Internasional

Perselisihan Donasi Membebani Reform UK, Insiders Minta Perubahan Pendekatan

×

Perselisihan Donasi Membebani Reform UK, Insiders Minta Perubahan Pendekatan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Reform UK winded by donations row as insiders call for shift in approach

jurnalistik.co.id – Konferensi Reform UK di Birmingham sedang berada dalam suasana yang tidak nyaman setelah Channel 4 News menyiarkan rekaman penyamaran yang berdampak langsung pada dua petinggi partai. Di dalam lingkungan internal, percakapan berulang kembali pada konsekuensi yang kini membayangi agenda mereka, meski belum sepenuhnya selesai.

Seorang figur senior Reform UK, yang mengakui situasinya secara pribadi, menggambarkan kondisi partai dengan kalimat, “We are still a bit of a pirate ship,”. Ia kemudian menekankan bahwa daya tarik Reform selama ini terkait citra berani tampil beda, tetapi pada saat yang sama membutuhkan penyeimbang di lapangan.

Ia menambahkan, “A key part of the appeal of us is the sense of us being cavaliers. Doing things differently. Standing out.” Namun, menurutnya, keberhasilan jangka panjang juga mensyaratkan disiplin yang lebih rutin dengan menyebut kebutuhan tambahan, “But we need roundheads too. Those who ask the boring questions. Do the checks. We need more of them too,”.

Jika menilik perjalanan Reform dalam 12 bulan terakhir, gambaran tersebut sering diringkas dalam tiga kata: “defections, elections and money”. Perubahan keanggotaan melalui pindah kubu memang menjadi pendorong pertumbuhan, termasuk masuknya mantan menteri kabinet dari Konservatif, Robert Jenrick dan Suella Braverman.

Perolehan suara juga datang melalui jalur elektoral. Reform mencatat kemenangan dalam pemilihan lokal di Inggris, sekaligus meraih hasil dalam pemilihan parlemen terdesentralisasi di Wales dan Skotlandia.

Tetapi uang menjadi latar yang tidak kalah menentukan suasana konferensi ini. Di berbagai percakapan, pertanyaan seputar dana bahkan mengemuka sebelum Channel 4 News dan upaya “Verbatim Investigations” disiarkan pada Kamis malam.

Dalam jam-jam sebelum tayangan, sejumlah petinggi Reform—termasuk pihak yang secara langsung tertangkap dalam rekaman—cenderung terlihat lebih tenang. Namun setelah siaran, situasi berubah cepat, dengan munculnya kemarahan dan kesadaran bahwa dampaknya tidak bisa diremehkan.

Satu sumber menjelaskan suasana itu dengan cara yang menggambarkan pergeseran mendadak, “A few bottles of red were had, and we knew we had to act,”. Percakapan kemudian berlanjut hingga dini hari, memperlihatkan bahwa persoalan ini tidak hanya menyangkut momen konferensi, tetapi juga cara publik membaca karakter partai.

Hal pertama yang memicu amarah adalah potensi siaran tersebut “dapat menenggelamkan” konferensi yang telah dipersiapkan berbulan-bulan. Hal kedua adalah kekhawatiran luas tentang kesan yang ditinggalkan: Reform ingin tampil sebagai partai yang layak memerintah, tetapi liputan membuat lawan dapat menuding mereka tidak hanya amatir, melainkan juga memiliki pola aktivitas yang tampak menabrak hukum.

Respons Nigel Farage tegas. Ia menegaskan, “Absolutely not, Nigel Farage insisted to me, there was no such pattern.” Meski begitu, di ruang diskusi internal, pertanyaan lebih jauh muncul mengenai budaya operasional mereka, karena dalam politik, karakter pimpinan sering dianggap membentuk cara kerja organisasi.

Catatan itu sejalan dengan pandangan jurnalis Tim Shipman dari The Spectator yang menulis, “it is the experience of everyone I have ever known near the summit of politics that political operations take their character and operating logic from the person at the apex of the triangle. Leaders set culture.” Narasi ini lantas dipakai untuk mendorong refleksi: apakah pengalaman yang terjadi pada era tertentu akan muncul dengan pola serupa di bawah kepemimpinan yang berbeda.

Di kubu Reform sendiri, ada dorongan agar terjadi pergeseran budaya yang bergerak lebih cepat untuk menekan peluang memalukan berikutnya. Selain itu, sebagian pihak juga menginginkan peningkatan pada infrastruktur dan personel agar cara kerja tidak lagi bergantung pada gaya yang selama ini dikenal komunikatif dan berani mengambil langkah berbeda.

Dalam internal, ada juga kekhawatiran bahwa permintaan tersebut datang lebih cepat dibanding apa yang diyakini telah mereka lakukan. Dua nama yang disebut akan sangat dirasakan kehilangan perannya adalah James Orr, kepala kebijakan, dan Dan Jukes, orang kepercayaan dekat Nigel Farage.

Namun, ada pula pertanyaan apakah Orr suatu saat bisa kembali. Sementara itu, Jukes yang berperan penting dan loyal di “Team Farage” sejak bertahun-tahun juga disebut telah membagi waktu antara Inggris dan Amerika Serikat, karena istri dan bayinya berada di seberang Atlantik. Dalam suasana itu, ada dugaan bahwa masa depannya mungkin akan lebih dekat ke Amerika, termasuk apakah ia baru kembali ketika pemilihan umum semakin dekat.

Dengan konferensi yang ditinggalkan dalam keadaan “winded and wounded by the last few days,” fokus kini bergeser ke bagaimana Reform menangani dan merespons peristiwa dalam beberapa minggu dan bulan ke depan. Dari cara mereka menggambarkan kebutuhan akan “roundheads” dan langkah budaya yang lebih rapi, terlihat jelas bahwa persoalan donasi dan pemberitaan penyamaran telah menjadi ujian sekaligus pemicu perubahan yang mereka harapkan segera terjadi.