jurnalistik.co.id – BMKG mencatat dua gempa tektonik mengguncang Bukittinggi, Sumatera Barat, pada Sabtu (18/7/2026). Lembaga tersebut menyatakan peristiwa itu bersifat dangkal, dipicu aktivitas Sesar Sianok, serta tidak berpotensi tsunami.
Wilayah Bukittinggi mengalami guncangan dua kali dalam rentang waktu kurang dari dua jam pada pagi hingga siang hari. Getaran tersebut muncul berturut-turut, dan hingga berita ini disusun belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan.
Dua gempa tektonik berturut-turut
Menurut BMKG, kedua kejadian berhubungan dengan aktivitas Sesar Sianok. Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang Suaidi Ahadi menjelaskan bahwa gempa yang terjadi merupakan gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas Sesar Sianok.
Gempa pertama terjadi pada pukul 10.10 WIB dengan magnitudo 2,9. Pusat gempa berada sekitar 6 kilometer barat laut Bukittinggi pada kedalaman 7 kilometer.
Hampir dua jam kemudian, tepatnya pukul 11.58 WIB, gempa kedua kembali mengguncang wilayah tersebut. Magnitudo tercatat 3,0 dengan episenter sekitar 4 kilometer barat laut Bukittinggi dan kedalaman 10 kilometer.
Berdasarkan peta guncangan (shakemap) BMKG, kedua gempa dirasakan di Bukittinggi dengan intensitas II-III MMI. Pada skala itu, getaran biasanya dapat dirasakan banyak orang di dalam rumah, dengan efek seperti benda-benda ringan yang digantung ikut bergoyang.
Getaran digambarkan menyerupai kondisi ketika sebuah truk besar melintas. Pergerakan seperti itu membuat benda-benda ringan ikut berayun, meski tidak selalu diikuti dampak kerusakan.
Aktivitas Marapi dinilai tidak terganggu
Meski kondisi disebut aman dan terkendali, perhatian warga sempat meningkat karena Bukittinggi tidak jauh dari Gunung Marapi. Saat kejadian berlangsung, Gunung Marapi berada pada status Level II (Waspada).
Berita Terkait
Di tengah kekhawatiran tersebut, petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi Ahmad Rifandi menegaskan bahwa dua gempa tektonik di Bukittinggi tidak memengaruhi aktivitas vulkanik Gunung Marapi. Ia mengatakan, “Dua gempa tektonik yang terjadi di Bukittinggi sejauh ini tidak berdampak pada aktivitas Gunung Marapi,”
Ahmad menjelaskan bahwa secara teori gempa tektonik memang dapat memengaruhi sistem gunung api. Namun, dampaknya tidak selalu muncul secara langsung, sehingga tidak setiap getaran yang terjadi di wilayah sekitar otomatis berarti ada perubahan aktivitas vulkanik.
Ia menambahkan bahwa erupsi umumnya dipicu oleh pergerakan magma menuju permukaan. Proses tersebut biasanya ditandai munculnya gempa-gempa vulkanik yang berhubungan dengan pergerakan di dalam sistem gunung api.
Sementara itu, menurut Ahmad, gempa tektonik disebabkan oleh pergerakan sesar atau patahan bumi. Ia menegaskan perbedaan pemicu tersebut dengan kalimat, “Kalau erupsi biasanya dipengaruhi oleh pergerakan magma ke permukaan yang ditandai dengan gempa-gempa vulkanik. Sedangkan gempa tektonik itu biasanya disebabkan oleh pergerakan sesar (patahan bumi),” ujarnya.
Imbauan tetap waspada terhadap gempa susulan
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan. Meski dua gempa yang terjadi tidak menunjukkan indikasi mengarah pada tsunami, kewaspadaan tetap dibutuhkan untuk menghadapi kemungkinan getaran lanjutan.
Pos PGA Marapi juga bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kembali mengingatkan warga dan wisatawan agar mematuhi rekomendasi radius bahaya Gunung Marapi. Masyarakat diminta tidak memasuki kawasan terlarang di sekitar kawah aktif gunung tersebut.
Dengan status waspada yang masih berlaku, langkah pencegahan di sekitar area berisiko menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan harian. Imbauan itu diarahkan agar aktivitas pemantauan dapat berjalan lancar dan keselamatan warga tetap menjadi prioritas.
Hingga berita ini disusun, BMKG menekankan bahwa dua gempa tersebut bersifat dangkal dan tidak berpotensi memicu tsunami, sehingga masyarakat diminta tetap mengikuti arahan resmi serta tidak terpancing kepanikan.
Dengan Gunung Marapi yang masih berstatus Level II (Waspada), petugas juga terus mengingatkan pentingnya mematuhi rekomendasi radius bahaya dan menjaga kesiapsiagaan jika sewaktu-waktu terjadi gempa susulan.












