Daerah

Blackout di Sumatera Jadi Alarm Penguatan Transmisi

0
×

Blackout di Sumatera Jadi Alarm Penguatan Transmisi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Blackout Sumatera Harus Jadi Alarm Penguatan Transmisi

jurnalistik.co.id – SUMATERA — Blackout di Sumatera menjadi pengingat penting bahwa penguatan jaringan transmisi tidak bisa lagi dipandang sebagai pekerjaan pelengkap. Di wilayah dengan sistem interkoneksi lintas provinsi, keandalan transmisi menjadi penopang utama agar gangguan pada satu titik tidak langsung meluas ke banyak daerah.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai perhatian terhadap kelistrikan selama ini kerap lebih banyak tertuju pada pembangkit. Padahal, menurut dia, transmisi memiliki peran yang sama vitalnya karena menjadi jalur utama penyaluran listrik dari satu titik ke titik lain.

“Pembangkit sering menjadi perhatian utama, padahal transmisi memegang peran vital karena menjadi jalur utama penyaluran listrik,” ujar Agus, Kamis (28/5/2026).

Pandangan itu menggarisbawahi bahwa persoalan kelistrikan tidak berhenti pada ketersediaan energi, tetapi juga pada kemampuan jaringan membawa daya secara aman dan stabil. Dalam sistem yang saling terhubung, transmisi yang kuat dibutuhkan agar distribusi listrik tetap terjaga ketika terjadi gangguan teknis di salah satu bagian jaringan.

Agus mengatakan pengembangan jaringan transmisi di Sumatera, termasuk pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kilovolt (kV), sudah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru. Langkah ini disebut penting untuk memperkuat interkoneksi kelistrikan Sumatera yang membentang lintas provinsi.

Namun, ia menilai proyek transmisi berskala besar tidak selalu mudah dijalankan. Kendala yang muncul kerap bukan hanya soal teknis pembangunan, melainkan juga menyangkut pembebasan lahan, penyesuaian tata ruang, perizinan lintas wilayah, hingga komunikasi dengan masyarakat di sekitar jalur transmisi.

“Pembangunan transmisi tidak hanya persoalan teknis. Ada proses pembebasan lahan, penyesuaian tata ruang, perizinan lintas wilayah, hingga komunikasi dengan masyarakat di sekitar jalur transmisi yang semuanya membutuhkan waktu dan koordinasi,” katanya.

Dalam konteks itu, blackout yang terjadi di Sumatera menjadi semacam alarm bahwa infrastruktur pendukung harus dipersiapkan dengan lebih serius. Tanpa transmisi yang andal, sistem interkoneksi yang luas justru berisiko membuat gangguan kelistrikan menyebar lebih cepat dan berdampak lebih besar.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa penguatan jaringan tidak cukup hanya lewat penambahan kapasitas pembangkit. Jalur penyaluran listrik, termasuk transmisi bertegangan tinggi, perlu mendapat porsi perhatian yang sepadan agar sistem kelistrikan di wilayah itu benar-benar mampu bekerja secara stabil.

Di sisi lain, tantangan pengembangan jaringan di Sumatera juga menunjukkan pentingnya koordinasi lintas pihak. Proyek yang melintasi banyak daerah menuntut sinkronisasi antara kebutuhan teknis, aturan tata ruang, proses perizinan, dan kesiapan sosial di lapangan. Tanpa itu semua, pembangunan bisa tersendat meski kebutuhan infrastrukturnya sudah jelas.

Karena itu, blackout di Sumatera bukan sekadar peristiwa padamnya listrik dalam waktu tertentu. Lebih dari itu, peristiwa tersebut menegaskan bahwa ketahanan sistem kelistrikan bergantung pada rantai infrastruktur yang utuh, mulai dari pembangkit hingga transmisi dan distribusi. Jika salah satu elemen rapuh, maka dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat luas.

Agus menekankan bahwa pembangunan transmisi memang membutuhkan waktu, tetapi justru di situlah urgensinya. Semakin besar dan terhubung sebuah sistem kelistrikan, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap jaringan yang kuat, andal, dan mampu menahan gangguan agar tidak berkembang menjadi blackout yang lebih luas.

Dengan demikian, penguatan transmisi layak ditempatkan sebagai bagian inti dari strategi ketenagalistrikan, bukan sekadar pelengkap di belakang pembangunan pembangkit. Saat jaringan penyaluran disiapkan lebih kokoh, sistem listrik memiliki ruang pemulihan yang lebih baik ketika terjadi gangguan di lapangan.

Pada akhirnya, pelajaran dari blackout di Sumatera menunjukkan bahwa keandalan listrik hanya bisa dibangun jika seluruh mata rantai infrastruktur diperlakukan sebagai satu kesatuan. Perhatian yang seimbang terhadap pembangkit, transmisi, dan distribusi menjadi kunci agar layanan listrik di wilayah yang saling terhubung tetap stabil dan tidak mudah terdampak gangguan beruntun.