jurnalistik.co.id – Pergerakan nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini bergerak tidak seragam. Sebagian mata uang justru menguat, sementara yang lain masih menghadapi tekanan, termasuk rupiah.
Pada perdagangan terakhir pekan, Jumat (23/10/2026), rupiah mencatat pemulihan tipis sebesar 0,03% dan menutup perdagangan di level Rp18.040/US$. Meski begitu, capaian penguatan di akhir pekan belum cukup mengubah gambaran kinerja mingguan rupiah.
Menurut data Refinitiv, mata uang Garuda masih melemah 0,22% terhadap dolar AS selama periode sepekan. Perlemahan rupiah tidak hanya berkaitan dengan perkembangan ekonomi global, tetapi juga dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia.
Salah satu pemicu sentimen yang masih membayangi pasar datang dari pengumuman MSCI mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Markets menjadi Standalone Market. Pengumuman itu mendorong aksi jual lebih agresif di pasar saham domestik, khususnya oleh investor asing, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan arus dana asing ke Indonesia.
Ketika investor asing melakukan penjualan saham dan menarik dananya dari pasar domestik, kebutuhan terhadap dolar AS dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberi tekanan tambahan pada rupiah.
Meski demikian, perubahan klasifikasi oleh MSCI masih berada pada tahap konsultasi dan belum berstatus keputusan final. Artinya, pasar masih menilai arah kebijakan dan dampak yang akan muncul berikutnya.
Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) juga mempertahankan suku bunga acuannya. Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Oktober 2026, BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75%, dengan pertimbangan bahwa tekanan dari pasar keuangan global maupun domestik belum sepenuhnya mereda.
Lima mata uang melemah, peso Filipina menjadi yang tertekan
Gambaran yang lebih luas pada mata uang Asia menunjukkan komposisi yang berimbang, namun tekanan tidak sama kuatnya. Berdasarkan data Refinitiv, dari 10 mata uang yang dipantau, lima di antaranya melemah terhadap dolar AS dan lima lainnya menguat.
Peso Filipina tercatat sebagai yang berkinerja paling lemah setelah turun sekitar 1,01% sepanjang pekan. Pada penutupan Jumat (23/10/2026), nilai tukar peso berada di level PHP63,561/US$, sekaligus membawa mata uang Filipina kembali ke posisi terendah sepanjang sejarahnya.
Tekanan pada peso terkait dengan tingginya harga minyak dunia yang meningkatkan biaya impor energi Filipina. Di tengah kondisi tersebut, Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) sebelumnya menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin menjadi 5,50% pada Kamis (22/10/2026).
Kenaikan tersebut lebih besar dibanding perkiraan pasar yang hanya mengantisipasi penambahan 25 basis poin. Namun, langkah pengetatan suku bunga ternyata belum mampu menghentikan tekanan terhadap nilai tukar peso.
Selain peso, baht Thailand juga mengalami tekanan yang cukup dalam dengan pelemahan 0,96% sepanjang pekan menjadi THB33,75/US$. Dolar Taiwan menyusul dengan turun 0,44% ke level TWD32,571/US$. Ringgit Malaysia melemah 0,10% ke posisi MYR4,083/US$, sementara rupiah justru terkoreksi lebih dalam sebesar 0,22% ke Rp18.040/US$.
Penguatan dipimpin won, yen ikut terapresiasi
Berita Terkait
Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan performa terbaik karena menguat 0,79% sepanjang pekan menjadi KRW1.323,6/US$. Yen Jepang mengikuti dengan kenaikan 0,72% ke level JPY156,86/US$.
Penguatan yen muncul ketika investor mulai mencari aset yang dinilai lebih aman di tengah aksi jual saham-saham teknologi AS. Sementara itu, yuan China menguat 0,24% ke posisi CNY6,6702/US$.
Dong Vietnam turut mencatat kenaikan 0,19% ke level VND25.840/US$, sedangkan dolar Singapura menguat tipis 0,13% menjadi SGD1,2779/US$.
Dolar AS kehilangan tenaga: DXY melemah tipis
Variasi pergerakan mata uang Asia sepanjang pekan juga terjadi saat dolar AS tidak menunjukkan arah yang kuat. Berdasarkan data Refinitiv, indeks dolar AS (DXY) ditutup di posisi 101,810 pada Jumat (23/10/2026), atau melemah tipis 0,03% secara mingguan.
Kondisi DXY yang cenderung datar menggambarkan adanya tarik-menarik sentimen pada pasar keuangan global. Pada awal pekan, dolar AS sempat mendapatkan dukungan dari meningkatnya kekhawatiran terkait kondisi politik dan fiskal di Eropa, khususnya Prancis.
Gelombang demonstrasi dan kerusuhan di Prancis membuat investor makin khawatir terhadap kemampuan pemerintah negara tersebut dalam menangani persoalan anggaran serta utang. Situasi itu menekan euro dan, secara tidak langsung, memberi sokongan terhadap dolar AS.
Namun, kekuatan dolar AS kemudian berkurang saat perhatian investor beralih ke perkembangan pasar saham dan obligasi Amerika Serikat. Investor mulai mempertanyakan apakah besarnya investasi perusahaan teknologi AS untuk pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) benar-benar akan menghasilkan keuntungan sesuai harapan.
Kepala Strategi Valuta G10 Nomura, Dominic Bunning, menilai kenaikan harga energi sebenarnya dapat mendukung dolar AS karena berpotensi menjaga suku bunga tetap tinggi. Tetapi, dampaknya bisa berubah jika level suku bunga justru mulai mengancam bisnis serta investasi di sektor AI.
“Kenaikan harga energi menguntungkan dolar, tetapi jika suku bunga naik begitu tinggi hingga menghantam perdagangan saham AI, dampaknya tiba-tiba bisa menjadi negatif,” ujar Bunning, dikutip dari Reuters.
Kekhawatiran tersebut terasa semakin kuat menjelang akhir pekan. Pada Kamis (22/10/2026), aksi jual saham-saham teknologi AS kembali meningkat, sehingga investor mulai beralih ke obligasi pemerintah AS yang dianggap lebih aman.
Meningkatnya permintaan terhadap obligasi mendorong harga surat utang naik dan membuat imbal hasil turun. Ketika imbal hasil menurun, aset berdenominasi dolar menjadi relatif kurang menarik, sehingga dukungan terhadap mata uang AS turut melemah.
Di saat yang sama, yen Jepang justru mendapat dorongan karena sebagian investor memilih perpindahan ke mata uang yang dipandang lebih aman ketika ketidakpastian pasar saham meningkat. Analis Senior Valuta MUFG, Lee Hardman, menyebut penguatan yen pada akhir pekan didukung oleh meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.
“Yen terus diperdagangkan pada level yang lebih kuat menjelang akhir pekan, didorong oleh kondisi perdagangan yang semakin menghindari risiko,” ujar Hardman, dikutip dari Reuters.












