Peringatkan Risiko ke Rupiah

×

Imbal Hasil Obligasi AS Makin Landai, Ekonom Peringatkan Risiko ke Rupiah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kurva Obligasi AS Makin Datar, Ekonom Soroti Risiko ke Rupiah - Market

jurnalistik.co.id – Pasar obligasi Amerika Serikat menunjukkan gejala yang semakin “datar” melalui pergerakan selisih imbal hasil. Selisih yield Treasury dengan tenor 10 tahun dan 2 tahun menyempit hingga 17 basis poin, sekaligus menjadi level terendah sejak awal 2025.

Indikasi tersebut membuat perhatian pelaku pasar mengarah pada dua kemungkinan yang saling terkait. Pertama, kurva imbal hasil berpotensi bergerak menuju kondisi terbalik (inverted yield curve). Kedua, penguatan sinyal tersebut turut memunculkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi AS.

Dari perspektif ekonom, perubahan kurva seperti ini dapat merembet ke kondisi keuangan kawasan, terutama lewat jalur nilai tukar dan biaya pendanaan. Yusuf Rendy Manilet, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), menilai dinamika ini berpotensi memengaruhi ekonomi Indonesia melalui penguatan dolar dan kenaikan biaya dana.

Menurut Yusuf, ketika imbal hasil Treasury berada pada level yang tinggi, aliran preferensi investor cenderung bergerak menjauh dari aset berisiko. Ujungnya, dana global lebih memilih instrumen berbasis dolar, yang pada gilirannya memberi tekanan pada pasar domestik.

“Ketika Treasury menawarkan imbal hasil yang tinggi, investor global cenderung mengurangi aset berisiko dan memindahkan dana ke dolar. Tekanan ini dapat melemahkan rupiah, mendorong kenaikan yield SBN, serta meningkatkan biaya pendanaan pemerintah dan perbankan,” kata Yusuf kepada Bloomberg Technoz, Senin (28/9/2026).

Yusuf menambahkan, bila situasi seperti itu berlangsung lebih lama, dampak lanjutan bisa menjalar sampai ke sektor riil melalui jalur kredit. Bunga kredit berpotensi ikut mengalami kenaikan, sehingga konsumsi, investasi, dan ekspansi usaha dapat melambat.

Meski demikian, ia juga menekankan bahwa risiko arus dana keluar (capital outflow) tetap terbuka. Potensi tersebut terutama terlihat pada pasar saham dan instrumen keuangan berjangka pendek yang umumnya lebih sensitif terhadap perubahan sentimen global.

Di sisi lain, Yusuf menilai Indonesia memiliki ketahanan yang berbeda dibanding satu dekade lalu. Ia menyebut pasar SBN saat ini semakin ditopang investor domestik, sehingga guncangan dari luar tidak sepenuhnya menentukan arah pasar.

Dengan demikian, kombinasi sinyal kurva imbal hasil AS yang makin datar, kemungkinan terjadinya inverted yield curve, serta potensi tekanan melalui dolar menjadi perhatian utama. Sementara itu, kekuatan dukungan domestik pada instrumen SBN menjadi faktor penyeimbang yang layak dicermati dalam menilai seberapa besar risiko tersebut benar-benar tertransmisi ke biaya pendanaan dan aktivitas ekonomi.

Pergerakan selisih imbal hasil yang semakin menyempit itu juga dibaca sebagai penilaian ulang pelaku pasar terhadap prospek suku bunga ke depan. Ketika perbedaan imbal hasil antar tenor mengecil, pasar cenderung mengurangi ekspektasi terhadap laju pemulihan, sehingga fokus investasi ikut bergeser menjadi pengelolaan risiko jangka pendek.

Dalam konteks transmisi ke dalam negeri, jalur yang disorot adalah kombinasi antara perubahan preferensi investor global dan efek turunannya pada mata uang. Ketika dana lebih banyak diarahkan ke instrumen berbasis dolar, tekanan pada rupiah dapat muncul, yang kemudian berdampak pada pergerakan imbal hasil surat utang negara serta menekan kondisi biaya pendanaan. Dampaknya dapat terasa baik pada sektor publik maupun perbankan melalui kenaikan ongkos pendanaan.

Yusuf juga memberi batasan penting bahwa dinamika arus dana tidak selalu bergerak searah. Potensi pelepasan dana tetap dapat terjadi, terutama pada pasar yang lebih cepat bereaksi terhadap perubahan sentimen global, seperti saham dan instrumen keuangan berjangka pendek. Namun, ia menilai adanya peran penopang dari investor domestik pada pasar SBN saat ini membuat sensitivitas terhadap guncangan eksternal tidak sepenuhnya sama seperti satu dekade lalu, sehingga transmisi risiko ke aktivitas ekonomi bisa lebih terkendali bila dukungan domestik tetap kuat.